Jakarta, INDONEWS.ID-Lionel Messi masuk dari bangku cadangan pada menit 60 saat Yordania mulai menipiskan skor menjadi 1-2.
Pelatih Lionel Scaloni sekolah mau menunjukkan kemarahan kepada Yordania lantaran mampu mencetak gol balasan.
Messi dimasukkan untuk menggertak anak-anak Yordania agar tidak bikin ulah terhadap tim peraih trofi juara Piala Dunia 2022.
Messi pun satang ke lapangan tak hanya gertak tapi dengan gol khas yang ia ledakkan dari titik bola mati alias tendangan bebas.
Jika ini adalah Piala Dunia terakhir Lionel Messi, ia tampaknya bertekad untuk mengakhiri kariernya dengan memecahkan setiap rekor yang bisa diraihnya.
Gol keenamnya dalam tiga laga di Piala Dunia ini membuat dia menjadi pemain pertama dalam turnamen yang mencetak gol dalam tujuh pertandingan berturut-turut.
Golnya di laga sekaligus mengunci kemenangan Argentina 3-1 lawan Yordania yang ternyata tak semudah prediksi sebelumnya.
Di pertandingan ini pelatih Lionel Scaloni juga menemukan solusi serangan baru, lewat sosok Giovani Lo Celso dan Lautaro Martínez.
Keduanya turut mencetak gol masing-masing menyumbang satu gol.
Secara peringat rangking FIFA, terdapat selisih 72 peringkat di klasemen FIFA antara Argentina dan Yordania.
Namun pertandingan ini berlangsung jauh lebih ketat daripada yang diharapkan Argentina, terutama setelah babak pertama.
Argentina memulai pertandingan dengan gemilang, dan Giovani Lo Celso nyaris mencetak gol pembuka pada menit ketujuh.
Ia menyelesaikan serangkaian umpan yang apik, namun gelandang Real Betis itu dinyatakan offside tipis oleh wasit garis dan diamini wasit utama.
Namun, Celso tak perlu menunggu lama untuk mencetak gol.
Dengan Argentina menguasai bola hampir 90 persen dalam 14 menit pertama, Lo Celso melepaskan tendangan keras yang melesat melewati Yazeed Abulaila.
Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa kiper Yordania seharusnya bisa melakukan penyelamatan yang lebih baik. Namun itu tak dapat disangkal bahwa kualitas tendangan Lo Celso.
Dominasi Argentina di babak pertama terus berlanjut, saat mereka mengubah keunggulan penguasaan bola menjadi serangkaian peluang dari situasi bola mati.
Pada salah satu dari dua tendangan sudut mereka, pasukan Scaloni mendapat peluang lagi ketika Marcos Senesi.
Situasi ini memancing pelanggaran yang berujung penalti saat mencoba menyundul bola.
Lautaro Martínez yang didaulat jadi eksekutor, dengan tenang mengeksekusi penalti tersebut pada menit ke-31. Argentina unggul 2-0.
Tertinggal 2-0, Yordania merespon dan mulai menemukan ritme permainan setelah babak kedua.
Itu membuat Argentina was-was dan tim asuhan Scaloni bekerja jauh lebih keras dari yang diperkirakan.
Pelatih Yordania, Jamal Sellami, lalu melakukan penyegaran dengan memasukkan Mousa Tamari dan Mahmoud Al Mardi.
Hasilnya, Jamal langsung memberikan dampak. Saat pertahanan Argentina tampak lengah, Yordania melancarkan serangan balik.
Tamari mencetak gol untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1.
Setelah 10 menit yang menegangkan bagi La Albiceleste, Scaloni mengeluarkan kartu asnya dengan memasukkan Messi pada menit ke-60.
Dan, seperti biasanya, sang legenda tidak mengecewakan. Setelah 20 menit yang relatif sepi, Messi mendapat tendangan bebas.
La Pulga mendapat bola mati pada jarak ideal. Ia elepaskan tendangan rendah yang meluncur melewati Abulaila untuk menambah keunggulan Argentina.
Dengan gol tersebut, Argentina menjadi tim pertama sejak tim Jepang pada 2010 yang mencetak dua gol dari tendangan bebas dalam satu pertandingan.
Hasil 3-1 ini cukup untuk memastikan fase grup yang sempurna bagi tim asuhan Scaloni.
Berikut mereka akan menghadapi Cape Verde dalam kondisi yang di atas kertas berpotensi menang.