Home › Opini

Bung Karno, Imam Bukhari, dan Mas Bro, Surat dari Samarkand, 31 Oktober 2026

Oleh : luska - Minggu, 01/11/2026 08:10 WIB


Bung Karno, Imam Bukhari, dan Mas Bro, Surat dari Samarkand, 31 Oktober 2026

Oleh Antony Zeidra Abidin


"Santai aja, Pak. Semua udah beres, aman terkendali."


Kalimat itu bukan saya dengar di Jakarta. Saya mendengarnya di Samarkand, Uzbekistan. Yang mengucapkannya pemuda Samarkand asli, dengan logat Jakarta yang sangat fasih.


Kami memanggilnya Mas Bro. Ia pernah kuliah dua tahun di Universitas Negeri Jakarta. Bahasa Indonesianya lancar, bahkan dengan gaya anak muda metropolitan. Kadang saya lupa sedang berada ribuan kilometer dari tanah air.


*Jejak Bung Karno* 

Tujuan utama kebanyakan orang Indonesia ke sini adalah makam Imam Bukhari. Letaknya di Desa Hartang, sekitar 25 kilometer dari kota. Kini makam itu megah, dikunjungi peziarah dari seluruh dunia.


Kemegahan itu tak lepas dari jasa Bung Karno. Tahun 1950-an, ia diundang Nikita Khrushchev ke Uni Soviet. Bung Karno memberi syarat: makam Imam Bukhari harus ditemukan dan dirawat. Soviet yang komunis pun bekerja keras memenuhinya.


Bung Karno juga dikenang karena satu hal lagi. Masjid Biru di Leningrad, kini St. Petersburg, lama ditutup penguasa Soviet. Setelah kunjungan Bung Karno, masjid itu dikembalikan kepada umat Islam.


Warga Samarkand tidak melupakan semua itu. Nama Sukarno disebut dengan hormat. Mas Bro salah satunya. Ia pengagum Bung Karno, dan bercerita tentangnya dengan mata berbinar.


*Lebih dari Pemandu Biasa*

Samarkand kini semakin ramai dikunjungi orang Indonesia. Ada keluarga, rombongan pengajian, pengusaha, juga pejabat dan tokoh penting. Di sinilah peran Mas Bro menjadi penting.


Ia bukan sekadar pemandu yang menghafal tahun dan nama raja.Ia mengurus perjalanan dari awal sampai akhir. Hotel, makanan yang tentu saja halal, kendaraan, jadwal, bahkan rute lintas negara bekas Uni Soviet.


Pengetahuannya luas. Ia bisa menjelaskan Timur Lenk, Ulugh Beg, sampai politik Asia Tengah hari ini. Relasinya pun banyak. Pintu yang tertutup bagi orang lain, sering terbuka untuknya.


Yang membuat saya terkesan, ia serius dan profesional. Tepat waktu, rapi, dan teliti. Tetapi ia juga pandai bercanda khas Indonesia. Perjalanan panjang jadi terasa ringan.


Banyak tamu Indonesia merasakan hal yang sama. Kalangan bisnis, pejabat, keluarga, hingga grup kecil wisatawan. Mereka pulang dengan kesan baik. Bukan hanya tentang Samarkand, tetapi tentang Mas Bro.


Ia lebih tepat disebut escort daripada guide. Pendamping perjalanan yang berpendidikan tinggi dan berwawasan luas. Ia bukan hanya menunjukkan jalan, tetapi juga menjelaskan makna.


*Kenangan 48 Tahun Lalu*

Bersama Mas Bro, saya teringat pengalaman 48 tahun silam. Tahun 1978, saya berkunjung ke Amerika Serikat. Saya didampingi seorang mahasiswa S3 yang pernah kuliah di Malang.


Ia mendapingi saya ke banyak kampus. Juga ke desa-desa kecil di berbagai negara bagian. Saya tidak hanya melihat gedung tinggi New York. Saya melihat Amerika yang sesungguhnya, dari dekat.


Pendamping seperti itu mengubah sebuah perjalanan. Kita tidak sekadar menjadi turis. Kita menjadi tamu yang dipahamkan. Itulah yang saya rasakan kembali di Samarkand.


*Jembatan Dua Bangsa*

Ada pelajaran yang saya petik dari Mas Bro. Pendidikan yang ia terima di Jakarta tidak sia-sia. Dua tahun di UNJ menjadikannya jembatan antara dua bangsa.


Ini juga pengingat bagi kita. Beasiswa dan pertukaran pelajar bukan urusan kecil. Mahasiswa asing yang belajar di Indonesia kelak bisa menjadi sahabat Indonesia di negerinya.


Bung Karno membangun jembatan itu lewat diplomasi tingkat tinggi. Mas Bro melanjutkannya dengan cara sederhana. Melayani tamu Indonesia dengan hormat, ilmu, dan keramahan.


*Penutup*

Di depan makam Imam Bukhari, saya membaca Al-Fatihah. Untuk sang Imam, untuk Bung Karno, untuk semua yang menjaga ingatan.


Lalu Mas Bro menepuk bahu saya pelan. "Yuk, Pak. Masih ada satu tempat lagi yang keren banget."


Saya tersenyum. Di Samarkand, Bung Karno tidak hanya dikenang. Ia punya pewaris kecil yang setia: seorang pemuda Samarkand yang fasih berbahasa Indonesia.


Samarkand, 31 Oktober 2026

Artikel Lainnya