Home › Opini

SERI 1 - KETIKA NEGARA MENGUBAH KETERBATASAN MENJADI KEKUATAN

Oleh : luska - Rabu, 14/10/2026 16:08 WIB


SERI 1 - KETIKA NEGARA MENGUBAH KETERBATASAN MENJADI KEKUATAN

MENJAGA NEGARA, MEMBANGUN MANUSIA, MEMULIAKAN PERADABAN


Mengapa Ada Bangsa yang Mampu Membangun Keunggulan, Sementara yang Lain Kehilangan Daya Tahan?


Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol


Jakarta, 13 Oktober 2026


PROLOG — KEKUATAN SEBUAH NEGARA TIDAK SELALU TERLIHAT DARI LUAR


Ada negara yang memiliki wilayah luas, penduduk besar, sumber daya alam melimpah, dan angkatan bersenjata yang kuat. Namun, semua itu tidak otomatis menjamin kesejahteraan, kemajuan teknologi, ataupun kemampuan bertahan menghadapi perubahan zaman.


Sebaliknya, ada negara yang wilayahnya kecil, tidak memiliki sumber daya alam selengkap negara lain, atau hidup di tengah tekanan geopolitik yang berat. Namun, negara-negara tersebut mampu membangun keunggulan dalam bidang tertentu hingga diperhitungkan dunia.


Singapura membangun kedudukan penting dalam perdagangan dan pelayaran internasional. Taiwan menempati posisi strategis dalam industri semikonduktor. Israel mengembangkan ekosistem riset dan teknologi. Jepang membangun kembali kapasitas industrinya setelah kehancuran Perang Dunia II. Norwegia membentuk mekanisme pengelolaan kekayaan minyak dan gas untuk kepentingan jangka panjang.


Sementara itu, sejarah juga memperlihatkan bahwa negara besar dengan kekuatan militer dan persenjataan yang sangat besar dapat menghadapi krisis internal yang mengguncang keberlangsungan negaranya sendiri.


Pengalaman-pengalaman ini tidak membuktikan bahwa! satu model pembangunan selalu benar atau dapat ditiru begitu saja oleh semua negara. Setiap bangsa memiliki sejarah, geografi, kebudayaan, struktur politik, dan tantangannya masing-masing.


Namun, perbandingan tersebut membuka satu pertanyaan mendasar: APA YANG SESUNGGUHNYA MENGUBAH SUMBER DAYA MENJADI KEKUATAN NASIONAL?


Apakah jawabannya terletak pada kekayaan alam? Kualitas manusia? Kepemimpinan? Pendidikan? Institusi? Penguasaan teknologi? Atau kemampuan! menyatukan semua unsur itu menjadi sistem yang bekerja?


Untuk mendekati pertanyaan tersebut, mari melihat sejumlah pengalaman nyata.


01. SINGAPURA: KETIKA POSISI GEOGRAFIS DIUBAH MENJADI KEKUATAN EKONOMI


Singapura adalah negara kecil yang tidak memiliki kekayaan sumber daya alam seperti negara-negara besar penghasil minyak, gas, mineral, atau hasil pertanian.


Namun, letak geografisnya berada di jalur penting perdagangan internasional. Posisi itu merupakan keuntungan awal, tetapi keuntungan geografis tidak dengan sendirinya menghasilkan pelabuhan kelas dunia.


Keuntungan tersebut harus diubah menjadi! infrastruktur, layanan pelabuhan, kepastian usaha, tenaga kerja terampil, sistem logistik, dan jaringan perdagangan internasional.


Hasilnya dapat dilihat dari aktivitas pelabuhannya. Menurut Maritime and Port Authority of Singapore, pada 2025 pelabuhan Singapura menangani 44,66 juta TEU peti kemas. TEU merupakan satuan ekuivalen peti kemas berukuran 20 kaki. Pada tahun yang sama, tonase kedatangan kapal mencapai 3,22 miliar gross tonnage.


Sumber: https://www.mpa.gov.sg/media-centre/details/singapore-posts-record-port-performance-in-2025-and-develops-future-readiness-through-industry-collaborations-for-2026


Angka tersebut bukan sekadar gambaran banyaknya kapal yang datang. Di belakangnya terdapat ekosistem yang melibatkan perusahaan pelayaran, pergudangan, pembiayaan, asuransi, teknologi pelabuhan, distribusi barang, dan tenaga profesional.


Singapura tidak mengubah laut menjadi daratan yang kaya mineral. Singapura mengembangkan kemampuan untuk menghubungkan produksi, perdagangan, transportasi, dan pasar dunia.


Tentu, keberhasilannya tidak hanya disebabkan oleh lokasi geografis. Kebijakan negara, kualitas institusi, investasi jangka panjang, keterbukaan terhadap perdagangan, dan kondisi internasional turut berperan.


APA YANG DAPAT KITA LIHAT DARI PENGALAMAN INI?


Indonesia merupakan negara kepulauan dengan ribuan pulau, wilayah laut yang luas, dan posisi strategis di antara Samudra Hindia dan Pasifik.


Namun, keunggulan geografis dan besarnya wilayah laut baru akan bernilai maksimal apabila didukung pelabuhan yang efisien, pelayaran nasional yang kompetitif, industri perkapalan, sistem logistik yang terintegrasi, serta sumber daya manusia yang menguasai teknologi maritim.


Di sinilah pertanyaan menjadi menarik.


Jika negara kecil dapat membangun kekuatan ekonomi melalui pengelolaan posisi strategisnya, kemampuan apa yang masih dapat dikembangkan Indonesia dari karakter geografisnya sendiri?


Pertanyaan itu tidak memerlukan jawaban yang tergesa-gesa. Ia memerlukan data, perbandingan, dan pemeriksaan terhadap kemampuan yang sudah dimiliki serta yang masih perlu dibangun.


02. TAIWAN: KETIKA PENGUASAAN TEKNOLOGI MENJADI FAKTOR STRATEGIS


Taiwan menghadapi lingkungan geopolitik yang kompleks. Pada saat yang sama, wilayah ini membangun posisi penting dalam rantai pasok teknologi global, terutama industri semikonduktor.


Semikonduktor merupakan komponen dasar bagi berbagai perangkat modern: komputer, telepon pintar, pusat data, sistem komunikasi, kendaraan, peralatan industri, dan berbagai aplikasi pertahanan.


Penguasaan industri ini tidak cukup hanya dengan memiliki pabrik. Ia memerlukan pendidikan sains dan teknik, penelitian bertahun-tahun, tenaga ahli, investasi besar, fasilitas produksi khusus, pengendalian mutu, jaringan pemasok, serta kemampuan mempertahankan keunggulan teknologi.


Pemerintah Taiwan secara terbuka menjadikan semikonduktor, kecerdasan buatan, industri pertahanan, keamanan, dan komunikasi generasi berikutnya sebagai sektor strategis. Program yang disetujui pada 2025 menekankan penguatan riset dan pengembangan, desain cip, proses manufaktur, pengemasan teknologi, serta material dan peralatan industri.


Sumber: https://www.ndc.gov.tw/EN/Content_List.aspx?n=73E8570703E7056A


Pada September 2026, pemerintah Taiwan juga mengumumkan rencana investasi sebesar NT$300 miliar hingga 2033 untuk memperkuat fasilitas semikonduktor dan perangkat lunak desain cip. Rencana tersebut menunjukkan bahwa keunggulan teknologi tidak dianggap sebagai sesuatu yang akan bertahan dengan sendirinya.


Sumber: https://english.ey.gov.tw/Page/61BF20C3E89B856/c05dc0da-a607-4418-affd-949a11abd0b7


Ada satu hal penting di sini.


Taiwan tidak sekadar menjual produk teknologi. Taiwan berupaya mempertahankan kedudukan dalam bagian rantai produksi yang sulit digantikan dengan cepat.


Ketika suatu negara menguasai teknologi yang dibutuhkan banyak pihak, kapasitas teknologinya dapat memiliki arti ekonomi sekaligus strategis.


Namun, ketergantungan global pada industri Taiwan juga mengandung risiko. Konsentrasi produksi pada satu kawasan membuat gangguan geopolitik atau bencana dapat menimbulkan dampak internasional.


Dengan demikian, keunggulan teknologi sekaligus menjadi sumber daya dan tanggung jawab strategis.


APA YANG DAPAT KITA LIHAT DARI PENGALAMAN INI?


Indonesia memiliki sumber daya mineral, pasar domestik yang besar, dan kebutuhan teknologi yang terus berkembang.


Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak mineral yang dapat ditambang atau berapa besar nilai ekspor bahan mentah dan produk olahan.


Pertanyaan berikutnya adalah: sejauh mana Indonesia mampu mengembangkan pengetahuan, tenaga ahli, penelitian, industri komponen, dan teknologi yang dibutuhkan untuk mengolah sumber daya tersebut menjadi kemampuan nasional?


Apakah kita hanya ingin menjadi tempat bahan baku diambil dan diproses, atau juga ingin menjadi tempat pengetahuan dan teknologi dikembangkan?


Kedua kegiatan itu tidak harus dipertentangkan. Namun, keduanya memerlukan kebijakan, investasi, dan sasaran kemampuan yang berbeda.


03. ISRAEL: HUBUNGAN ANTARA RISET, KEWIRAUSAHAAN, DAN KEBUTUHAN STRATEGIS


Israel merupakan negara dengan wilayah relatif kecil yang menghadapi tantangan keamanan dan lingkungan geopolitik yang kompleks.


Dalam perkembangannya, Israel membangun ekosistem penelitian, teknologi, perusahaan rintisan, serta hubungan antara perguruan tinggi, industri, dan kebutuhan strategis.


Ekosistem tersebut tidak muncul hanya karena masyarakatnya dianggap memiliki karakter tertentu. Ada peran pendidikan, pendanaan riset, kebijakan pemerintah, investasi swasta, jaringan internasional, dan pengalaman menghadapi kebutuhan nyata yang harus diselesaikan.


UNESCO pernah mengkaji sistem penelitian dan inovasi Israel, termasuk hubungan antara riset, pengembangan teknologi, dan penerapannya. OECD juga menelaah ekosistem riset dan inovasi Israel serta peluang dan tantangan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam perekonomiannya.


Sumber:

https://www.unesco.org/en/articles/mapping-research-and-innovation-state-israel

https://www.oecd.org/en/networks/research-and-innovation-careers-observatory/countries/israel.html


Salah satu pelajaran yang dapat ditelaah adalah hubungan antara persoalan dan kemampuan.


Ketika suatu masyarakat menghadapi masalah air, pertanian di lingkungan kering, keamanan siber, komunikasi, atau teknologi pertahanan, masalah tersebut dapat menjadi pendorong penelitian. Akan tetapi, penelitian baru menghasilkan kekuatan apabila tersedia institusi yang mengubah pengetahuan menjadi produk, layanan, dan kemampuan yang dapat digunakan.


Proses itu tidak otomatis berhasil. Banyak penelitian di berbagai negara berhenti sebagai laporan, tidak mencapai tahap produksi, atau tidak menghasilkan manfaat ekonomi yang memadai.


Karena itu, ukuran kemajuan bukan semata-mata jumlah penelitian atau banyaknya gelar akademik, melainkan juga kemampuan mengubah pengetahuan menjadi solusi yang bekerja.


Pengalaman Israel juga tidak dapat dilepaskan dari dukungan internasional, hubungan dengan pasar global, serta kondisi keamanan dan politiknya. Ia bukan model yang dapat dipindahkan begitu saja ke negara lain.


APA YANG DAPAT KITA LIHAT DARI PENGALAMAN INI?


Indonesia menghadapi persoalan yang beragam: pengelolaan air, pangan, transportasi antarpulau, bencana alam, kesehatan, keamanan siber, energi, dan pengolahan sumber daya alam.


Semua itu dapat dipandang bukan hanya sebagai daftar masalah, tetapi juga sebagai bidang penelitian dan pengembangan kemampuan.


Misalnya, persoalan logistik antarpulau dapat mendorong pengembangan sistem perencanaan transportasi. Kebutuhan pangan dapat mendorong teknologi pertanian dan pengolahan hasil panen. Ancaman siber dapat mendorong penguatan riset keamanan digital.


Pertanyaannya kemudian: sudah seberapa dekat penelitian, pendidikan tinggi, industri, dan kebutuhan nyata masyarakat Indonesia terhubung dalam satu ekosistem yang bekerja?


Jawabannya perlu dicari melalui data dan evaluasi. Bukan melalui anggapan bahwa Indonesia kekurangan orang pintar, tetapi juga bukan melalui keyakinan bahwa semua potensi otomatis akan berkembang dengan sendirinya.


04. JEPANG: KEHANCURAN BUKAN AKHIR, JIKA KEMAMPUAN DAPAT DIBANGUN KEMBALI


Jepang mengalami kehancuran besar pada akhir Perang Dunia II. Infrastruktur rusak, kota-kota hancur, perekonomian terguncang, dan negara harus membangun kembali kehidupan masyarakatnya.


Namun, dalam beberapa dasawarsa setelah perang, Jepang berkembang menjadi salah satu kekuatan industri dunia.


Pemulihan itu tidak terjadi hanya karena masyarakatnya dikenal disiplin atau memiliki etos kerja kuat.


Sejarah ekonomi Jepang memperlihatkan peran rekonstruksi, pendidikan, investasi, peningkatan produktivitas, pengembangan perusahaan, perluasan pasar ekspor, serta kebijakan industri yang berubah mengikuti kebutuhan zaman.


Penelitian mengenai kebijakan industri Jepang setelah Perang Dunia II membagi perjalanan tersebut ke dalam beberapa tahap. Sasaran kebijakan dan instrumennya berubah seiring dengan perkembangan ekonomi, kebutuhan rekonstruksi, dan posisi Jepang dalam perdagangan dunia.


Sumber: https://www.rieti.go.jp/en/papers/contribution/okazaki/06.html


Perusahaan-perusahaan Jepang kemudian dikenal dalam berbagai bidang, termasuk otomotif, mesin, elektronik, material, dan peralatan industri.


Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan bukan hanya soal membangun kembali gedung atau jalan. Yang lebih mendasar ialah membangun kembali kemampuan untuk memproduksi, memperbaiki, meningkatkan mutu, dan bersaing.


Jepang juga mengalami masa stagnasi ekonomi, menghadapi persoalan demografi, dan harus menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi. Karena itu, kisahnya bukan kisah keberhasilan tanpa kelemahan.


Pada Oktober 2026, Jepang bahkan masih berupaya memperkuat kembali posisinya dalam industri semikonduktor melalui investasi besar dan pengembangan teknologi baru. Tantangan tersebut menunjukkan bahwa keunggulan industri harus terus dipelihara.


APA YANG DAPAT KITA LIHAT DARI PENGALAMAN INI?


Indonesia juga memiliki pengalaman membangun industri, pendidikan teknik, perusahaan nasional, dan infrastruktur.


Pertanyaannya bukan apakah Indonesia dapat meniru Jepang secara persis. Kondisi kedua negara berbeda.


Pertanyaan yang lebih mendasar ialah bagaimana memastikan bahwa investasi hari ini membentuk kemampuan produksi dan pengetahuan yang bertahan dalam jangka panjang.


Sebuah pabrik dapat dibangun dalam beberapa tahun. Namun, ekosistem yang menghasilkan insinyur, teknisi, peneliti, pemasok, pengelola mutu, dan inovasi membutuhkan waktu serta kesinambungan.


Ketika sebuah proyek selesai, apakah kemampuan nasional ikut tumbuh, atau kegiatan berhenti ketika proyek dan kontrak berakhir?


Pertanyaan itu dapat digunakan untuk menilai berbagai program pembangunan, tanpa harus terlebih dahulu menyimpulkan bahwa suatu program berhasil atau gagal.


05. NORWEGIA: KEKAYAAN ALAM DAN PILIHAN ANTARGENERASI


Norwegia merupakan negara penghasil minyak dan gas yang membangun mekanisme untuk mengelola pendapatan sumber daya alamnya dalam jangka panjang.


Negara tersebut membentuk Government Pension Fund Global, yang menerima pendapatan negara dari kegiatan; perminyakan dan hasil investasi dana tersebut. Pengelolaannya berada dalam kerangka kebijakan fiskal dan aturan yang ditetapkan pemerintah serta parlemen.


Sumber: https://www.regjeringen.no/en/dep/fin/about-the-ministry/subordinateagencies/the-government-pension-fund-/id270410/


Gagasan dasarnya penting: pendapatan dari sumber daya yang tidak terbarukan tidak seluruhnya harus dihabiskan ketika pendapatan itu diterima.


Sebagian kekayaan dapat dikelola dan diinvestasikan agar manfaatnya tidak hanya dinikmati oleh generasi yang hidup pada masa produksi minyak dan gas berlangsung.


Pada akhir 2025, nilai kepemilikan dana tersebut dilaporkan sekitar NOK21.300 miliar. Nilai itu menunjukkan besarnya akumulasi aset, tetapi tidak berarti seluruhnya merupakan uang yang bebas dibelanjakan pemerintah setiap saat. Penggunaan dana tetap terikat pada kerangka fiskal dan ketentuan pengelolaannya.


Sumber: https://www.norskpetroleum.no/en/economy/governments-revenues/


Keberhasilan pengelolaan kekayaan alam tidak hanya ditentukan oleh keberadaan dana investasi. Ia juga memerlukan sistem pencatatan, pengawasan, kebijakan fiskal, tata kelola investasi, dan keputusan politik yang mempertimbangkan masa depan.


Norwegia pun memiliki tantangan sendiri, termasuk ketergantungan ekonomi pada sektor energi dan kebutuhan menyesuaikan diri dengan transisi energi global.


Namun, pengalaman tersebut memberikan contoh konkret tentang bagaimana pendapatan dari sumber daya alam dapat ditempatkan dalam kerangka pengelolaan lintas generasi.


APA YANG DAPAT KITA LIHAT DARI PENGALAMAN INI?


Indonesia memiliki kekayaan mineral, energi, kehutanan, kelautan, dan berbagai sumber daya lainnya.


Pertanyaan strategisnya tidak berhenti pada besarnya penerimaan negara atau nilai ekspor.


Perlu pula ditanyakan: berapa besar manfaat sumber daya tersebut yang berubah menjadi pendidikan, penelitian, infrastruktur produktif, kemampuan industri, kesehatan masyarakat, dan aset yang dapat dinikmati generasi berikutnya?


Pertanyaan itu tidak berarti semua pendapatan sumber daya harus disimpan dalam dana investasi. Negara juga memiliki kebutuhan pembangunan yang mendesak.


Yang perlu diperiksa adalah keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan kemampuan masa depan.


Ketika sumber daya alam berkurang atau tidak lagi memberikan pendapatan sebesar sekarang, kemampuan apa yang telah ditinggalkan bagi generasi berikutnya?


06. TIONGKOK: KETIKA PEMIKIRAN, NEGARA, DAN KEKUASAAN BERTEMU DALAM SEJARAH PANJANG


Tiongkok memperlihatkan hubungan panjang antara pemikiran politik, administrasi negara, strategi militer, pendidikan, dan pembentukan peradaban.


Dalam tradisi pemikirannya terdapat nama Sun Tzu, yang dikenal melalui karya tentang strategi perang, serta Konfusius, yang pemikirannya membahas moralitas, hubungan antarmanusia, pendidikan, dan tata pemerintahan.


Keduanya tidak mengajarkan hal yang sama. Sun Tzu terutama dikenal dalam tradisi strategi militer, sedangkan Konfusius menekankan pembentukan manusia dan tatanan moral-politik.


Pemikiran Konfusianisme memperoleh kedudukan penting dalam pemerintahan kekaisaran pada masa Dinasti Han, khususnya pada masa Kaisar Wu pada abad kedua sebelum Masehi. Namun, pemerintahan Tiongkok tidak pernah semata-mata dijalankan oleh ajaran Konfusius. Praktik administrasi dan hukum juga dipengaruhi tradisi pemikiran lain serta kebutuhan pragmatis negara.


Sejarah ini memperlihatkan bahwa gagasan tidak langsung menjadi kekuatan negara begitu dilahirkan. Gagasan harus diterjemahkan ke dalam pendidikan, administrasi, norma, kebijakan, dan praktik sosial.


Tiongkok juga mengalami pergantian dinasti, perang saudara, invasi, krisis politik, serta periode kemajuan dan kemunduran. Tidak ada satu ajaran yang dengan sendirinya menjamin kestabilan sepanjang sejarah.


Dalam konteks modern, kemajuan Tiongkok tidak dapat dijelaskan hanya melalui warisan kebudayaannya. Industrialisasi, pendidikan, investasi, kebijakan ekonomi, infrastruktur, penelitian, dan integrasi ke perdagangan global merupakan bagian penting dari perkembangannya.


APA YANG DAPAT KITA LIHAT DARI PENGALAMAN INI?


Indonesia juga memiliki warisan pemikiran dan pengalaman pemerintahan yang panjang.


Namun, keberadaan warisan tersebut belum dengan sendirinya menjawab bagaimana ia dapat berkontribusi terhadap kualitas kebijakan masa kini.


Pertanyaan yang dapat diajukan ialah: bagaimana pemikiran tentang kepemimpinan, tanggung jawab, tata kehidupan, dan kepentingan bersama dapat dipelajari secara kritis, dibandingkan dengan pengalaman lain, lalu diuji relevansinya bagi masalah Indonesia sekarang?


Warisan pemikiran akan lebih produktif jika tidak berhenti pada pengagungan tokoh atau masa lalu.


Bagaimana gagasan dapat menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kemampuan, dan kemampuan menjadi praktik yang memberikan manfaat bagi masyarakat?


Pertanyaan itu menghubungkan sejarah pemikiran dengan kebutuhan pembangunan masa kini.


07. UNI SOVIET: KETIKA KEKUATAN BESAR MENGHADAPI KRISIS DARI DALAM


Pada akhir Desember 1991, Uni Soviet berhenti eksis sebagai sebuah negara.


Peristiwa tersebut merupakan salah satu perubahan geopolitik paling besar pada abad ke-20. Uni Soviet memiliki persenjataan nuklir, kemampuan militer besar, industri strategis, dan pengaruh internasional yang luas.


Namun, kekuatan militer tidak dapat dengan sendirinya mencegah pecahnya negara.


Pembubaran Uni Soviet tidak terjadi karena satu sebab tunggal. Sejarawan menelaah berbagai faktor, termasuk kesulitan ekonomi, persoalan dalam sistem politik, perubahan kebijakan pada masa Mikhail Gorbachev, menguatnya gerakan nasional di republik-republik penyusunnya, dan konflik kepentingan di antara para elite politik.


Pengalaman ini dibahas dalam kajian sejarah mengenai pembubaran Uni Soviet.


Perlu dicatat bahwa pembubaran tersebut bukan berarti seluruh prosesnya berlangsung tanpa konflik atau kekerasan. Sejumlah kawasan mengalami ketegangan dan kekerasan, meskipun pembubaran pusat negara Uni Soviet tidak didahului penaklukan militer atas seluruh wilayahnya oleh negara asing.


Pengalaman ini memperlihatkan perbedaan antara memiliki kekuatan besar dan mampu menjaga keberlangsungan suatu sistem politik.


Sebuah negara dapat mempunyai teknologi militer yang canggih, tetapi tetap menghadapi persoalan ekonomi, legitimasi politik, hubungan pusat dan daerah, serta kepercayaan masyarakat terhadap institusi.


Sebaliknya, krisis internal tidak otomatis menyebabkan keruntuhan. Kemampuan memperbaiki institusi, menyelesaikan konflik, dan menyesuaikan kebijakan dapat membantu suatu negara melewati tekanan.


APA YANG DAPAT KITA LIHAT DARI PENGALAMAN INI?


Kasus Uni Soviet tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa suatu negara akan runtuh hanya karena kehilangan karakter atau kepercayaan rakyat. Penjelasan semacam itu terlalu sederhana untuk peristiwa sejarah yang kompleks.


Namun, kasus ini mengingatkan bahwa ketahanan nasional memiliki banyak dimensi.


Pertahanan militer, ekonomi, tata kelola, hubungan sosial, legitimasi institusi, dan kemampuan menyelesaikan konflik merupakan bagian dari persoalan yang saling berkaitan.


Bagaimana memastikan bahwa kekuatan negara tidak hanya tampak besar dalam angka dan persenjataan, tetapi juga memiliki institusi yang mampu bekerja, dipercaya, dan menyesuaikan diri ketika menghadapi perubahan?


PENUTUP — DARI SUMBER DAYA MENUJU KEMAMPUAN NASIONAL


Tujuh pengalaman di atas memperlihatkan situasi yang berbeda.


Singapura mengembangkan kedudukan maritim. Taiwan membangun kemampuan dalam industri semikonduktor. Israel mengembangkan ekosistem riset dan teknologi. Jepang membangun kembali kemampuan industrinya setelah perang. Norwegia mengelola pendapatan sumber daya alam dengan orientasi jangka panjang. Tiongkok memperlihatkan hubungan kompleks antara tradisi pemikiran dan praktik pemerintahan. Uni Soviet menunjukkan bahwa kekuatan militer tidak dengan sendirinya menjamin keberlangsungan suatu negara.


Tidak ada satu rumus yang dapat diterapkan begitu saja kepada semua negara.


Geografi, sejarah, sumber daya, sistem politik, hubungan internasional, dan pilihan kebijakan membentuk kondisi yang berbeda. Karena itu, membandingkan pengalaman negara lain bukan berarti menyalin seluruh modelnya.


Yang dapat dilakukan adalah memeriksa mekanisme di balik hasilnya.


Sumber daya perlu diolah. Pengetahuan perlu dikembangkan. Manusia perlu dipersiapkan. Institusi perlu bekerja. Teknologi perlu dikuasai. Kebijakan perlu dievaluasi. Hasil pembangunan perlu diukur, termasuk manfaatnya bagi masyarakat dan generasi mendatang.


Dari sini, satu rangkaian pemikiran dapat diajukan:


SUMBER DAYA → PENGETAHUAN → KEMAMPUAN → KEKUATAN NASIONAL → KESEJAHTERAAN DAN KEMANDIRIAN.


Rangkaian tersebut bukan hukum yang menjamin keberhasilan. Ia merupakan kerangka untuk memeriksa apakah sumber daya yang dimiliki suatu bangsa benar-benar menghasilkan kemampuan yang dibutuhkan.


Bagi Indonesia, pertanyaan ini menjadi semakin penting karena kekayaan alam, jumlah penduduk, wilayah kepulauan, dan warisan kebudayaannya menghadirkan peluang sekaligus tantangan.


Bagaimana seluruh potensi itu dihubungkan? Bagaimana pengetahuan diubah menjadi kemampuan produksi dan teknologi? Bagaimana pembangunan ekonomi berjalan bersama peningkatan kualitas manusia? Bagaimana kekuatan negara dibangun tanpa mengabaikan tanggung jawab terhadap masyarakat?


Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita pada pembahasan berikutnya.


Indonesia memiliki Pancasila sebagai dasar negara, tradisi pemikiran dan kebudayaan Nusantara, serta pengalaman sejarah yang beragam. Namun, bagaimana nilai-nilai dan warisan tersebut dipelajari, diuji, dan diterjemahkan menjadi kemampuan nyata untuk menghadapi tantangan abad ke-21?


Itulah wilayah yang akan dibahas dalam seri berikutnya.


Bukan untuk mencari negara mana yang harus ditiru, melainkan untuk membuka pertanyaan tentang kemampuan apa yang perlu dibangun Indonesia dari pengalaman, nilai, dan sumber dayanya sendiri.


Bersambung SERI 2

Artikel Lainnya