Opini

HIKMAT KEBIJAKSANAAN

Oleh : luska - Kamis, 04/06/2026 00:42 WIB


Ketika Kecerdasan Saja Tidak Lagi Cukup Dari Bharatayuddha, Confucius, Tjokroaminoto, hingga Pancasila

Jakarta, 2 Juni 2026

Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol '86'

PENDAHULUAN

Kita hidup pada zaman yang sangat menghargai kecerdasan.

Anak yang memperoleh nilai tertinggi dianggap pintar.

Mahasiswa yang lulus dengan predikat terbaik dianggap berhasil.

Ilmuwan yang menemukan teknologi baru dihormati.

Perusahaan berlomba mencari orang-orang paling cerdas.

Negara-negara besar menginvestasikan dana yang sangat besar untuk pendidikan, penelitian, teknologi, dan kecerdasan buatan.

Seolah-olah dunia telah mencapai kesepakatan bahwa semakin cerdas manusia, semakin baik masa depan yang akan tercipta.

Namun ketika kita melihat kehidupan dengan lebih jujur, muncul pertanyaan yang mengusik.

Mengapa dunia yang semakin pintar masih dipenuhi konflik?

Mengapa korupsi masih dilakukan oleh orang-orang berpendidikan tinggi?

Mengapa orang yang memahami hukum masih melanggar hukum?

Mengapa orang yang rajin beribadah masih dapat dipenuhi iri hati, kesombongan, dan keserakahan?

Mengapa bangsa yang maju secara teknologi belum tentu menjadi bangsa yang bijaksana?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membawa saya pada perjalanan panjang untuk memahami manusia.

Perjalanan itu membawa saya kepada psikologi modern, filsafat Yunani, ajaran Confucius, kisah Bharatayuddha, agama-agama besar dunia, petuah Jawa, pemikiran Tjokroaminoto, hingga akhirnya kembali kepada Pancasila.

Dan semakin jauh perjalanan itu berlangsung, semakin saya menemukan satu kenyataan yang menarik.

Masalah terbesar manusia ternyata bukan kekurangan kecerdasan.

Masalah terbesar manusia adalah ketidakmampuan mengendalikan dirinya sendiri.

IQ: KETIKA MANUSIA MULAI MENGUKUR KECERDASAN

Pada awal abad ke-20, seorang psikolog Perancis bernama Alfred Binet memperkenalkan metode untuk mengukur kemampuan intelektual manusia.

Tujuan awalnya sederhana.

Membantu mengidentifikasi kemampuan belajar anak-anak di sekolah.

Dari sinilah lahir konsep yang kemudian dikenal sebagai Intelligence Quotient atau IQ.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, manusia mencoba mengukur kecerdasan secara sistematis.

IQ mengukur kemampuan berpikir logis, kemampuan memahami hubungan sebab akibat, kemampuan matematika, kemampuan bahasa, dan kemampuan memecahkan masalah.

Dunia pendidikan kemudian mengadopsi konsep ini secara luas.

Semakin tinggi nilai IQ seseorang, semakin besar kemungkinan ia mampu memahami persoalan yang rumit.

Tidak dapat disangkal bahwa IQ telah memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia.

Berkat kecerdasan intelektual, manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Albert Einstein mengubah cara manusia memahami ruang dan waktu.

Isaac Newton meletakkan fondasi ilmu fisika modern.

Nikola Tesla melahirkan berbagai inovasi yang mengubah dunia kelistrikan.

Di Indonesia, B.J. Habibie menjadi simbol bagaimana kecerdasan intelektual dapat membawa anak bangsa berdiri sejajar dengan para ilmuwan dunia.

Pesawat terbang, komputer, internet, satelit, dan kecerdasan buatan adalah buah dari kemampuan intelektual manusia.

Tanpa IQ, peradaban modern tidak akan mencapai tingkat kemajuan seperti sekarang.

Namun sejarah juga menunjukkan sesuatu yang menarik.

Tidak semua orang pintar menjadi bijaksana.

Tidak semua orang cerdas menjadi pemimpin yang baik.

Tidak semua orang berilmu menggunakan ilmunya untuk kebaikan.

Ada ilmuwan yang membantu menciptakan senjata pemusnah massal.

Ada pejabat yang sangat memahami sistem tetapi menggunakan pengetahuannya untuk korupsi.

Ada orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi tetapi gagal mengendalikan keserakahan dan ambisinya.

Di sinilah kita mulai melihat keterbatasan IQ.

IQ memberi kemampuan.

Tetapi IQ tidak otomatis memberi arah.

IQ membuat manusia mampu melakukan sesuatu.

Tetapi tidak selalu menjawab apakah sesuatu itu sebaiknya dilakukan.

Dan dari sinilah perjalanan pencarian manusia berlanjut.

 CONFUCIUS DAN JALAN KEBAJIKAN

Sekitar lima abad sebelum Masehi, di Tiongkok lahir seorang pemikir besar bernama Confucius.

Berbeda dengan banyak pemikir lain yang berbicara tentang kekuasaan, strategi perang, atau cara mengalahkan lawan, Confucius lebih banyak berbicara tentang karakter manusia.

Ia percaya bahwa negara yang baik tidak lahir dari hukum yang banyak.

Negara yang baik tidak lahir dari tentara yang kuat.

Negara yang baik tidak lahir dari kekayaan yang melimpah.

Negara yang baik lahir dari manusia-manusia yang memiliki kebajikan.

Bagi Confucius, pemimpin bukan pertama-tama soal jabatan.

Pemimpin adalah soal keteladanan.

Jika pemimpin jujur, rakyat akan belajar kejujuran.

Jika pemimpin disiplin, rakyat akan belajar disiplin.

Jika pemimpin serakah, rakyat akan belajar keserakahan.

Karena itu Confucius selalu menempatkan kebajikan di atas kekuasaan.

Pemikiran ini menarik.

Karena ribuan tahun kemudian, dunia modern masih bergulat dengan persoalan yang sama.

Mengapa banyak sistem yang baik gagal?

Mengapa banyak program yang baik tidak berjalan?

Mengapa banyak kebijakan yang baik tidak menghasilkan kebaikan?

Sering kali jawabannya bukan terletak pada sistemnya.

Tetapi pada manusianya.

Karena sistem yang baik dapat dirusak oleh manusia yang buruk.

Sebaliknya, manusia yang baik sering mampu memperbaiki sistem yang kurang sempurna.

PETUAH JAWA DAN KEARIFAN NUSANTARA

Semakin saya membaca berbagai ajaran kebijaksanaan Nusantara, semakin saya menyadari bahwa leluhur bangsa ini sebenarnya telah meninggalkan warisan pemikiran yang sangat dalam.

Sayangnya, banyak di antaranya hanya menjadi ungkapan yang dihafal tanpa lagi direnungkan maknanya.

Salah satunya adalah:

"Sepi ing pamrih, rame ing gawe."

Kalimat sederhana ini mengandung kebijaksanaan yang luar biasa.

Bekerja dengan sungguh-sungguh.

Tetapi tidak haus pujian.

Berkarya dengan sungguh-sungguh.

Tetapi tidak selalu menuntut penghargaan.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi pencitraan, ajaran ini terasa semakin relevan.

Petuah lain mengatakan:

"Ajining diri dumunung ana ing lathi."

Harga diri seseorang terletak pada ucapannya.

Artinya integritas seseorang terlihat dari kata-katanya.

Dari kemampuannya memegang janji.

Dari kesesuaian antara ucapan dan tindakan.

Ada pula ajaran:

"Wani ngalah luhur wekasane."

Berani mengalah akan memperoleh kemuliaan pada akhirnya.

Kalimat ini sering disalahpahami sebagai kelemahan.

Padahal tidak.

Mengalah dalam ajaran ini bukan berarti menyerah.

Mengalah berarti mampu mengendalikan ego.

Mampu menahan diri ketika memiliki kesempatan untuk membalas.

Mampu memilih kedamaian ketika memiliki alasan untuk bertengkar.

Dan mungkin petuah Jawa yang paling dekat dengan tema tulisan ini adalah:

"Menang tanpa ngasorake."

Menang tanpa merendahkan lawan.

Betapa indahnya ajaran ini.

Karena kemenangan sejati bukanlah ketika orang lain jatuh.

Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu mempertahankan kehormatan diri tanpa menghancurkan martabat orang lain.

Jika direnungkan lebih dalam, bukankah semua ajaran ini sebenarnya berbicara tentang hal yang sama?

Pengendalian diri.

Kerendahan hati.

Kebajikan.

Dan kebijaksanaan.

PENCARIAN PANJANG MANUSIA

Ketika saya melihat perjalanan manusia dari berbagai sudut peradaban, muncul sebuah kesadaran yang menarik.

Yunani melalui Socrates berbicara tentang mengenal diri sendiri.

India melalui Bharatayuddha berbicara tentang peperangan melawan hawa nafsu dan ego.

Tiongkok melalui Confucius berbicara tentang kebajikan.

Agama-agama besar berbicara tentang pengendalian diri.

Nusantara melalui petuah-petuahnya berbicara tentang kerendahan hati dan keseimbangan hidup.

Bahasanya berbeda.

Budayanya berbeda.

Zamannya berbeda.

Tetapi arah yang dituju hampir sama.

Semuanya sedang berbicara tentang manusia.

Tentang bagaimana manusia mengelola dirinya sendiri.

Tentang bagaimana manusia menggunakan kekuatan, ilmu, dan kesempatan yang dimilikinya.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa persoalan terbesar manusia bukan terletak pada kurangnya pengetahuan.

Persoalan terbesar manusia sering kali terletak pada penggunaan pengetahuan tersebut.

Karena ilmu dapat digunakan untuk membangun.

Tetapi ilmu juga dapat digunakan untuk menghancurkan.

Kekuasaan dapat digunakan untuk melayani.

Tetapi kekuasaan juga dapat digunakan untuk menindas.

Uang dapat digunakan untuk menolong.

Tetapi uang juga dapat digunakan untuk merusak.

Maka pertanyaannya bukan lagi:

Seberapa pintar seseorang?

Tetapi:

Untuk apa kepintaran itu digunakan?

Bukan:

Seberapa besar kekuasaan seseorang?

Tetapi:

Bagaimana kekuasaan itu digunakan?

Dan bukan:

Seberapa tinggi kedudukan seseorang?

Tetapi:

Apakah kedudukan itu membuatnya semakin bijaksana?

Dari sinilah saya mulai melihat adanya satu unsur yang selama ini jarang dibahas secara khusus.

Unsur yang mungkin menjadi jembatan antara kecerdasan, spiritualitas, ketangguhan, dan karakter manusia.

Unsur itu saya sebut:

MQ.

Moral Quotient.

 MQ: KETIKA KARAKTER MENJADI PENENTU

Selama lebih dari satu abad, manusia terus berusaha memahami dirinya.

Lahir IQ untuk mengukur kecerdasan.

Lahir EQ untuk memahami emosi.

Lahir SQ untuk mencari makna hidup.

Lahir AQ untuk menjelaskan ketangguhan menghadapi kesulitan.

Semuanya memberikan sumbangan besar bagi perkembangan manusia.

Namun semakin saya merenungkan perjalanan sejarah, semakin saya melihat bahwa ada sesuatu yang masih kurang.

Banyak orang yang cerdas.

Banyak orang yang mampu memahami perasaan orang lain.

Banyak orang yang religius.

Banyak orang yang tangguh.

Namun tidak sedikit yang tetap gagal mengendalikan dirinya sendiri.

Ada orang yang sangat cerdas tetapi korup.

Ada orang yang sangat religius tetapi penuh kebencian.

Ada orang yang sangat tangguh tetapi menggunakan ketangguhannya untuk tujuan yang salah.

Ada orang yang pandai berbicara tentang moral tetapi gagal menjalankannya.

Mengapa?

Karena mengetahui yang benar tidak selalu berarti mampu melakukan yang benar.

Di sinilah saya melihat pentingnya apa yang saya sebut sebagai Moral Quotient atau MQ.

MQ adalah kemampuan mengendalikan diri ketika memiliki kesempatan untuk melakukan sebaliknya.

MQ adalah kemampuan mengendalikan ego ketika ego ingin berkuasa.

MQ adalah kemampuan mengendalikan keserakahan ketika kesempatan terbuka lebar.

MQ adalah kemampuan mengendalikan ambisi ketika ambisi mulai melampaui batas.

MQ adalah kemampuan mengendalikan kekuasaan agar tetap digunakan untuk melayani.

Karena sesungguhnya ujian manusia tidak terjadi ketika ia tidak memiliki apa-apa.

Ujian manusia justru terjadi ketika ia memiliki banyak hal.

Ketika memiliki uang.

Ketika memiliki jabatan.

Ketika memiliki kekuasaan.

Ketika memiliki pengaruh.

Ketika memiliki kesempatan.

Pada saat itulah karakter yang sesungguhnya mulai terlihat.

Mungkin karena itulah banyak tokoh besar dunia dikenang bukan hanya karena kecerdasannya.

Nelson Mandela dikenang karena kemampuannya memaafkan.

Mahatma Gandhi dikenang karena kesederhanaannya.

Abraham Lincoln dikenang karena integritasnya.

B.J. Habibie dikenang bukan hanya karena kejeniusannya, tetapi juga karena kesetiaan, kerendahan hati, dan kecintaannya kepada bangsa.

Pada akhirnya manusia tidak hanya diukur dari apa yang diketahuinya.

Tetapi juga dari bagaimana ia menggunakan apa yang diketahuinya.

TJOKROAMINOTO DAN TIGA ARUS BESAR BANGSA

Ketika merenungkan hubungan antara karakter, moralitas, dan masa depan bangsa, pikiran saya kembali kepada sosok H.O.S. Tjokroaminoto.

Namanya mungkin tidak selalu disebut sebanyak Soekarno atau Hatta.

Namun pengaruhnya terhadap perjalanan bangsa Indonesia sangat besar.

Dari lingkungan pemikiran dan pendidikan yang dibangunnya lahir tokoh-tokoh yang kemudian memengaruhi arah sejarah Indonesia.

Soekarno.

Kartosuwiryo.

Musso.

Tiga tokoh.

Tiga jalan.

Tiga gagasan besar.

Soekarno membawa gagasan nasionalisme.

Kartosuwiryo membawa gagasan negara Islam.

Musso membawa gagasan sosialisme dan komunisme.

Mereka belajar pada lingkungan yang sama.

Mereka hidup pada zaman yang sama.

Mereka memiliki kemampuan berpikir yang luar biasa.

Namun mereka memilih arah yang berbeda.

Fakta ini memberikan pelajaran yang sangat penting.

Bahwa kecerdasan tidak otomatis menentukan tujuan hidup seseorang.

Bahwa ilmu tidak otomatis menentukan arah perjuangan seseorang.

Yang menentukan adalah nilai.

Yang menentukan adalah keyakinan.

Yang menentukan adalah cara seseorang memandang kehidupan.

Mungkin warisan terbesar Tjokroaminoto bukanlah ideologi.

Melainkan kesadaran.

Kesadaran bahwa perjuangan harus memiliki dasar moral.

Kesadaran bahwa kekuasaan harus memiliki tujuan.

Kesadaran bahwa manusia tidak boleh hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Karena pada akhirnya bangsa tidak hanya membutuhkan orang pintar.

Bangsa membutuhkan manusia yang memiliki karakter.

Bangsa membutuhkan manusia yang memiliki kebajikan.

Bangsa membutuhkan manusia yang memiliki hikmat.

Dan dari sinilah saya mulai memahami mengapa para pendiri bangsa memilih satu frasa yang sangat menarik dalam Pancasila.

Bukan kecerdasan.

Bukan kekuatan.

Bukan mayoritas.

Bukan kekuasaan.

Tetapi:

"Hikmat Kebijaksanaan."


 ISQ: KESADARAN MANUSIA YANG UTUH

Setelah mengikuti perjalanan panjang berbagai pemikiran manusia, saya mulai memahami bahwa setiap konsep kecerdasan sebenarnya lahir untuk menjawab kebutuhan zamannya.

IQ mengajarkan manusia berpikir.

EQ mengajarkan manusia memahami sesama.

SQ mengajarkan manusia mencari makna hidup.

AQ mengajarkan manusia bertahan menghadapi kesulitan.

MQ mengingatkan manusia untuk mengendalikan dirinya sendiri.

Namun kehidupan nyata tidak pernah berjalan secara terpisah-pisah.

Seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan IQ.

Seorang guru tidak hanya membutuhkan EQ.

Seorang tokoh agama tidak hanya membutuhkan SQ.

Seorang pejuang tidak hanya membutuhkan AQ.

Dan seorang manusia tidak cukup hanya memiliki MQ.

Kehidupan menuntut semuanya hadir secara bersamaan.

Di sinilah saya melihat pentingnya apa yang saya sebut sebagai Integrated Strategic Quotient atau ISQ.

ISQ bukan pengganti IQ.

Bukan pengganti EQ.

Bukan pengganti SQ.

Bukan pengganti AQ.

Dan bukan pengganti MQ.

ISQ adalah kemampuan menyatukan semuanya.

Kemampuan menggunakan kecerdasan secara benar.

Kemampuan mengelola emosi secara sehat.

Kemampuan menemukan makna hidup.

Kemampuan bertahan dalam kesulitan.

Kemampuan menjaga moralitas dan integritas.

Kemudian mengarahkan seluruh kemampuan itu untuk tujuan yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri.

Karena manusia yang utuh bukanlah manusia yang hanya pintar.

Manusia yang utuh adalah manusia yang mampu menempatkan kecerdasannya dalam kebijaksanaan.

PENUTUP

Semakin saya merenungkan perjalanan berbagai peradaban, semakin saya menemukan bahwa pertanyaan terbesar manusia ternyata tidak pernah berubah.

Dari Yunani Kuno hingga Nusantara.

Dari Bharatayuddha hingga dunia modern.

Dari Confucius hingga para pendiri bangsa Indonesia.

Pertanyaannya tetap sama.

Bagaimana manusia menggunakan kekuatan yang dimilikinya?

Bagaimana manusia menggunakan ilmu yang dimilikinya?

Bagaimana manusia menggunakan kekuasaan yang dimilikinya?

Dan yang lebih penting lagi.

Bagaimana manusia mengendalikan dirinya sendiri?

Socrates menjawab:

"Kenalilah dirimu sendiri."

Bharatayuddha mengajarkan bahwa peperangan terbesar terjadi di dalam diri manusia.

Confucius mengajarkan pentingnya kebajikan.

Agama-agama besar mengajarkan pengendalian diri, kasih, amanah, dharma, dan kebijaksanaan.

Petuah Jawa mengajarkan:

Sepi ing pamrih, rame ing gawe.

Wani ngalah luhur wekasane.

Menang tanpa ngasorake.

Tjokroaminoto menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa arah moral dapat membawa manusia ke jalan yang berbeda-beda.

Dan para pendiri bangsa Indonesia meninggalkan warisan yang sangat berharga dalam Pancasila.

Warisan itu bukan sekadar sistem politik.

Bukan sekadar dasar negara.

Tetapi sebuah pengingat tentang hakikat manusia.

Karena mereka tidak memilih kata:

kecerdasan,

kekuatan,

mayoritas,

atau kekuasaan.

Mereka memilih:

"Hikmat Kebijaksanaan."

Mungkin karena mereka memahami sesuatu yang sering dilupakan oleh manusia modern.

Bahwa kecerdasan tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan kesombongan.

Bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan penindasan.

Bahwa kekayaan tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan keserakahan.

Bahwa kemajuan tanpa kebijaksanaan dapat kehilangan arah.

Dan bahwa peradaban tanpa kebijaksanaan pada akhirnya dapat kehilangan jiwanya.

Sebab bangsa yang kehilangan kekayaan masih dapat bangkit.

Bangsa yang kehilangan teknologi masih dapat belajar.

Bangsa yang kehilangan kekuasaan masih dapat berjuang.

Tetapi bangsa yang kehilangan Hikmat Kebijaksanaan akan kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar menguntungkan.

Dan ketika sebuah bangsa tidak lagi mampu membedakan keduanya, di situlah awal kemunduran sebuah peradaban.

Jakarta, 2 Juni 2026

Brigjen Purn. MJP Hutagaol '86'

Artikel Lainnya