Jakarta, INDONEWS.ID – Puluhan makam kuno kembali terlihat di dasar Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, seiring menyusutnya permukaan air pada musim kemarau. Makam-makam tersebut belum seluruhnya muncul. Sebagian masih terendam, sementara lainnya sudah terlihat di sejumlah titik dasar waduk.
Fenomena ini diketahui warga sejak beberapa hari terakhir. Warga Kelurahan Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro, Karni, mengatakan makam mulai terlihat karena permukaan air waduk terus menyusut.
“Udah beberapa hari ini kelihatan, karena airnya surut. Tapi ini belum terlihat semua, baru sebagian aja, masih banyak yang di dalam air,” kata Karni, dikutip dari detikJateng.
Puluhan makam yang muncul tampak tersebar di area dasar waduk. Sebagian diduga menggunakan batu kapur. Kondisinya beragam, mulai dari yang masih relatif utuh hingga yang telah terkikis akibat usia dan paparan air.
Sejumlah nisan juga masih menyisakan ukiran atau tulisan, meski sebagian sudah sulit dikenali. Ukuran nisan tidak seragam, dengan panjang sekitar setengah meter hingga mencapai dua meter.
Fenomena Tahunan
Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari mengatakan kemunculan makam tersebut bukan fenomena baru. Makam biasanya kembali terlihat ketika volume air Waduk Gajah Mungkur menyusut pada musim kemarau.
“Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat, tapi ini baru sebagian, karena airnya masih cukup tinggi,” ujar Soemardjono.
Menurut dia, makam biasanya mulai terlihat sejak Agustus. Namun tahun ini penyusutan air berlangsung lebih lambat sehingga kemunculannya baru terlihat pada September.
“Biasanya Agustus sudah mulai kelihatan. Tahun ini surutnya agak lambat, sehingga belum semuanya muncul,” katanya.
Kemunculan makam tersebut sesekali menarik perhatian warga dan pengunjung. Namun, menurut Karni, belum banyak wisatawan yang datang khusus untuk melihat makam.
“Belum [banyak wisatawan yang datang], paling satu dua orang datang foto-foto saja. Kebanyakan yang ke sini ya orang mancing, sama [petani] ke sawah,” ujarnya.
Lokasi makam juga tidak mudah dijangkau. Pengunjung harus berjalan kaki melewati dasar waduk yang mengering. Sejumlah bagian masih berupa tanah basah sehingga akses menuju makam cukup sulit.
Kemunculan makam-makam tersebut berkaitan dengan sejarah pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Pembangunan waduk menyebabkan sejumlah permukiman di Wonogiri ditenggelamkan.
Tercatat sebanyak 51 desa di tujuh kecamatan terdampak pembangunan waduk. Wilayah yang kini menjadi dasar waduk sebelumnya merupakan kawasan permukiman masyarakat, termasuk lokasi pemakaman umum.
Ketika permukaan air turun pada musim kemarau, sebagian wilayah yang dahulu terendam kembali terlihat. Makam-makam tersebut menjadi salah satu jejak sejarah permukiman yang pernah ada sebelum kawasan itu menjadi bagian dari Waduk Gajah Mungkur.