Opini

SABDO PALON: KETIKA YANG KEMBALI BUKAN SOSOK, MELAINKAN KESADARAN ARSITEKTUR KESADARAN NUSANTARA

Oleh : luska - Jum'at, 28/08/2026 19:24 WIB


SABDO PALON: KETIKA YANG KEMBALI BUKAN SOSOK, MELAINKAN KESADARAN ARSITEKTUR KESADARAN NUSANTARA

Penulis : Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol


Jakarta, 28 Agustus 2026


PENGANTAR


Nusantara mewariskan banyak kisah tentang perubahan zaman.


Sebagiannya bersumber dari sejarah, sebagian hidup dalam sastra, legenda, dan tradisi lisan. Karena itu semuanya tidak boleh dicampurkan seolah-olah merupakan fakta sejarah yang sama.


Namun setelah sejarah dan legenda ditempatkan pada ruangnya masing-masing, muncul pertanyaan yang menarik:


Adakah pesan kesadaran yang menghubungkan semuanya?



JAYABAYA — MEMBACA ZAMAN


Jayabaya adalah Raja Kediri abad ke-12. Berabad-abad kemudian namanya sangat kuat dikaitkan dengan tradisi Jangka Jayabaya.


Tidak semua “ramalan Jayabaya” yang beredar sekarang dapat dipastikan berasal langsung dari sang raja.


Karena itu yang lebih penting bukan menunggu ramalannya terbukti, melainkan menangkap pesannya:


ZAMAN BERUBAH.

MANUSIA HARUS MAMPU MEMBACA ZAMAN.



SABDO PALON — MENGINGATKAN ARAH


Sabdo Palon lebih tepat ditempatkan dalam tradisi sastra dan legenda Jawa yang berkembang kemudian, bukan sebagai tokoh sejarah Majapahit yang keberadaan fisiknya telah dapat dipastikan.


Tetapi simbolnya kuat.


Ia berada dekat dengan kekuasaan, bukan untuk mengambil singgasana, melainkan untuk mengingatkan.


MENGINGATKAN TANPA MENGUASAI.


MENASIHATI TANPA MEMERINTAH.


MENUNJUKKAN ARAH TANPA HARUS BERDIRI DI DEPAN.


Maka kisah “kembalinya Sabdo Palon” dapat dibaca dengan cara berbeda.


Bagaimana jika yang kembali bukan sosoknya?


Bagaimana jika yang kembali adalah PESAN, KESADARAN, dan BUDI yang pernah dilupakan?


RANGGAWARSITA — ELING LAN WASPADA

Ungkapan terkenal tentang “jaman edan” dan “eling lan waspada” bukan berasal dari Jayabaya ataupun Sabdo Palon.


Ia terdapat dalam Serat Kalatidha karya Ranggawarsita pada abad ke-19.


Ketika keadaan membuat manusia tergoda ikut arus karena takut tidak memperoleh bagian, muncul pegangan:


“Begja-begjane kang lali,

luwih begja kang eling lan waspada.”


ELING adalah kompas ke dalam:

jangan kehilangan diri dan nilai.


WASPADA adalah radar ke luar:

jangan kehilangan kemampuan membaca keadaan.


Inilah jawaban terhadap “jaman edan”:


BUKAN IKUT EDAN AGAR KEBAGIAN,

TETAPI TETAP ELING LAN WASPADA.


WANGSIT SILIWANGI — BUDAK ANGON


Dalam tradisi yang dikenal sebagai Uga atau Wangsit Siliwangi muncul simbol Budak Angon.


Kita tidak perlu buru-buru mencari siapa orangnya.


Yang lebih menarik adalah apa yang dilakukannya:


NGOREHAN.


Menelusuri.


Mencari.


Mengumpulkan yang ditemukan.


Secara filosofis, ini dapat dibaca sebagai tugas mencari kembali sesuatu yang berserak dan terlupakan.


Bukan untuk kembali hidup di masa lalu.


Tetapi untuk memilah:


MANA YANG HARUS DITINGGALKAN.


MANA YANG MASIH BERNILAI.


MANA YANG PERLU DIHIDUPKAN.


DAN MANA YANG HARUS DIWARISKAN.



EMPAT WARISAN — SATU BENANG


Keempatnya berbeda zaman, berbeda sumber, dan berbeda kedudukan sejarah.


Jangan dicampurkan.


Tetapi maknanya dapat kita pertemukan:


JAYABAYA

MEMBACA ZAMAN

    ↓

SABDO PALON

MENGINGATKAN ARAH

    ↓

RANGGAWARSITA

ELING LAN WASPADA

    ↓

BUDAK ANGON

MENCARI YANG BERSERAK

    ↓

AKAL

MEMERIKSA

    ↓

BUDI

MENIMBANG

    ↓

LAKU

BERTINDAK

    ↓

WARISAN

MENERUSKAN



PANDANGAN KITA


Di sinilah kita tidak boleh berhenti sebagai pembaca masa lalu.


Kita hidup pada abad ke-21.


Tantangannya bukan lagi kerajaan yang runtuh atau pergantian dinasti.


Kita menghadapi teknologi, kecerdasan buatan, banjir informasi, perebutan sumber daya, perubahan alam, kekuasaan ekonomi, pertarungan persepsi, dan manusia yang dapat kehilangan kemampuan berpikir di tengah kelimpahan informasi.


Karena itu warisan lama tidak cukup hanya dikagumi.


Ia harus diterjemahkan menjadi kesadaran baru.


MEMBACA ZAMAN

tanpa takut kepada perubahan.


MENGINGATKAN KEKUASAAN

tanpa ingin menguasai.


ELING

agar tidak kehilangan diri.


WASPADA

agar tidak diperdaya keadaan.


NGOREHAN

untuk menemukan kembali yang bernilai.


AKAL

untuk memeriksa kebenaran.


BUDI

untuk menentukan kepatutan.


LAKU

untuk membuktikan semuanya dalam tindakan.



ARSITEKTUR KESADARAN NUSANTARA


Dari sinilah muncul sebuah gagasan:


ARSITEKTUR KESADARAN NUSANTARA.


Ini bukan ramalan baru.


Bukan pula klaim bahwa empat tradisi tersebut telah mewakili seluruh Nusantara.


Justru ini sebuah pintu.


Apakah Batak, Minangkabau, Bali, Bugis-Makassar, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara, Papua, dan berbagai kebudayaan Nusantara lainnya juga menyimpan cara masing-masing untuk menjaga manusia agar tidak kehilangan arah?


Jika iya, tugas kita bukan menyeragamkannya.


Tugas kita adalah:


MENDENGARKAN,

MENEMUKAN BENANGNYA,

DAN MEMPERTEMUKAN KEARIFANNYA.



PENUTUP


Mungkin selama ini kita terlalu sibuk bertanya:


Siapa yang akan datang?


Kapan ramalan terjadi?


Siapa manusia pilihan?


Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:


APAKAH MANUSIA HARI INI

MASIH MAMPU MEMBACA ZAMAN

TANPA KEHILANGAN BUDI?


Jayabaya tidak harus membuat kita menunggu masa depan.


Sabdo Palon tidak harus membuat kita menunggu seseorang kembali.


Ranggawarsita tidak meminta kita ikut menjadi “edan”.


Budak Angon tidak mengharuskan kita mencari manusia misterius.


Yang perlu dibangunkan justru berada di dalam diri manusia sendiri:


KESADARAN.


Sebab yang harus kembali

bukan Sabdo Palon.


YANG HARUS KEMBALI

ADALAH BUDI MANUSIA.



MJP Hutagaol ’86

Jakarta, 28 Agustus 2026

Artikel Lainnya