Jakarta, INDONEWS.ID - Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9) menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah. Abu vulkanik dapat terbawa angin hingga puluhan bahkan ratusan kilometer dari sumber erupsi. Pada Senin (7/9), sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau mengarah ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan hingga pukul 07.00 WIB, debu vulkanik Gunung Anak Krakatau teridentifikasi pada sejumlah ketinggian.
Pada permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki, abu vulkanik teramati bergerak ke arah tenggara-barat laut. Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten beserta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, pada permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki, abu vulkanik terpantau bergerak ke arah barat daya-barat. Sebarannya berada di Samudra Hindia, menjauhi wilayah Indonesia.
Masyarakat dapat memantau perkembangan sebaran abu vulkanik melalui kanal resmi BMKG, termasuk media sosial dan situs resminya. Informasi tersebut diperbarui secara berkala untuk membantu masyarakat mengetahui wilayah yang berpotensi terdampak.
Selain melalui kanal resmi BMKG, masyarakat juga dapat memantau sebaran abu vulkanik melalui situs abu.cikoytew.my.id yang dikembangkan oleh warganet bernama Tri Purnomo Aji.
Melalui unggahannya di Threads, Aji menjelaskan situs tersebut menyediakan informasi mengenai gunung api berstatus Siaga, arah pergerakan abu vulkanik, serta perkiraan wilayah yang berpotensi dilintasi abu dalam 18 jam ke depan. Menurut Aji, data yang digunakan situs tersebut bersumber dari lembaga resmi yang memantau abu vulkanik untuk kepentingan keselamatan penerbangan.
Cara Cek Sebaran Abu Vulkanik Lewat HP
Masyarakat dapat mengecek potensi sebaran abu vulkanik melalui ponsel dengan langkah berikut:
- Buka browser di HP dan akses situs abu.cikoytew.my.id.
- Pilih gunung api yang ingin dipantau.
- Masukkan nama kota tempat tinggal atau gunakan fitur lokasi.
- Periksa informasi apakah lokasi tersebut berpotensi terdampak sebaran abu vulkanik.
- Pantau arah pergerakan abu serta jarak lokasi dari wilayah yang diperkirakan terdampak.
Meski demikian, informasi dari situs pihak ketiga sebaiknya digunakan sebagai informasi tambahan. Masyarakat tetap disarankan mengutamakan informasi dan peringatan resmi dari BMKG serta lembaga terkait.*