Jakarta, INDONEWS.ID – Indonews.id kembali menyajikan tulisan dari meja redaksi atau catatan redaksi yang rutin dilakukan sekali sepekan dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.
Kali ini, catatan redaksi ditulis oleh Rikard Djegadut selaku Pemimpin Redaksi Indonews.id yang membahas mengenai fenomena aksi demonstrasi para pelajar perancis yang mulanya dimulai oleh pelajar SMA Saint-Exupéry, Créteil, sebuah sekolah menengah atas di pinggiran tenggara Paris, Perancis.
Aksi tersebut kemudian meluas di hingga ke penjuru negeri. Pemerintah menyebut bahwa per 1 Oktober, lebih dari 1.000 sekolah terdampak aksi blokade. Aksi ini memuncak pada 17 Oktober 2026 dan menjadi sangat anarkis.
Selamat membaca!
Sabtu, 17 Oktober 2026, seorang perusuh memanjat patung Jeanne d’Arc di Place des Pyramides, jantung kota Paris. Pada hari yang sama di Toulouse, kepala patung santa pelindung Prancis itu ditutup rompi kuning, dan sehelai bendera Palestina diikatkan di sampingnya. Tak lama kemudian, seorang pemuda naik, melepas rompi itu, lalu membuang benderanya ke tanah.
Gambar itu menyebar cepat di media sosial. Banyak warganet menyebut Jeanne d’Arc seolah “dijilbabi”. Bagi sebagian orang, itu hanya aksi iseng di tengah kerusuhan. Bagi Redaksi, itu tanda yang tidak boleh dilewatkan.
Jeanne d’Arc bukan patung biasa. Ia adalah pahlawan nasional sekaligus santa Gereja Katolik yang dikanonisasi pada 1920. Ia membela Prancis sambil mengakui imannya kepada Allah. Menyasar dia berarti menyasar dua hal inti sekaligus bagi masyarakat Perancis yakni bangsa dan iman.
Dari Ruang Kelas ke Barikade
Gerakan ini bermula dengan tuntutan yang wajar. September lalu, siswa dan guru di SMA Saint-Exupéry, Créteil, pinggiran tenggara Paris, memprotes kelas yang sesak, guru yang kurang, dan gedung sekolah yang rusak. Per 1 Oktober, lebih dari 1.000 sekolah terdampak aksi blokade.
Redaksi tidak menolak tuntutan itu. Pendidikan yang layak adalah hak, dan menyuarakannya di jalan adalah hak pula. Namun 17 Oktober menunjukkan wajah lain. Pemerintah mencatat 550.000 peserta di seluruh Prancis, sementara penyelenggara menyebut 800.000.
Seorang demonstran meninggal karena mendadak henti jantung di Paris. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyebut lebih dari 600 polisi, gendarme, dan petugas pemadam kebakaran terluka, serta lebih dari 2.000 orang ditangkap. Balai Kota Limoges nyaris habis dibakar. Di Marseille, patung dada Marianne, lambang Republik, dirobohkan.
Pemerintah Kota Paris sendiri membedakan para perusuh dari mayoritas demonstran yang berunjuk rasa dengan damai. Pembedaan itu penting dan harus dijaga.
Bendera Siapa yang Berkibar?
Simbol yang paling mencolok justru tidak berhubungan dengan sekolah. Foto dan video yang berselweran menunjukkan bendera Palestina dibawa di sejumlah blokade, kadang bersama bendera Aljazair dan Maroko. Video pendek yang beredar memperlihatkan pendemo menutup wajah dengan bendera Palestina. Bendera tiga warna Prancis justru jarang terlihat di barisan yang paling ricuh.
Di Carpentras, Prancis selatan, blokade pelajar pada 1 Oktober diwarnai laporan yel-yel antisemit. Pemerintah kota melaporkannya ke aparat. Siapa di balik semua ini? Perdana Menteri Sébastien Lecornu menuding kelompok kiri radikal dan pelaku kriminal sebagai biang sebagian besar kekerasan.
Partai kiri La France Insoumise terang-terangan mendukung mobilisasi pelajar. Laporan intelijen Kepolisian Paris, seperti diberitakan Le Monde, menunjuk keterlibatan kelompok kiri jauh, meski juga meragukan adanya satu komando pusat dalam gerakan yang terpecah-pecah itu.
Ada pula konteks tanggal yang tak bisa diabaikan. Tanggal 17 Oktober adalah peringatan pembantaian demonstran Aljazair oleh polisi Paris pada 1961. Aktivis Extinction Rebellion memasang rompi kuning raksasa di Monumen Republik bertuliskan pesan yang menautkan kekerasan polisi terhadap pelajar hari ini dengan peristiwa 1961. Di titik ini, isu sekolah, isu biaya hidup, sentimen pascakolonial, dan solidaritas Palestina melebur jadi satu.
Maka pertanyaan “ditunggangi” bukan tuduhan kosong. Indikasi keterlibatan kelompok kiri radikal cukup kuat dan diakui pemerintah Prancis sendiri. Tetapi menuding imigran sebagai satu kelompok adalah soal lain. Hingga kini otoritas belum menemukan organisasi Muslim atau Islamis yang mengarahkan kerusuhan.
Bendera yang dibawa sebagian anak muda keturunan imigran adalah pertanyaan tentang identitas, bukan bukti persekongkolan. Menyamaratakan jutaan warga keturunan imigran sama tidak adilnya dengan menyamaratakan para pelajar yang berdemo damai.
Di media sosial juga beredar video perusakan patung Bunda Maria, bahkan ada yang memperagakan pelecehan seksual terhadapnya. Setelah dilakukan penelurusan dan verifikasi, video itu tentang perusakan patung Bunda Maria terjadi di Porto-Vecchio, Korsika, bagian lain dari negara yang menyandang julukan Putri Sulung Gereja ini pada malam 30 September menuju 1 Oktober.
Dua pemuda ditahan. Ratusan warga berkumpul berdoa di lokasi, dan wali kota berjanji menggantinya. Namun Redaksi belum menemukan bukti bahwa peristiwa itu berkaitan dengan demonstrasi pelajar, dan video pelecehan terhadap patung Maria belum dapat kami verifikasi.
Dua Arus dalam Satu Generasi
Kerusuhan ini datang tiga pekan setelah Paus Leo XIV mengunjungi Prancis, 25 hingga 28 September. Misa di jantung Paris dihadiri sekitar 800.000 orang. Di Stade de France, lebih dari 80.000 orang muda berjaga dalam doa bersama Paus.
Kunjungan itu menyorot gejala yang mengejutkan di negeri yang bangga dengan laïcité-nya. Data Konferensi Waligereja Prancis mencatat lebih dari 21.380 baptisan remaja dan dewasa pada 2026, termasuk 8.100 remaja usia 11 hingga 17 tahun. Baptisan dewasa naik 28 persen dibanding tahun lalu dan meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam satu dekade. Sebagian besar baptisan dewasa baru berusia di bawah 40 tahun. Paus Leo mengaku tersentuh oleh banyaknya orang yang kembali ke ambang iman.
Di seberang Pegunungan Alpen, kabinet Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni pada 24 September mengesahkan dekret yang melarang burka dan cadar di sekolah, serta membatasi 30 persen siswa yang belum menguasai bahasa Italia dalam satu kelas. Meloni menyebut larangan burka sebagai soal keamanan dan kesetaraan.
Jadi, apakah kerusuhan ini ada kaitannya dengan semua itu? Redaksi tidak menemukan bukti adanya koordinasi. Tetapi simbol berbicara. Pada generasi yang sama, sebagian anak muda Prancis berbondong-bondong ke kolam baptis, sebagian lain membungkus santa pelindung negerinya dengan bendera negeri lain. Eropa sedang bertengkar tentang siapa dirinya, dan patung-patung menjadi medan pertempuran pertama.
Pertanyaan itu layak diajukan dengan kepala dingin. Jawabannya tidak boleh lahir dari video pendek yang belum diperiksa, melainkan dari penyelidikan yang jujur.
Bagi Indonesia, negeri majemuk dengan sejarah demonstrasi pelajar dan mahasiswa yang panjang, pelajarannya sederhana. Tuntutan yang sah bisa kehilangan maknanya ketika simbol suci orang lain dijadikan sasaran. Menghormati monumen dan rumah ibadah bukan soal agama tertentu, melainkan soal hidup bersama.
Meloni, menanggapi kerusuhan serupa di Milan, menulis singkat: “Berdemonstrasi adalah hak. Membakar kota kita tidak.”
Santa Jeanne d’Arc, doakanlah Prancis!
Rikard Djegadut
Pemimpin Redaksi