PENGETAHUAN PERADABAN NUSANTARA
SERI 4
Dari Tutur, Keterampilan, Alam,
hingga Laku Kehidupan
Penulis : Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 Agustus 2026
PENGANTAR
Pada Seri 3 kita memasuki dunia manuskrip.
Kita melihat bagaimana pengetahuan
dapat bertahan selama berabad-abad
karena ditulis, disalin, disimpan,
dan diwariskan.
Tetapi ada kenyataan lain.
TIDAK SEMUA PENGETAHUAN
PERNAH MENJADI BUKU.
Jauh sebelum manusia membaca tulisan,
manusia telah membaca:
LANGIT.
LAUT.
ANGIN.
AIR.
TANAH.
TUMBUHAN.
HEWAN.
MUSIM.
DAN PERILAKU MANUSIA.
Pengetahuan seperti itu dapat hidup
tanpa perpustakaan.
Ia disimpan dalam ingatan.
Dilatih melalui pekerjaan.
Diajarkan melalui tutur.
Diperlihatkan melalui contoh.
Dikoreksi melalui pengalaman.
Dan diwariskan melalui laku.
Inilah pengetahuan yang hidup.
TANGAN JUGA DAPAT
MEMBAWA PENGETAHUAN
Bayangkan seorang pembuat perahu.
Ia harus mengenali kayu.
Menentukan bagian yang dapat digunakan.
Memahami bentuk lambung.
Mengetahui sambungan.
Membaca keseimbangan.
Menyesuaikan perahu
dengan laut yang akan dilalui.
Tidak seluruh pengetahuan itu
harus tertulis dalam sebuah buku.
Sebagiannya melekat melalui:
MATA YANG TERLATIH.
TANGAN YANG TERBIASA.
INGATAN.
PENGALAMAN.
DAN KETERAMPILAN.
Seorang ahli kadang mengetahui
bahwa sesuatu kurang tepat
bahkan sebelum mampu menjelaskannya
dalam rumus atau kata-kata.
Bukan karena gaib.
Tetapi karena pengalaman panjang
membuat manusia mampu mengenali
pola-pola yang sangat halus.
Dalam kajian pengetahuan,
hal seperti ini sering dibahas sebagai:
TACIT KNOWLEDGE.
PENGETAHUAN TACIT.
Pengetahuan yang diperoleh dan
diinternalisasi melalui pengalaman,
latihan, dan keterampilan,
tetapi tidak selalu mudah
dituangkan seluruhnya ke dalam kata-kata.
LAUT ADALAH RUANG PENGETAHUAN
Masyarakat maritim Nusantara
tidak mungkin mengarungi laut
hanya dengan keberanian.
Pelaut harus membaca:
ARAH ANGIN.
ARUS.
GELOMBANG.
BENTUK AWAN.
BINTANG.
MUSIM.
GARIS PANTAI.
DAN TANDA-TANDA LINGKUNGAN.
Pengetahuan itu berkembang
melalui perjalanan berulang.
Kesalahan dapat berakibat fatal.
Karena itu pengalaman
menjadi guru yang keras.
Sebagian pengetahuan kemudian
ditulis atau didokumentasikan.
Sebagian lainnya diwariskan
dari pelaut kepada pelaut.
Di sinilah kita melihat:
ALAM BUKAN BUKU.
TETAPI ALAM DAPAT DIBACA.
PETANI MEMBACA WAKTU
Hal yang sama terjadi di daratan.
Petani memperhatikan:
HUJAN.
KELEMBAPAN.
AIR.
TANAH.
PERTUMBUHAN TANAMAN.
SERANGGA.
ANGIN.
DAN PERGANTIAN MUSIM.
Pengamatan yang dilakukan
berulang-ulang dapat membentuk pola.
Pola menjadi pengalaman.
Pengalaman diwariskan.
Lalu lahirlah berbagai
sistem pengetahuan mengenai
waktu tanam, pengelolaan air,
pemilihan tanaman,
dan pengelolaan lingkungan.
Tetapi ada satu pagar penting:
POLA MASA LALU
TIDAK SELALU BERLAKU
TANPA PERUBAHAN.
Iklim berubah.
Lingkungan berubah.
Teknologi berubah.
Tanaman berubah.
Karena itu pengetahuan tradisional
tidak cukup hanya diwariskan.
Ia juga harus terus diperiksa.
HUTAN BUKAN HANYA
KUMPULAN POHON
Bagi masyarakat yang hidup
dekat dengan hutan,
sebuah bentang alam dapat berfungsi
seperti perpustakaan kehidupan.
Mereka dapat mengenali:
tanaman pangan,
tanaman obat,
kayu,
sumber air,
tanah,
hewan,
musim,
dan wilayah yang boleh
atau tidak boleh digunakan.
Pengetahuan ekologis seperti ini
terdokumentasi pada berbagai
masyarakat di Nusantara.
Namun kita juga tidak boleh
meromantisasikannya.
MASYARAKAT LOKAL
BUKAN MANUSIA YANG TIDAK PERNAH SALAH.
Pengetahuan dapat tepat.
Dapat kurang tepat.
Dapat berubah.
Dapat hilang.
Dan praktik manusia
juga dapat merusak lingkungan.
Karena itu istilah
“KEARIFAN LOKAL”
tidak boleh menjadi stempel
yang otomatis membenarkan semuanya.
Yang harus dicari adalah:
PENGETAHUAN APA?
MEKANISMENYA BAGAIMANA?
DAMPAKNYA APA?
DAN APA BUKTINYA?
TUTUR:
PERPUSTAKAAN YANG HIDUP
Ada pula pengetahuan
yang diwariskan melalui cerita.
Petuah.
Nyanyian.
Hikayat.
Legenda.
Mitos.
Genealogi.
Cerita perjalanan.
Pantangan.
Dan berbagai bentuk tradisi lisan.
Tradisi lisan dapat menyimpan
ingatan masyarakat.
Tetapi ingatan manusia
bukan alat perekam yang sempurna.
Cerita dapat berubah
setiap kali diwariskan.
Bagian tertentu dapat hilang.
Bagian baru dapat masuk.
Tokoh dapat dibesarkan.
Peristiwa berbeda dapat bercampur.
Makna lama dapat memperoleh
tafsir baru.
Karena itu tradisi lisan
sangat berharga.
Tetapi:
DIWARISKAN
TIDAK SAMA DENGAN
OTOMATIS TERBUKTI.
Tradisi lisan perlu dibandingkan dengan:
NASKAH.
PRASASTI.
ARKEOLOGI.
LINGUISTIK.
LINGKUNGAN.
DAN SUMBER SEJARAH LAINNYA.
DARI TUTUR MENJADI LAKU
Pengetahuan tidak selalu diwariskan
melalui penjelasan.
Kadang ia diwariskan
dengan cara:
LIHAT.
IKUTI.
COBA.
SALAH.
PERBAIKI.
ULANGI.
KUASAI.
Seorang anak belajar
dengan melihat orang yang lebih tua.
Seorang murid belajar
dengan mengikuti gurunya.
Seorang pelaut belajar
dengan pergi ke laut.
Seorang pengrajin belajar
dengan memegang alat.
Seorang petani belajar
dengan memasuki sawah atau ladang.
Maka:
PENGETAHUAN
→ CONTOH
→ LATIHAN
→ PENGALAMAN
→ KETERAMPILAN
→ LAKU
→ PEWARISAN.
KETIKA PENGETAHUAN
TERINTERNALISASI DALAM DIRI
Pengalaman panjang juga dapat
mengubah cara tubuh dan pikiran
merespons dunia.
Melalui latihan berulang berkembang:
KEBIASAAN.
KOORDINASI GERAK.
INGATAN MOTORIK.
KEPEKAAN INDERA.
DAN PENGENALAN POLA.
Tangan pengrajin.
Gerakan penari.
Pendengaran pemusik.
Keseimbangan pelaut.
Ketelitian pembuat alat.
Kemampuan petani mengenali
perubahan tanaman.
Semua memperlihatkan bahwa
pengetahuan tidak hanya berbentuk:
“MENGETAHUI APA.”
Ada pula:
“MENGETAHUI BAGAIMANA.”
Pengetahuan tersebut bukan berarti
tubuh secara harfiah menyimpan buku.
Ia terbentuk melalui hubungan
antara otak, indera, gerak,
ingatan, latihan, dan pengalaman.
KETIKA RASA
MENJADI SUMBER PERTANYAAN
Orang yang sangat berpengalaman
kadang berkata:
“SAYA MERASA ADA YANG BERBEDA.”
Pelaut merasakan perubahan cuaca.
Petani merasakan perubahan musim.
Pengrajin merasakan bahan
yang tidak seperti biasanya.
Pemimpin menangkap perubahan
suasana kelompok.
Fenomena rasa atau pengalaman batin
seperti ini terdapat dalam
berbagai kehidupan manusia.
Setiap kebudayaan dapat mempunyai
bahasa, istilah, dan cara
memaknainya sendiri.
Karena itu kita tidak mengatakan
bahwa seluruh masyarakat Nusantara
sejak dahulu mempunyai
satu konsep yang sama bernama “roso”.
ROSO adalah istilah yang kuat
dalam lingkungan bahasa dan
kebudayaan Jawa.
Dalam kajian kita,
istilah tersebut nantinya digunakan
sebagai salah satu pintu
untuk merumuskan cara pemeriksaan
terhadap rasa dan pengalaman manusia.
Bukan sebagai klaim bahwa
“Roso Ilmiah” merupakan ilmu
atau istilah warisan tunggal
seluruh Nusantara.
Pertanyaannya sekarang:
Apakah rasa harus dibuang
karena bersifat subjektif?
Tidak.
Tetapi apakah setiap rasa
otomatis benar?
Juga tidak.
RASA DAPAT MENJADI
PINTU PERTANYAAN.
TETAPI BELUM BOLEH MENJADI
AKHIR PEMBUKTIAN.
Sebagian rasa mungkin muncul
karena pengalaman panjang
membuat seseorang mengenali
tanda-tanda kecil
tanpa sadar menguraikannya satu per satu.
Sebagian lainnya dapat dipengaruhi oleh:
HARAPAN.
KETAKUTAN.
INGATAN.
SUGESTI.
KONTEKS.
DAN KESALAHAN PENAFSIRAN.
Karena itu kita harus memisahkan:
SENSASI.
PERSEPSI.
PENGALAMAN.
TAFSIR.
DAN KLAIM.
PENGETAHUAN DAPAT TERPUTUS
Ada kelemahan besar
pada pengetahuan yang hidup
tanpa dokumentasi.
Ketika pewarisnya hilang,
pengetahuannya dapat ikut hilang.
Seorang ahli meninggal
tanpa mempunyai murid.
Bahasa tidak lagi digunakan.
Lingkungan berubah.
Profesi menghilang.
Generasi muda berpindah pekerjaan.
Teknologi baru menggantikan
keterampilan lama.
Maka sebuah pengetahuan
yang bertahan ratusan tahun
dapat menghilang hanya
dalam satu atau dua generasi.
Rantainya adalah:
PENGETAHUAN
+
PEWARIS
+
LEMBAGA
+
KEBUTUHAN
+
LINGKUNGAN PENDUKUNG
→
KEBERLANJUTAN.
Jika salah satu unsur utama
terputus,
pewarisan dapat melemah.
TUGAS KITA BUKAN
MEMBEKUKAN MASA LALU
Melestarikan pengetahuan
bukan berarti membuat masyarakat
hidup seperti ratusan tahun lalu.
Peradaban selalu berubah.
Yang perlu dilakukan adalah:
MENDOKUMENTASIKAN.
MEMAHAMI.
MEMERIKSA.
MEMBANDINGKAN.
MENGUJI YANG DAPAT DIUJI.
MEMPERTAHANKAN YANG BERNILAI.
MENGOREKSI YANG KELIRU.
MENYESUAIKAN YANG MASIH BERGUNA.
DAN MENINGGALKAN
YANG TIDAK LAGI BERMANFAAT.
Warisan bukan benda beku.
Warisan adalah sesuatu
yang terus dipilih,
diolah, dan diwariskan
oleh setiap generasi.
PENUTUP
Sekarang kita mulai melihat
bahwa perpustakaan peradaban
jauh lebih luas daripada gedung
yang penuh dengan buku.
NASKAH ADALAH PERPUSTAKAAN.
TUTUR ADALAH PERPUSTAKAAN.
KETERAMPILAN ADALAH PERPUSTAKAAN.
LAUT ADALAH PERPUSTAKAAN.
HUTAN ADALAH PERPUSTAKAAN.
SAWAH DAN LADANG
ADALAH PERPUSTAKAAN.
DAN PENGALAMAN MANUSIA
DAPAT MENJADI SUMBER PENGETAHUAN.
Tetapi sekarang kita menghadapi
pertanyaan yang lebih sulit.
Ketika seseorang berkata:
“SAYA MERASAKANNYA.”
“SAYA MENDAPAT FIRASAT.”
“SAYA MENGALAMINYA.”
“SAYA MENERIMA PESAN.”
Apa sebenarnya yang kita hadapi?
PENGETAHUAN?
PENGALAMAN?
INTUISI?
SIMBOL?
KEPERCAYAAN?
TAFSIR?
ATAU SEBUAH KLAIM
YANG MASIH HARUS DIPERIKSA?
Kita tidak perlu
langsung menertawakannya.
Tetapi kita juga tidak boleh
langsung mempercayainya.
KITA HARUS MEMERIKSANYA.
Karena:
TIDAK SEMUA YANG DIRASAKAN
ADALAH FAKTA.
TETAPI TIDAK SEMUA
YANG DIRASAKAN
HARUS DIBUANG.
RASA DAPAT MEMBUKA PERTANYAAN.
AKAL MEMERIKSA.
DATA MEMBATASI KESIMPULAN.
DAN PEMBUKTIAN MENENTUKAN
SEJAUH MANA SEBUAH KLAIM
DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN.
Di sinilah perjalanan kita
memasuki wilayah berikutnya:
BAGAIMANA RASA,
PENGALAMAN,
AKAL,
DATA,
TAFSIR,
DAN PEMBUKTIAN
DAPAT DITEMPATKAN
DALAM SATU CARA BERPIKIR
YANG DISIPLIN?
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 Agustus 2026
— BERSAMBUNG —
SERI 5
KETIKA RASA
MENJADI SUMBER PERTANYAAN
Membedakan Pengalaman, Intuisi,
Tafsir, Kepercayaan, dan Fakta