Opini

KETIKA PENGETAHUAN HIDUP TANPA BUKU

Oleh : luska - Kamis, 10/09/2026 09:07 WIB


KETIKA PENGETAHUAN HIDUP TANPA BUKU

PENGETAHUAN PERADABAN NUSANTARA

SERI 4


Dari Tutur, Keterampilan, Alam,

hingga Laku Kehidupan


Penulis : Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol


Jakarta, 29 Agustus 2026


PENGANTAR


Pada Seri 3 kita memasuki dunia manuskrip.


Kita melihat bagaimana pengetahuan

dapat bertahan selama berabad-abad

karena ditulis, disalin, disimpan,

dan diwariskan.


Tetapi ada kenyataan lain.


TIDAK SEMUA PENGETAHUAN

PERNAH MENJADI BUKU.


Jauh sebelum manusia membaca tulisan,

manusia telah membaca:


LANGIT.


LAUT.


ANGIN.


AIR.


TANAH.


TUMBUHAN.


HEWAN.


MUSIM.


DAN PERILAKU MANUSIA.


Pengetahuan seperti itu dapat hidup

tanpa perpustakaan.


Ia disimpan dalam ingatan.


Dilatih melalui pekerjaan.


Diajarkan melalui tutur.


Diperlihatkan melalui contoh.


Dikoreksi melalui pengalaman.


Dan diwariskan melalui laku.


Inilah pengetahuan yang hidup.


TANGAN JUGA DAPAT

MEMBAWA PENGETAHUAN


Bayangkan seorang pembuat perahu.


Ia harus mengenali kayu.


Menentukan bagian yang dapat digunakan.


Memahami bentuk lambung.


Mengetahui sambungan.


Membaca keseimbangan.


Menyesuaikan perahu

dengan laut yang akan dilalui.


Tidak seluruh pengetahuan itu

harus tertulis dalam sebuah buku.


Sebagiannya melekat melalui:


MATA YANG TERLATIH.


TANGAN YANG TERBIASA.


INGATAN.


PENGALAMAN.


DAN KETERAMPILAN.


Seorang ahli kadang mengetahui

bahwa sesuatu kurang tepat

bahkan sebelum mampu menjelaskannya

dalam rumus atau kata-kata.


Bukan karena gaib.


Tetapi karena pengalaman panjang

membuat manusia mampu mengenali

pola-pola yang sangat halus.


Dalam kajian pengetahuan,

hal seperti ini sering dibahas sebagai:


TACIT KNOWLEDGE.


PENGETAHUAN TACIT.


Pengetahuan yang diperoleh dan

diinternalisasi melalui pengalaman,

latihan, dan keterampilan,

tetapi tidak selalu mudah

dituangkan seluruhnya ke dalam kata-kata.


LAUT ADALAH RUANG PENGETAHUAN


Masyarakat maritim Nusantara

tidak mungkin mengarungi laut

hanya dengan keberanian.


Pelaut harus membaca:


ARAH ANGIN.


ARUS.


GELOMBANG.


BENTUK AWAN.


BINTANG.


MUSIM.


GARIS PANTAI.


DAN TANDA-TANDA LINGKUNGAN.


Pengetahuan itu berkembang

melalui perjalanan berulang.


Kesalahan dapat berakibat fatal.


Karena itu pengalaman

menjadi guru yang keras.


Sebagian pengetahuan kemudian

ditulis atau didokumentasikan.


Sebagian lainnya diwariskan

dari pelaut kepada pelaut.


Di sinilah kita melihat:


ALAM BUKAN BUKU.


TETAPI ALAM DAPAT DIBACA.



PETANI MEMBACA WAKTU


Hal yang sama terjadi di daratan.


Petani memperhatikan:


HUJAN.


KELEMBAPAN.


AIR.


TANAH.


PERTUMBUHAN TANAMAN.


SERANGGA.


ANGIN.


DAN PERGANTIAN MUSIM.


Pengamatan yang dilakukan

berulang-ulang dapat membentuk pola.


Pola menjadi pengalaman.


Pengalaman diwariskan.


Lalu lahirlah berbagai

sistem pengetahuan mengenai

waktu tanam, pengelolaan air,

pemilihan tanaman,

dan pengelolaan lingkungan.


Tetapi ada satu pagar penting:


POLA MASA LALU

TIDAK SELALU BERLAKU

TANPA PERUBAHAN.


Iklim berubah.


Lingkungan berubah.


Teknologi berubah.


Tanaman berubah.


Karena itu pengetahuan tradisional

tidak cukup hanya diwariskan.


Ia juga harus terus diperiksa.



HUTAN BUKAN HANYA

KUMPULAN POHON


Bagi masyarakat yang hidup

dekat dengan hutan,

sebuah bentang alam dapat berfungsi

seperti perpustakaan kehidupan.


Mereka dapat mengenali:


tanaman pangan,


tanaman obat,


kayu,


sumber air,


tanah,


hewan,


musim,


dan wilayah yang boleh

atau tidak boleh digunakan.


Pengetahuan ekologis seperti ini

terdokumentasi pada berbagai

masyarakat di Nusantara.


Namun kita juga tidak boleh

meromantisasikannya.


MASYARAKAT LOKAL

BUKAN MANUSIA YANG TIDAK PERNAH SALAH.


Pengetahuan dapat tepat.


Dapat kurang tepat.


Dapat berubah.


Dapat hilang.


Dan praktik manusia

juga dapat merusak lingkungan.


Karena itu istilah

“KEARIFAN LOKAL”

tidak boleh menjadi stempel

yang otomatis membenarkan semuanya.


Yang harus dicari adalah:


PENGETAHUAN APA?


MEKANISMENYA BAGAIMANA?


DAMPAKNYA APA?


DAN APA BUKTINYA?



TUTUR:

PERPUSTAKAAN YANG HIDUP


Ada pula pengetahuan

yang diwariskan melalui cerita.


Petuah.


Nyanyian.


Hikayat.


Legenda.


Mitos.


Genealogi.


Cerita perjalanan.


Pantangan.


Dan berbagai bentuk tradisi lisan.


Tradisi lisan dapat menyimpan

ingatan masyarakat.


Tetapi ingatan manusia

bukan alat perekam yang sempurna.


Cerita dapat berubah

setiap kali diwariskan.


Bagian tertentu dapat hilang.


Bagian baru dapat masuk.


Tokoh dapat dibesarkan.


Peristiwa berbeda dapat bercampur.


Makna lama dapat memperoleh

tafsir baru.


Karena itu tradisi lisan

sangat berharga.


Tetapi:


DIWARISKAN

TIDAK SAMA DENGAN

OTOMATIS TERBUKTI.


Tradisi lisan perlu dibandingkan dengan:


NASKAH.


PRASASTI.


ARKEOLOGI.


LINGUISTIK.


LINGKUNGAN.


DAN SUMBER SEJARAH LAINNYA.



DARI TUTUR MENJADI LAKU


Pengetahuan tidak selalu diwariskan

melalui penjelasan.


Kadang ia diwariskan

dengan cara:


LIHAT.


IKUTI.


COBA.


SALAH.


PERBAIKI.


ULANGI.


KUASAI.


Seorang anak belajar

dengan melihat orang yang lebih tua.


Seorang murid belajar

dengan mengikuti gurunya.


Seorang pelaut belajar

dengan pergi ke laut.


Seorang pengrajin belajar

dengan memegang alat.


Seorang petani belajar

dengan memasuki sawah atau ladang.


Maka:


PENGETAHUAN

→ CONTOH

→ LATIHAN

→ PENGALAMAN

→ KETERAMPILAN

→ LAKU

→ PEWARISAN.



KETIKA PENGETAHUAN

TERINTERNALISASI DALAM DIRI


Pengalaman panjang juga dapat

mengubah cara tubuh dan pikiran

merespons dunia.


Melalui latihan berulang berkembang:


KEBIASAAN.


KOORDINASI GERAK.


INGATAN MOTORIK.


KEPEKAAN INDERA.


DAN PENGENALAN POLA.


Tangan pengrajin.


Gerakan penari.


Pendengaran pemusik.


Keseimbangan pelaut.


Ketelitian pembuat alat.


Kemampuan petani mengenali

perubahan tanaman.


Semua memperlihatkan bahwa

pengetahuan tidak hanya berbentuk:


“MENGETAHUI APA.”


Ada pula:


“MENGETAHUI BAGAIMANA.”


Pengetahuan tersebut bukan berarti

tubuh secara harfiah menyimpan buku.


Ia terbentuk melalui hubungan

antara otak, indera, gerak,

ingatan, latihan, dan pengalaman.



KETIKA RASA

MENJADI SUMBER PERTANYAAN


Orang yang sangat berpengalaman

kadang berkata:


“SAYA MERASA ADA YANG BERBEDA.”


Pelaut merasakan perubahan cuaca.


Petani merasakan perubahan musim.


Pengrajin merasakan bahan

yang tidak seperti biasanya.


Pemimpin menangkap perubahan

suasana kelompok.


Fenomena rasa atau pengalaman batin

seperti ini terdapat dalam

berbagai kehidupan manusia.


Setiap kebudayaan dapat mempunyai

bahasa, istilah, dan cara

memaknainya sendiri.


Karena itu kita tidak mengatakan

bahwa seluruh masyarakat Nusantara

sejak dahulu mempunyai

satu konsep yang sama bernama “roso”.


ROSO adalah istilah yang kuat

dalam lingkungan bahasa dan

kebudayaan Jawa.


Dalam kajian kita,

istilah tersebut nantinya digunakan

sebagai salah satu pintu

untuk merumuskan cara pemeriksaan

terhadap rasa dan pengalaman manusia.


Bukan sebagai klaim bahwa

“Roso Ilmiah” merupakan ilmu

atau istilah warisan tunggal

seluruh Nusantara.


Pertanyaannya sekarang:


Apakah rasa harus dibuang

karena bersifat subjektif?


Tidak.


Tetapi apakah setiap rasa

otomatis benar?


Juga tidak.


RASA DAPAT MENJADI

PINTU PERTANYAAN.


TETAPI BELUM BOLEH MENJADI

AKHIR PEMBUKTIAN.


Sebagian rasa mungkin muncul

karena pengalaman panjang

membuat seseorang mengenali

tanda-tanda kecil

tanpa sadar menguraikannya satu per satu.


Sebagian lainnya dapat dipengaruhi oleh:


HARAPAN.


KETAKUTAN.


INGATAN.


SUGESTI.


KONTEKS.


DAN KESALAHAN PENAFSIRAN.


Karena itu kita harus memisahkan:


SENSASI.


PERSEPSI.


PENGALAMAN.


TAFSIR.


DAN KLAIM.


PENGETAHUAN DAPAT TERPUTUS


Ada kelemahan besar

pada pengetahuan yang hidup

tanpa dokumentasi.


Ketika pewarisnya hilang,

pengetahuannya dapat ikut hilang.


Seorang ahli meninggal

tanpa mempunyai murid.


Bahasa tidak lagi digunakan.


Lingkungan berubah.


Profesi menghilang.


Generasi muda berpindah pekerjaan.


Teknologi baru menggantikan

keterampilan lama.


Maka sebuah pengetahuan

yang bertahan ratusan tahun

dapat menghilang hanya

dalam satu atau dua generasi.


Rantainya adalah:


PENGETAHUAN

+

PEWARIS

+

LEMBAGA

+

KEBUTUHAN

+

LINGKUNGAN PENDUKUNG



KEBERLANJUTAN.


Jika salah satu unsur utama

terputus,

pewarisan dapat melemah.


TUGAS KITA BUKAN

MEMBEKUKAN MASA LALU


Melestarikan pengetahuan

bukan berarti membuat masyarakat

hidup seperti ratusan tahun lalu.


Peradaban selalu berubah.


Yang perlu dilakukan adalah:


MENDOKUMENTASIKAN.


MEMAHAMI.


MEMERIKSA.


MEMBANDINGKAN.


MENGUJI YANG DAPAT DIUJI.


MEMPERTAHANKAN YANG BERNILAI.


MENGOREKSI YANG KELIRU.


MENYESUAIKAN YANG MASIH BERGUNA.


DAN MENINGGALKAN

YANG TIDAK LAGI BERMANFAAT.


Warisan bukan benda beku.


Warisan adalah sesuatu

yang terus dipilih,

diolah, dan diwariskan

oleh setiap generasi.



PENUTUP


Sekarang kita mulai melihat

bahwa perpustakaan peradaban

jauh lebih luas daripada gedung

yang penuh dengan buku.


NASKAH ADALAH PERPUSTAKAAN.


TUTUR ADALAH PERPUSTAKAAN.


KETERAMPILAN ADALAH PERPUSTAKAAN.


LAUT ADALAH PERPUSTAKAAN.


HUTAN ADALAH PERPUSTAKAAN.


SAWAH DAN LADANG

ADALAH PERPUSTAKAAN.


DAN PENGALAMAN MANUSIA

DAPAT MENJADI SUMBER PENGETAHUAN.


Tetapi sekarang kita menghadapi

pertanyaan yang lebih sulit.


Ketika seseorang berkata:


“SAYA MERASAKANNYA.”


“SAYA MENDAPAT FIRASAT.”


“SAYA MENGALAMINYA.”


“SAYA MENERIMA PESAN.”


Apa sebenarnya yang kita hadapi?


PENGETAHUAN?


PENGALAMAN?


INTUISI?


SIMBOL?


KEPERCAYAAN?


TAFSIR?


ATAU SEBUAH KLAIM

YANG MASIH HARUS DIPERIKSA?


Kita tidak perlu

langsung menertawakannya.


Tetapi kita juga tidak boleh

langsung mempercayainya.


KITA HARUS MEMERIKSANYA.


Karena:


TIDAK SEMUA YANG DIRASAKAN

ADALAH FAKTA.


TETAPI TIDAK SEMUA

YANG DIRASAKAN

HARUS DIBUANG.


RASA DAPAT MEMBUKA PERTANYAAN.


AKAL MEMERIKSA.


DATA MEMBATASI KESIMPULAN.


DAN PEMBUKTIAN MENENTUKAN

SEJAUH MANA SEBUAH KLAIM

DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN.


Di sinilah perjalanan kita

memasuki wilayah berikutnya:


BAGAIMANA RASA,

PENGALAMAN,

AKAL,

DATA,

TAFSIR,

DAN PEMBUKTIAN

DAPAT DITEMPATKAN

DALAM SATU CARA BERPIKIR

YANG DISIPLIN?



Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol

Jakarta, 29 Agustus 2026



— BERSAMBUNG —


SERI 5


KETIKA RASA

MENJADI SUMBER PERTANYAAN


Membedakan Pengalaman, Intuisi,

Tafsir, Kepercayaan, dan Fakta

Artikel Lainnya