DARI KEBIASAAN MENJADI BUDAYA
Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol ’86
Jakarta, 16 September 2026
ADA SESUATU YANG SANGAT SEDERHANA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA:
SESUATU YANG DILIHAT BERULANG-ULANG, AKAN MUDAH DITIRU.
SESUATU YANG DITIRU BERULANG-ULANG, AKAN MENJADI KEBIASAAN.
SESUATU YANG SUDAH MENJADI KEBIASAAN, LAMA-LAMA DIANGGAP WAJAR.
DAN SESUATU YANG SUDAH DIANGGAP WAJAR OLEH BANYAK ORANG, DAPAT BERUBAH MENJADI BUDAYA.
BELAJAR MENGANTRI
Lihatlah seorang anak kecil ketika pertama kali belajar mengantre.
Ia mungkin belum mengerti mengapa harus berdiri di belakang orang lain.
Ia melihat orang dewasa melakukannya.
Guru memberi contoh.
Orang tua memberi contoh.
Kemudian ia diminta berdiri di belakang.
Ia menunggu.
Kadang ia ingin menyerobot.
Tetapi ia diingatkan:
“Antre.”
Hari berikutnya ia antre lagi.
Minggu berikutnya ia antre lagi.
Bulan berikutnya ia sudah terbiasa.
Lama-kelamaan terjadi sesuatu yang lebih dalam.
Ia tidak lagi antre karena diperintah.
Ia antre karena merasa memang demikianlah seharusnya.
Bahkan ketika melihat orang menyerobot, ia merasa tidak nyaman.
Mengapa?
Karena perilaku antre telah berpindah dari perintah di luar dirinya menjadi kesadaran di dalam dirinya.
DARI CONTOH → MENJADI TINDAKAN → MENJADI KEBIASAAN → MENJADI NORMA → MENJADI BUDAYA.
INILAH CARA BUDAYA LAHIR
Budaya tidak selalu lahir dari pidato.
Budaya sering kali lahir dari pengulangan.
Anak melihat.
Anak meniru.
Anak melakukan.
Anak mengulangi.
Lingkungan menguatkan.
Akhirnya perilaku tersebut dianggap normal.
Manusia ternyata tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan kepadanya.
MANUSIA BELAJAR TERUTAMA DARI APA YANG DILIHATNYA.
KARENA ITU, CONTOH JAUH LEBIH KUAT DARIPADA NASIHAT
Seorang anak dapat diberi seribu nasihat tentang disiplin.
Tetapi ketika ia melihat orang tuanya selalu datang terlambat, ia belajar sesuatu yang berbeda.
Seorang anak dapat diajari kejujuran.
Tetapi ketika ia melihat orang dewasa berbohong demi keuntungan, ia mendapatkan pelajaran yang lain.
Seorang anak dapat diajari menghormati aturan.
Tetapi ketika ia melihat aturan dapat dilanggar oleh orang yang mempunyai kekuasaan, ia mulai memahami dunia melalui contoh tersebut.
Inilah sebabnya keteladanan mempunyai kekuatan yang luar biasa.
DARI KEBIASAAN MENJADI NORMA
Ketika suatu perilaku dilakukan terus-menerus oleh banyak orang, muncul sesuatu yang lebih kuat daripada kebiasaan pribadi.
Muncul norma sosial.
Orang mulai berpikir:
“Memang begitulah caranya.”
Dan pada titik itu, seseorang tidak lagi melakukan sesuatu hanya karena ia ingin.
Ia melakukannya karena lingkungan menganggapnya normal.
Lebih jauh lagi, orang yang tidak mengikuti kebiasaan tersebut justru dapat dianggap aneh.
DI SINILAH KITA HARUS BERHATI-HATI
Sebab tidak semua yang sudah biasa dilakukan berarti benar.
Tidak semua yang dilakukan banyak orang berarti baik.
Tidak semua yang sudah lama berlangsung pantas dipertahankan.
SEBUAH KESALAHAN YANG DIULANG TERUS-MENERUS TIDAK BERUBAH MENJADI KEBENARAN.
Tetapi dalam kehidupan sosial, kesalahan yang terus diulang dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal.
DAN KETIKA YANG SALAH SUDAH DIANGGAP NORMAL, MASALAHNYA MENJADI JAUH LEBIH BESAR.
Karena pada tahap itu manusia tidak lagi bertanya:
“APAKAH INI BENAR?”
Ia mulai bertanya:
“APAKAH INI BISA DILAKUKAN?”
Di situlah nilai moral mulai bergeser.
Dan dari sinilah kita sampai pada persoalan yang jauh lebih serius:
BAGAIMANA JIKA KEBIASAAN YANG DIBENTUK BUKANLAH KEJUJURAN, MELAINKAN PERILAKU KORUPTIF?
SEKARANG, BALIKKAN CERMIN ITU KEPADA KORUPSI.
Bagaimana kalau yang dilihat anak bukan kejujuran?
Bagaimana kalau yang dilihat adalah:
“Kalau ingin urusan cepat, kasih uang.”
“Kalau ada kesempatan, ambil.”
“Kalau punya jabatan, manfaatkan.”
“Kalau semua orang melakukan, mengapa saya tidak?”
“Yang penting tidak ketahuan.”
Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi apabila terus-menerus dilihat, didengar dan dilakukan, ia dapat menjadi pembelajaran sosial.
ANAK BELAJAR BUKAN HANYA DARI BUKU.
ANAK BELAJAR DARI PERILAKU ORANG DEWASA.
KORUPSI TIDAK SELALU DIMULAI DARI MILIARAN RUPIAH
Akar perilaku koruptif dapat muncul dari sesuatu yang jauh lebih kecil:
menyontek,
memalsukan,
memanipulasi,
mengambil sesuatu yang bukan hak,
memberi uang agar urusan dipercepat,
menggelembungkan biaya,
atau menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Masalahnya bukan semata-mata besar atau kecilnya uang.
Masalahnya adalah ketika seseorang mulai membiasakan diri:
MENGAMBIL YANG BUKAN HAKNYA.
KETIKA YANG DI ATAS MENJADI CONTOH
Seorang pegawai melihat atasannya.
Seorang bawahan melihat pimpinannya.
Seorang pejabat melihat pejabat yang lebih tinggi.
Seorang pengusaha melihat bagaimana orang lain mendapatkan keuntungan.
Masyarakat melihat semuanya.
Manusia bukan hanya membaca aturan.
MANUSIA MEMBACA CONTOH.
INILAH RANTAI YANG BERBAHAYA
YANG ATAS MEMBERI CONTOH.
YANG DI BAWAH MELIHAT.
YANG DI BAWAH MENIRU.
YANG LAIN MELIHAT.
KEMUDIAN MENIRU LAGI.
LAMA-LAMA ORANG TIDAK LAGI BERTANYA:
“APAKAH INI SALAH?”
Mereka mulai berkata:
“BEGINILAH SISTEMNYA.”
Dan ketika kalimat itu sudah menjadi pembenaran, kita tidak lagi hanya menghadapi perilaku individu.
Kita mulai berhadapan dengan LINGKUNGAN YANG MENORMALISASI PERILAKU.
DARI “SALAH” MENJADI “BIASA”
Pada tahap pertama:
“Itu salah.”
Kemudian:
“Itu memang salah, tetapi semua orang melakukannya.”
Lalu:
“Kalau saya tidak ikut, saya yang rugi.”
Dan akhirnya:
“Memangnya ada yang tidak begitu?”
DI SINILAH NORMALISASI TERJADI.
KORUPSI YANG BESAR TIDAK BOLEH MEMBUAT KITA KEHILANGAN RASA TERKEJUT
Kita setiap hari dapat melihat pemberitaan mengenai perkara korupsi dengan nilai yang sangat besar.
Namun kita harus berhati-hati terhadap angka atau informasi yang beredar tanpa sumber yang jelas.
Yang lebih penting adalah persoalan yang berada di balik semua pemberitaan itu:
JANGAN SAMPAI MASYARAKAT MENJADI KEBAL TERHADAP KORUPSI.
Jangan sampai angka yang semakin besar justru membuat kita semakin tidak terkejut.
Jangan sampai korupsi berubah dari:
“KEJAHATAN”
menjadi:
“BERITA BIASA.”
KARENA KALAU MASYARAKAT SUDAH TIDAK TERKEJUT, ADA YANG HARUS KITA TAKUTKAN:
HILANGNYA RASA MALU.
Sebab selama masih ada rasa malu, masih ada rem moral.
Tetapi ketika mengambil sesuatu yang bukan hak dianggap sebagai hal biasa, maka yang rusak bukan hanya keuangan negara.
YANG RUSAK ADALAH KARAKTER.
KARENA ITULAH RANTAINYA HARUS DIPUTUS.
Bukan hanya ketika korupsi sudah menjadi perkara hukum.
Tetapi sejak kebiasaan kecil mulai dibentuk.
Mulai dari keluarga.
Mulai dari sekolah.
Mulai dari kantor.
Mulai dari lingkungan.
Mulai dari pemimpin.
KARENA KEBIASAAN BURUK DIBENTUK DENGAN CONTOH.
MAKA KEBIASAAN BAIK PUN HARUS DIBENTUK DENGAN CONTOH.
CONTOH → PEMBIASAAN → NORMA → BUDAYA.
Kalau kita ingin budaya jujur, maka kejujuran harus dicontohkan.
Kalau kita ingin budaya disiplin, maka disiplin harus dicontohkan.
Kalau kita ingin budaya antikorupsi, maka integritas harus dicontohkan.
SEBAB BANGSA TIDAK HANYA MEWARISKAN TANAH, KEKAYAAN, DAN KEKUASAAN KEPADA GENERASI BERIKUTNYA.
BANGSA JUGA MEWARISKAN KEBIASAANNYA.
DAN APA YANG HARI INI KITA BIASAKAN,
BISA MENJADI BUDAYA YANG BESOK MEREKA WARISI.
Jakarta ,16 September 2026