Jakarta, INDONEWS.ID - Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menegaskan Pakta Pertahanan Bersama Mekkah yang melibatkan Turki, Arab Saudi, dan Pakistan tidak ditujukan untuk menghadapi Iran ataupun negara tertentu lainnya.
Pernyataan itu disampaikan Fidan setelah ketiga negara menandatangani perjanjian pertahanan bersama di Mekkah, Arab Saudi, pada Jumat (7/8/2026). Pakta tersebut mendapat perhatian karena memiliki klausul pertahanan bersama yang secara teknis disebut menyerupai Pasal 5 NATO.
“Tidak ada ancaman bersama yang kami tuangkan secara tertulis,” kata Fidan kepada Anadolu Agency, Sabtu (8/8).
Menurut Fidan, perjanjian tersebut tidak menargetkan negara mana pun yang tidak menyerang salah satu negara anggota.
“Aliansi ini tidak dapat memiliki perselisihan dengan negara mana pun kecuali suatu negara diserang, baik dari dalam maupun luar kawasan,” ujarnya.
Fidan mengatakan pembahasan mengenai pembentukan pakta tersebut sebenarnya telah berlangsung selama beberapa waktu, bahkan sebelum perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Berorientasi Pertahanan
Fidan menekankan bahwa kerja sama pertahanan antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan bersifat defensif, bukan ofensif.
Ia mengatakan ketiga negara tidak memiliki kebijakan ekspansionis dan lebih berfokus pada perlindungan wilayah, kepentingan nasional, serta pembangunan masing-masing.
“Mereka adalah negara-negara yang peduli dengan perbatasan mereka sendiri, masalah mereka sendiri, dan pembangunan mereka,” kata Fidan.
Menurut dia, ketiga negara juga ingin memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan regional melalui hubungan baik dan prinsip bertetangga.
Fidan sebelumnya juga menyatakan bahwa kerja sama keamanan regional seharusnya bersifat inklusif dan tidak menciptakan blok baru. Ia mengatakan tujuan kerja sama tersebut adalah membangun solidaritas regional dan meningkatkan kepercayaan antarnegara.
Serupa Pasal 5 NATO
Pakta Mekkah menjadi sorotan karena memuat prinsip pertahanan bersama. Berdasarkan perjanjian tersebut, serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara anggota akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Prinsip itu secara teknis serupa dengan Pasal 5 NATO, meskipun bentuk respons terhadap serangan dapat ditentukan melalui konsultasi dan tidak secara otomatis berarti seluruh anggota harus melakukan tindakan militer yang sama.
Fidan mengatakan mekanisme tersebut dirancang untuk memperkuat keamanan bersama di antara negara-negara anggota.
Perjanjian itu juga membuka kemungkinan perluasan keanggotaan. Fidan menyebut Mesir sebagai salah satu negara yang berpotensi bergabung setelah persoalan teknis diselesaikan.
Ditandatangani di Tengah Ketegangan Regional
Pakta tersebut ditandatangani ketika ketegangan keamanan di Timur Tengah masih tinggi, termasuk akibat konflik Amerika Serikat dan Iran serta ketegangan di kawasan Teluk.
Kondisi itu membuat pembentukan aliansi pertahanan baru mendapat perhatian luas. Namun, pemerintah Turki menegaskan pakta tersebut tidak dirancang untuk membentuk kubu yang ditujukan terhadap negara tertentu.
Fidan mengatakan pembicaraan mengenai kerja sama pertahanan telah berlangsung sebelum konflik Amerika Serikat dan Iran sehingga pembentukan pakta tidak semata-mata merupakan respons terhadap perang tersebut.
Sebelumnya, Fidan juga menyerukan agar negara-negara kawasan membangun arsitektur keamanan regional yang tidak didominasi satu kekuatan tertentu. Menurut dia, kerja sama regional seharusnya dibangun atas dasar kepercayaan dan solidaritas.
Saudi dan Pakistan Perkuat Pertahanan Bersama
Pakta Mekkah memperluas kerja sama pertahanan yang sebelumnya telah dibangun antara Arab Saudi dan Pakistan.
Bagi Arab Saudi, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keamanan di tengah meningkatnya ancaman regional. Sementara bagi Pakistan dan Turki, kesepakatan itu memperluas koordinasi pertahanan dengan salah satu negara ekonomi dan militer utama di kawasan Teluk.
Perjanjian tersebut juga menetapkan mekanisme koordinasi melalui pertemuan berkala para pejabat pertahanan dan luar negeri serta rencana pembentukan sekretariat permanen di Arab Saudi.
Meski memiliki mekanisme pertahanan bersama yang menyerupai NATO, Fidan menegaskan pakta tersebut tidak dibentuk untuk menghadapi Iran atau negara tertentu lainnya.
“Tidak ada ancaman bersama” yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut, kata Fidan.
Dengan penegasan itu, Ankara berupaya memastikan pembentukan aliansi pertahanan baru di Mekkah tidak dipandang sebagai pembentukan blok regional untuk menghadapi Teheran, melainkan sebagai instrumen kerja sama pertahanan di antara negara-negara anggotanya.