Home › Nasional

Ini Tuntutannya! Demo Gen Z Menggema di Empat Negara Eropa, dari Paris hingga Lisbon

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 01/11/2026 11:11 WIB


Ini Tuntutannya! Demo Gen Z Menggema di Empat Negara Eropa, dari Paris hingga Lisbon

Jakarta, INDONEWS.ID – Gelombang unjuk rasa yang digerakkan anak muda kembali melanda Eropa pada Sabtu (31/10/2026). Prancis menjadi pusatnya, dengan aksi akhir pekan ketiga berturut-turut, sementara demonstrasi serupa juga digelar di Jerman, Portugal, dan Belanda.

Di Prancis, ratusan ribu orang yang terinspirasi para pelajar SMA turun ke jalan memprotes biaya hidup dan kondisi pendidikan. Politico Europe mencatat sekitar 320.000 orang ikut dalam aksi tersebut.

Pemerintah Prancis mengerahkan sekitar 70.000 polisi dan petugas keamanan di seluruh negeri, sementara rute demonstrasi di Paris dipindahkan ke kawasan pinggiran. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez memperingatkan risiko kerusuhan yang sangat tinggi, terutama selepas malam tiba bertepatan dengan Halloween, setelah ribuan orang ditangkap akibat kericuhan dan penjarahan pada aksi 17 dan 24 Oktober.

Polisi Paris juga menutup akses ke Place de la Republique dan Les Halles, kawasan favorit anak muda, mulai pukul 23.00 hingga 06.00 pada Sabtu dan Minggu. Remaja tanpa pendamping dikenai jam malam terpisah mulai pukul 21.00 di sekitar Champs-Elysees.

Tuntutan massa beragam: pelajar memprotes sistem penerimaan universitas, aktivis lingkungan menyuarakan krisis iklim, dan kelompok lain menyoroti mahalnya biaya hidup.

Seorang pelajar menggambarkan kondisi sekolahnya yang memprihatinkan. "Di sekolah saya, plafonnya runtuh karena kebocoran air," katanya, seraya menyebut kekurangan guru dan toilet yang rusak.

Jerman: Tolak Wajib Militer

Di Jerman, aksi digelar serentak di 34 kota, termasuk Berlin, Frankfurt, dan München, oleh gerakan "Gen Z regelt" (Gen Z mengambil kendali). Massa memprotes kenaikan biaya hidup, kemungkinan diberlakukannya kembali wajib militer, serta pemangkasan program sosial. Penyelenggara mengklaim pesertanya lebih dari 100.000 orang, meski perkiraan polisi lebih rendah.

Juru bicara Gen Z regelt, Lina Friedrich, menegaskan bahwa massa turun ke jalan untuk "memperjuangkan perdamaian dan kebebasan, bukan perang dan pemaksaan." Menurut dia, prioritas gerakan adalah dukungan bagi sistem pendidikan dan kesehatan, penolakan wajib militer, serta pembagian beban pajak yang lebih adil.

Di Berlin, anak muda berkumpul di Gerbang Brandenburg. Seorang pelajar SMA, Lara Breitenbach, menuntut lebih banyak dana untuk layanan sosial, pendidikan, dan perlindungan iklim. "Kamilah yang paling lama akan merasakan dampaknya," ujarnya.

Tidak semua aksi berjalan damai. Di Frankfurt, sejumlah orang menjarah toko dan melempari polisi dengan batu hingga beberapa petugas terluka, satu di antaranya luka berat. Di Hamburg, sekitar 6.700 orang berdemonstrasi; aksi berjalan tertib sebelum memanas di dekat stasiun pusat, dan polisi akhirnya menggunakan semprotan merica serta meriam air.

Di Lisbon, Portugal, ribuan orang, termasuk keluarga yang membawa anak kecil, berunjuk rasa secara damai memprotes krisis perumahan. Sebagian di antaranya membawa poster bertuliskan "Rumah atau Api".

Sementara di Den Haag, Belanda, polisi bersiaga ketat di pusat perbelanjaan setelah beredar seruan demo di media sosial dan kekhawatiran akan penjarahan. Hingga sore, tidak ada kericuhan besar, namun banyak toko menutup etalasenya dengan papan sebagai langkah antisipasi.

Gelombang protes ini bermula dari blokade sekolah oleh pelajar SMA di Prancis pada akhir September. Sejak itu, aksi serupa menjalar ke Belgia, Italia, Spanyol, Yunani, hingga Albania, dengan benang merah yang sama: mahalnya biaya hidup, sekolah yang kekurangan sumber daya, dan masa depan yang dirasa makin sempit bagi generasi muda.*



Artikel Lainnya