Jakarta, INDONEWS.ID – Tinggal di desa biasanya identik dengan biaya hidup lebih rendah dan suasana yang tenang. Namun di sejumlah wilayah Spanyol, orang justru ditawari insentif hingga €15.000 atau sekitar Rp309 juta jika bersedia pindah dan menetap di kawasan pedesaan.
Program tersebut merupakan upaya pemerintah daerah mengatasi penurunan populasi di sejumlah desa Spanyol. Banyak warga muda meninggalkan wilayah pedesaan dan memilih pindah ke kota besar untuk mendapatkan pekerjaan serta peluang ekonomi yang lebih baik.
Salah satu program yang tengah menjadi perhatian adalah Live in Ambroz di wilayah Extremadura. Program ini membuka pendaftaran bagi pekerja digital nomad dan menawarkan hibah hingga €15.000 kepada peserta yang memenuhi persyaratan.
Namun, uang tersebut bukan diberikan tanpa syarat. Penerima hibah diwajibkan tinggal di wilayah Ambroz selama sedikitnya dua tahun. Program tersebut diharapkan tidak hanya menambah jumlah penduduk, tetapi juga menghidupkan kembali kegiatan ekonomi di kawasan pedesaan yang mengalami penurunan populasi.
Peluang tersebut turut dipromosikan akun Instagram @madrid.explore. Dalam unggahannya, akun tersebut menyebut Spanyol memberikan insentif kepada orang yang ingin meninggalkan kehidupan perkotaan dan memulai kehidupan baru di desa.
Unggahan itu kemudian mendapat beragam respons dari pengguna media sosial. Sejumlah pengguna bahkan menyatakan ketertarikannya untuk mengikuti program tersebut.
Selain insentif finansial, Ambroz menawarkan kondisi iklim yang menjadi daya tarik tersendiri. Wilayah tersebut disebut mendapatkan sekitar 70-90 persen lebih banyak sinar matahari dibandingkan London, dengan waktu siang rata-rata sekitar tiga jam lebih panjang setiap hari.
Biaya hidup di kawasan pedesaan Spanyol juga relatif lebih rendah. Berdasarkan laporan yang dikutip Mirror, rumah dengan tiga kamar tidur di kawasan tersebut dapat disewa sekitar €690 atau Rp14 juta per bulan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Spanyol. Sejumlah wilayah di Italia dan Swiss juga menawarkan insentif finansial untuk menarik penduduk baru ke desa-desa yang mengalami penyusutan populasi.
Di Sardinia, Italia, misalnya, tersedia hibah hingga €15.000 bagi orang yang bersedia pindah ke desa dengan jumlah penduduk kurang dari 3.000 jiwa. Program tersebut ditujukan untuk membalikkan tren penurunan populasi sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Keluarga yang ingin menetap juga dapat memperoleh bantuan tambahan. Pemerintah setempat memberikan sekitar €600 per bulan untuk anak pertama dan €400 untuk anak kedua hingga masing-masing berusia lima tahun.
Sementara itu, desa Radicondoli di Tuscany memiliki program WivoaRadicondoli yang memberikan bantuan bagi warga yang menyewa maupun membeli rumah. Penyewa dapat memperoleh subsidi hingga separuh biaya sewa selama dua tahun, sedangkan calon pembeli juga dapat memperoleh hibah.
Penerima bantuan di Radicondoli diwajibkan berkomitmen tinggal di desa tersebut sedikitnya 10 tahun. Program ini dijalankan ketika sekitar 100 dari 450 properti di wilayah tersebut dilaporkan masih kosong.
Swiss juga memiliki program serupa di desa Albinen. Pendatang berusia di bawah 45 tahun berkesempatan memperoleh bantuan hingga 25.000 franc Swiss atau sekitar Rp472 juta per orang dewasa dan 10.000 franc Swiss atau sekitar Rp189 juta per anak.
Namun, program Albinen memiliki persyaratan ketat. Penerima harus berkomitmen tinggal di desa tersebut selama sedikitnya 10 tahun serta membeli properti dengan nilai minimal 200.000 franc Swiss.
Berbagai program tersebut menunjukkan cara sejumlah wilayah pedesaan Eropa menghadapi persoalan yang sama: penduduk pergi, rumah kosong bertambah, dan aktivitas ekonomi ikut melemah. Insentif finansial digunakan untuk menarik penduduk baru sekaligus menjaga keberlangsungan kehidupan ekonomi di desa.