Home › Internasional

Harga Minyak Dunia Anjlok 7 Persen Usai AS dan Iran Buka Peluang Damai, Rupiah Ikut Menguat Tipis

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 03/11/2026 12:02 WIB


Ilustrasi kilang minyak lepas pantai. (Foto: Freepik/wirestock via Liputan6.com)
Ilustrasi kilang minyak lepas pantai. (Foto: Freepik/wirestock via Liputan6.com)

Jakarta, INDONEWS.ID - Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 7 persen pada perdagangan Senin (2/11/2026) waktu AS. Penurunan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran sama-sama menyatakan terbuka terhadap penyelesaian diplomatik atas konflik yang sudah mengguncang pasar energi selama delapan bulan.

Harga minyak jenis Brent turun 7,6 persen ke level US$104,77 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot 7,4 persen ke US$96,46 per barel, penurunan harian terbesar sejak 27 Juli 2026.

Pemicunya datang dari kedua belah pihak. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei telah memberi pemerintah sejumlah kewenangan untuk menempuh perundingan damai, seperti dikutip dari kantor berita IRNA.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menambahkan, kesepakatan bisa tercapai bila Washington menunjukkan iktikad baik. Teheran berharap AS mencabut sanksi, mengurangi kehadiran militer di kawasan, dan mengakhiri blokade.

Dari Washington, Presiden Donald Trump menyebut Iran ingin mencapai kesepakatan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Trump belum memutuskan apakah akan kembali menyerang Iran.

"Namun, kami lebih memilih untuk menyelesaikannya secara damai," kata Rubio kepada wartawan, seperti dikutip dari Liputan6.com.

Sepanjang Oktober 2026, harga minyak sempat naik lebih dari 10 persen karena pasar memperhitungkan risiko eskalasi militer setelah pemilu sela AS pada Selasa (3/11/2026).

Namun analis mengingatkan risiko belum hilang. Serangan terhadap kapal tanker dan aksi kelompok Houthi masih berlanjut. Pada fase konflik sebelumnya, rumor damai juga pernah menekan harga sebelum konflik kembali memanas.

Direktur Strategi Komoditas TD Securities, Ryan McKay, menilai premi risiko geopolitik tidak akan langsung lenyap hanya karena kabar diplomasi.

Penurunan harga minyak ikut memberi angin segar bagi rupiah. Pada pembukaan perdagangan Selasa (3/11/2026) pagi, rupiah menguat tipis 11 poin ke level Rp18.145 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya Rp18.156, menurut data Bisnis.com dan Kontan.*

(Rikard Djegadut)

Artikel Lainnya