Jakarta, INDONEWS.ID - Jika Dedi Mulyadi (KDM) tidak maju dalam persaingan calon presiden, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) unggul atas Gibran Rakabuming Raka dan Prabowo Subianto di kalangan pemilih yang mengenal ketiganya.
Di kelompok ini, AHY mendapat 37,2 persen, Gibran 25,5 persen, dan Prabowo 19,2 persen.
Demikian temuan survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Efek Tahu Gibran dan AHY pada Elektabilitas Mereka” yang dilakukan pada 1-10 Oktober 2026. Hasil survei ini disampaikan Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, di kanal YouTube SMRC TV pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Video presentasi survei bisa disimak di sini: https://youtu.be/ka405CF6mzE
Deni menjelaskan bahwa KDM adalah tokoh dengan elektabilitas tertinggi saat ini. Dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama, ia meraih 35,5 persen, jauh di atas tokoh lain. Keunggulannya ditopang popularitas dan kesukaan publik yang sama-sama tinggi: KDM dikenal 92 persen warga, dan 92 persen dari mereka menyatakan suka.
Namun, kata Deni, KDM belum tentu maju sebagai calon presiden karena sejumlah alasan, misalnya karena dia adalah anggota Partai Gerindra yang sama dengan Prabowo. Karena itu SMRC menguji simulasi tertutup tiga nama tanpa KDM: Gibran, AHY, dan Prabowo.
Deni menjelaskan alasan Gibran dan AHY dipasang melawan Prabowo dalam simulasi ini. Menurut Deni, elektabilitas Gibran dalam simulasi semi terbuka imbang dengan Prabowo. Gibran juga wakil presiden dan punya hubungan kuat dengan PSI, partai yang mungkin bisa mencalonkannya.
Demikian pula dengan AHY yang punya partai yang mungkin bisa mencalonkannya. Karena itu, menurut Deni, simulasi tiga nama ini cukup realistis dan, yang lebih penting, relevan untuk menguji kekuatan elektabilitas Prabowo ketika Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing. Hasilnya, di antara semua responden, Gibran mendapat 29,7 persen, AHY 28,2 persen, dan Prabowo 22,7 persen. Yang belum menentukan pilihan 19,4 persen.
“Gibran imbang dengan AHY kalau mereka bersaing dengan Prabowo meskipun AHY masih banyak yang tidak tahu,” jelas Deni.
Deni mengatakan bahwa ada diskusi tentang elektabilitas Gibran yang menarik. Tapi diskusi tersebut baru separuhnya, belum tuntas. Hasil survei ini melanjutkan diskusi tersebut.
AHY Paling Disukai
Dari sisi kedikenalan, lanjut Deni, AHY memang tertinggal. Ia baru dikenal 70 persen warga, sementara Gibran dikenal 97 persen dan Prabowo 99 persen.
Tetapi AHY paling disukai di antara ketiganya. Dari warga yang mengenalnya, 77 persen menyatakan suka pada AHY dan hanya 14 persen tidak suka. Gibran disukai 66 persen dan tidak disukai 29 persen, sedangkan Prabowo disukai 63 persen dan tidak disukai 33 persen.
Karena itu, ketika analisis dibatasi hanya pada yang mengenal ketiga tokoh, posisi AHY berubah paling besar. Dukungannya naik 9 poin dibanding hasil di antara semua responden. Gibran justru turun 4,2 poin dan Prabowo turun 3,5 poin. Yang belum menentukan pilihan di kelompok ini 18,1 persen.
“Begitu AHY dikenal sama luasnya dengan Gibran, AHY melejit dan mengalahkan Gibran dan Prabowo,” kata Deni.
Pola serupa muncul dalam simulasi head to head antara AHY dan Gibran. Di antara semua responden, AHY mendapat 41,6 persen dan Gibran 36 persen, dengan 22,4 persen yang belum menentukan pilihan. Di kalangan pemilih yang mengenal keduanya, jarak itu melebar: AHY naik menjadi 51,1 persen, sementara Gibran turun menjadi 28,7 persen. Yang belum menentukan pilihan 20,3 persen.
Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Populasi dibagi menjadi dua kelompok (subpopulasi). Pada subpopulasi pemilik handphone, sampel sebanyak 1013 orang dipilih secara acak dengan metode double sampling dan responden diwawancara lewat telepon. Sementara pada subpopulasi yang tidak punya handphone, sampel sebanyak 200 orang dipilih secara acak dengan metode stratified multistage random sampling dan responden diwawancara secara tatap muka.
Total sampel yang diwawancara sebanyak 1213 responden. Margin of error survei diperkirakan +/- 2.9% pada tingkat kepercayaan 95%, asumsi simple random sampling. *