Jakarta, INDONEWS.ID - Bagi sebagian orang, pensiun adalah akhir dari perjalanan pengabdian. Namun, bagi Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI), masa purnabakti justru menjadi awal dari bentuk pengabdian yang berbeda.
Gagasan itu mengemuka dalam Musyawarah Nasional (Munas) XV PWRI yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (25/7). Setelah melalui seluruh rangkaian sidang organisasi, forum yang dihadiri lebih dari 500 peserta dari berbagai organisasi pensiunan aparatur sipil negara (ASN) serta perwakilan PWRI dari 35 provinsi itu akhirnya memilih Dr. Burhanuddin Abdullah sebagai Ketua Umum PWRI periode 2026–2031 secara aklamasi.
Keputusan tersebut disambut tepuk tangan panjang peserta. Tidak ada voting. Tidak ada perdebatan yang berkepanjangan. Seluruh peserta menyepakati Burhanuddin Abdullah sebagai nahkoda baru organisasi yang menaungi sekitar 3,6 juta wredatama di seluruh Indonesia.
Bagi PWRI, terpilihnya Burhanuddin bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan harapan baru agar pengalaman, jejaring, dan kapasitas para pensiunan ASN tetap menjadi kekuatan bangsa.
Burhanuddin Abdullah bukan nama baru dalam dunia kebijakan publik Indonesia. Ekonom senior kelahiran Garut itu pernah memimpin Bank Indonesia sebagai Gubernur pada 2003–2008, setelah sebelumnya berkarier panjang di bank sentral sebagai peneliti, ekonom, hingga Deputi Gubernur. Ia juga pernah dipercaya menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian ad interim serta aktif dalam berbagai lembaga strategis nasional dan internasional. Reputasinya sebagai ekonom dengan pengalaman panjang dalam tata kelola kebijakan publik menjadikan sosoknya dikenal luas, baik di dalam maupun di luar negeri.
Ketua Panitia Munas XV PWRI, Rusdianto, BcIP., S.H., M.Hum., mengaku bersyukur seluruh rangkaian Munas berlangsung lancar dan menghasilkan keputusan yang diterima seluruh peserta.
"Alhamdulillah, Munas XV PWRI berlangsung aman, tertib, nyaman, dan penuh suasana kekeluargaan. Seluruh peserta menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi sehingga proses pemilihan dapat berlangsung secara aklamasi. Ini menjadi kebahagiaan bagi kami semua karena keputusan lahir dari musyawarah dan kesepakatan bersama," kata Rusdianto.
Menurut mantan Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM itu, keberhasilan Munas bukan hanya memilih ketua umum baru, tetapi juga memperlihatkan soliditas organisasi yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi para purnabakti aparatur negara.
Rusdianto menegaskan, PWRI akan terus memperjuangkan kepentingan para pensiunan ASN, termasuk mendorong agar pembinaan aparatur negara tidak berhenti setelah memasuki masa pensiun.
"Pengalaman, integritas, dan jejaring para wredatama merupakan aset bangsa. Negara tetap membutuhkan kontribusi mereka dalam berbagai bidang pembangunan."
Sementara itu, Ketua Seksi Publikasi dan Media Munas XV PWRI, Drs. Asri Hadi, M.A., menilai amanah besar kini berada di pundak Burhanuddin Abdullah.
"Harapan seluruh keluarga besar PWRI kini berada di pundak Bapak Burhanuddin Abdullah. Beliau adalah sosok yang amanah, memiliki pengalaman panjang mengelola institusi negara, serta memahami pentingnya menjaga organisasi tetap relevan menghadapi perubahan zaman. Kami optimistis, di bawah kepemimpinan beliau, PWRI akan semakin kuat dan memberi manfaat yang lebih besar bagi bangsa."
Menurut Asri Hadi, PWRI bukan sekadar organisasi pensiunan ASN. Di dalamnya berhimpun jutaan sumber daya manusia yang pernah mengelola negara sebagai birokrat, guru, dosen, hakim, diplomat, tenaga kesehatan, aparat penegak hukum, hingga profesional di berbagai bidang.
"Pengalaman mereka adalah modal sosial yang sangat besar. Indonesia membutuhkan kebijaksanaan, keteladanan, dan pengalaman para wredatama untuk ikut mengawal pembangunan nasional," ujarnya.
Meningkatnya angka harapan hidup dan bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia, menurut Asri, menjadikan PWRI memiliki posisi strategis dalam mendorong konsep active ageing, yakni lansia yang tetap sehat, produktif, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Munas XV PWRI pun berakhir dalam suasana penuh keakraban. Tidak hanya melahirkan kepemimpinan baru, tetapi juga menegaskan kembali semangat bahwa pengabdian kepada negara tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan ruang kerjanya.
Bagi jutaan anggota PWRI, masa pensiun bukanlah akhir perjalanan. Ia hanyalah babak baru untuk terus mengabdi kepada Indonesia.
