Home › Nasional

Iran Ubah Taktik Hadapi Tekanan AS, Serangan Kapal di Selat Hormuz Meningkat

Oleh : Rikard Djegadut - Kamis, 15/10/2026 07:44 WIB


Iran Ubah Taktik Hadapi Tekanan AS, Serangan Kapal di Selat Hormuz Meningkat

Jakarta, INDONEWS.ID – Iran mengubah taktik militernya dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat (AS), dengan meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah tersebut diduga bertujuan mempertahankan tingginya harga minyak dunia sekaligus memberikan tekanan politik kepada Washington menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November 2026.

Perubahan strategi itu diungkapkan dua pejabat senior Iran kepada Reuters. Mereka menyebut Teheran mulai menerapkan pola serangan berbeda terhadap kapal-kapal yang dianggap melanggar pembatasan yang diberlakukan Iran di jalur pelayaran strategis tersebut.

Salah satu pejabat mengatakan, perubahan taktik mulai diterapkan sekitar 10 hari sebelum laporan Reuters diterbitkan pada 14 Oktober 2026. Strategi baru itu mencakup perubahan jenis dan intensitas serangan terhadap kapal-kapal yang menjadi sasaran.

“Tujuannya adalah untuk menggagalkan upaya Amerika Serikat dan sekutunya untuk menurunkan harga minyak global,” kata salah satu pejabat Iran, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.

Kedua pejabat itu juga menyatakan bahwa keputusan perubahan strategi diambil pada tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan dikoordinasikan di seluruh pemerintahan.

Iran Gunakan Pengintai di Kapal Kecil

Perubahan taktik Iran juga dikonfirmasi seorang pejabat militer AS yang berbicara dengan syarat anonim. Menurut pejabat tersebut, setelah kemampuan radar Iran mengalami kerusakan akibat serangan AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mulai memanfaatkan pengintai tanpa senjata yang beroperasi menggunakan kapal-kapal kecil.

Pengintai tersebut bertugas mengidentifikasi sasaran potensial, termasuk kapal Angkatan Laut AS, sebelum informasi diteruskan kepada IRGC. Dalam salah satu insiden yang diungkapkan pejabat militer AS, pasukan AS menemukan pengintai Iran yang beroperasi dari sebuah kapal dan melaporkan keberadaan target kepada IRGC.

Pasukan AS kemudian mencegat kapal tersebut, memerintahkan awaknya meninggalkan kapal, lalu menghancurkannya. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, menurut keterangan pejabat tersebut.

Penggunaan metode tersebut menunjukkan bahwa Iran menyesuaikan pola operasinya untuk menghadapi keterbatasan kemampuan militer setelah serangan AS.

Di sisi lain, pejabat militer AS menilai Iran berhati-hati menggunakan kapal-kapal cepat yang masih dimilikinya karena tidak ingin kehilangan lebih banyak aset militer. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan perairan internasional. Jalur ini memiliki peran penting dalam perdagangan minyak dan gas dunia.

Ancaman serta serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut telah menghambat lalu lintas pelayaran dan mendorong kenaikan harga minyak. Meski demikian, sebagian pengiriman minyak masih berlangsung melalui jalur tersebut.

Menurut laporan IDNFinancials yang merujuk perkembangan serangan di kawasan, tekanan Iran juga meluas ke perairan di luar Selat Hormuz, termasuk Teluk Oman. Perluasan wilayah operasi ini menambah risiko bagi kapal-kapal komersial yang melintasi kawasan tersebut.

Perubahan strategi Iran berlangsung di tengah konflik dengan AS dan Israel serta upaya Washington menekan Teheran melalui jalur militer dan ekonomi.

Sementara itu, pemilihan paruh waktu AS pada November 2026 menjadi salah satu pertimbangan politik dalam strategi Iran. Pemilihan tersebut akan menentukan komposisi kekuatan di Kongres AS.

Dengan meningkatkan risiko terhadap pelayaran dan pasokan energi, Iran berupaya menambah tekanan ekonomi dan politik terhadap pemerintahan AS. Namun, perkembangan situasi di Selat Hormuz juga berpotensi memperbesar risiko terhadap perdagangan internasional, keamanan maritim, dan stabilitas harga energi dunia.


Artikel Lainnya