GERILYA KOGNITIF
SERI 6:
BAGAIMANA TEKNOLOGI MEMILIH, MENYEBARKAN, DAN MEMPERKUAT INFORMASI YANG MEMENGARUHI PIKIRAN MANUSIA
Penulis : Brigjen (Purn) MJP.Hutagaol
Jakarta, 5 November 2026
---
1. KETIKA KITA MEMBUKA MEDIA SOSIAL, SIAPA YANG MENENTUKAN APA YANG KITA LIHAT?
Pernahkah kita memperhatikan bahwa ketika membuka media sosial, setiap orang dapat melihat isi beranda yang berbeda?
Seseorang lebih banyak melihat berita politik. Orang lain mendapatkan video hiburan, olahraga, perdagangan, atau isu sosial. Bahkan, dua orang yang mengikuti akun yang sama belum tentu menerima urutan informasi yang sama.
Mengapa demikian?
Salah satu jawabannya adalah algoritma rekomendasi.
Algoritma bekerja di balik layar untuk memilih, menyaring, mengurutkan, dan merekomendasikan konten berdasarkan berbagai sinyal, seperti aktivitas pengguna, jenis konten, hubungan antarakun, serta pola interaksi.
Dengan demikian, ruang digital bukan sekadar tempat kita mencari informasi. Ruang digital juga merupakan lingkungan yang ikut menentukan informasi apa yang lebih dahulu hadir di hadapan kita.
Di sinilah hubungan antara teknologi dan Gerilya Kognitif mulai terlihat.
2. APA ITU ALGORITMA?
Secara sederhana, algoritma adalah serangkaian instruksi atau aturan yang digunakan sistem komputer untuk memproses informasi dan menghasilkan keputusan tertentu.
Dalam media sosial, algoritma rekomendasi membantu menentukan konten yang ditampilkan kepada setiap pengguna.
Sistem dapat mempertimbangkan beberapa hal:
- Konten apa yang pernah kita tonton atau baca.
- Akun apa yang sering kita ikuti atau interaksikan.
- Berapa lama kita memperhatikan suatu konten.
- Topik apa yang sering kita cari.
- Bagaimana pengguna lain merespons konten tersebut.
- Seberapa baru dan relevan suatu informasi.
Namun, setiap platform memiliki sistem dan kebijakan yang berbeda. Kita tidak dapat menyimpulkan bahwa semua algoritma bekerja dengan cara yang sama.
Sistem rekomendasi menggunakan teknologi AI dan pembelajaran mesin untuk menyusun beranda yang dipersonalisasi bagi setiap pengguna.
Artinya, apa yang kita lihat bukan selalu gambaran lengkap dari seluruh informasi yang tersedia, melainkan hasil pemilihan dan pengurutan oleh sistem.
3. ALGORITMA: MESIN YANG MENGATUR PERHATIAN
Dalam kehidupan digital, perhatian manusia menjadi sumber daya yang sangat berharga.
Ketika seseorang berhenti untuk membaca, menonton, menyukai, membagikan, atau mengomentari sebuah konten, aktivitas itu dapat menjadi sinyal bagi sistem rekomendasi.
Konten yang memperoleh interaksi tinggi berpeluang mendapatkan jangkauan lebih luas, bergantung pada sistem dan kebijakan platform.
Di sinilah muncul persoalan.
Konten yang memancing kemarahan, ketakutan, kontroversi, atau rasa ingin tahu dapat memperoleh perhatian besar. Namun, tingginya perhatian tidak otomatis menunjukkan bahwa informasi tersebut benar.
VIRAL BUKAN BERARTI BENAR. POPULER BUKAN BERARTI TERBUKTI.
Sistem rekomendasi yang terlalu mengandalkan perilaku pengguna dapat menghadapi risiko lebih mengutamakan keterlibatan atau engagement daripada kebutuhan manusia untuk memperoleh informasi yang bermutu.
Karena itu, ukuran keberhasilan teknologi seharusnya tidak hanya dilihat dari lamanya orang berada di platform, tetapi juga dari manfaat informasi yang diterimanya.
4. AI: MEMPERCEPAT PRODUKSI DAN PENYEBARAN INFORMASI
Jika algoritma membantu memilih dan mengurutkan informasi, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat membantu menghasilkan dan mengolah informasi tersebut.
AI mampu membantu manusia:
- Menyusun tulisan dan merangkum dokumen.
- Menerjemahkan berbagai bahasa.
- Mengolah data dalam jumlah besar.
- Membuat gambar, suara, dan video.
- Menganalisis pola dan kecenderungan.
- Membantu pendidikan, penelitian, dan pelayanan publik.
Ini merupakan kemajuan besar.
Namun, kemampuan yang sama dapat disalahgunakan untuk menghasilkan informasi palsu, membuat identitas tiruan, memanipulasi suara dan gambar, serta memperbanyak konten menyesatkan.
OECD dalam Facts not Fakes: Tackling Disinformation, Strengthening Information Integrity (2024) membahas tantangan disinformasi dan pentingnya menjaga integritas informasi. AI generatif menambah tantangan karena mampu menghasilkan teks dan materi visual dalam skala besar.
Dengan demikian, AI bukan hanya alat untuk meningkatkan produktivitas. Dalam lingkungan informasi yang tidak sehat, AI juga dapat menjadi pengganda kecepatan dan skala penyebaran manipulasi.
5. KETIKA ALGORITMA DAN AI BEKERJA DALAM SATU LINGKARAN
Bayangkan sebuah informasi yang belum terverifikasi dibuat menjadi video dengan bantuan AI.
Video itu kemudian diunggah ke media sosial. Sejumlah akun membagikannya. Sebagian pengguna memberikan komentar dan reaksi. Aktivitas tersebut dapat menjadi sinyal bagi sistem rekomendasi untuk menampilkan konten itu kepada pengguna lain.
Jika terus memperoleh perhatian, jangkauannya dapat meluas.
Perhatikan hubungan berikut:
AI membantu menghasilkan konten → akun menyebarkan → pengguna berinteraksi → algoritma merekomendasikan → jangkauan berpotensi meluas.
Ini merupakan gambaran sederhana, bukan rumus pasti yang berlaku pada semua platform.
Kita juga harus memahami bahwa tidak semua konten yang viral merupakan hasil operasi terorganisasi. Ada konten yang menyebar secara alami karena menarik perhatian masyarakat.
Untuk menyimpulkan adanya operasi pengaruh terkoordinasi, diperlukan bukti mengenai pelaku, pola koordinasi, jaringan, dan tujuan yang hendak dicapai.
6. PERSONALISASI: SETIAP ORANG DAPAT MENERIMA DUNIA INFORMASI YANG BERBEDA
Salah satu kemampuan teknologi digital adalah personalisasi.
Sistem dapat menyesuaikan rekomendasi berdasarkan aktivitas dan minat pengguna.
Manfaatnya jelas: informasi yang relevan lebih mudah ditemukan.
Namun, terdapat risiko ketika seseorang terus-menerus menerima informasi yang sejalan dengan pandangan dan kebiasaannya sendiri.
Ia dapat semakin jarang bertemu dengan sudut pandang berbeda. Perbedaan pendapat bisa terlihat seperti ancaman, sementara informasi yang sesuai dengan keyakinannya lebih mudah diterima tanpa pemeriksaan.
Keadaan ini dapat mempersempit wawasan dan memperkuat polarisasi.
Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri mencari sumber yang beragam, membaca konteks, dan membandingkan informasi sebelum mengambil kesimpulan.
Kita tidak boleh membiarkan sistem rekomendasi menjadi satu-satunya jendela untuk memahami kehidupan.
7. BAGAIMANA MENGHADAPI KONTEN YANG DIBUAT DENGAN AI?
Di era AI, kita tidak cukup hanya bertanya apakah sebuah gambar atau video terlihat asli.
Kita harus memeriksa informasi secara lebih menyeluruh.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Periksa sumber pertama. Siapa yang menerbitkan informasi tersebut?
2. Periksa tanggal dan konteks. Apakah materi lama digunakan seolah-olah peristiwa baru?
3. Bandingkan dengan sumber lain. Apakah media atau lembaga tepercaya memberikan keterangan yang sama?
4. Periksa bukti pendukung. Adakah dokumen, rekaman utuh, atau keterangan resmi?
5. Jangan langsung membagikan. Terutama jika konten memancing kemarahan atau ketakutan.
6. Gunakan teknologi pemeriksa. Jika tersedia, periksa asal-usul dan keaslian materi digital, tetapi jangan mengandalkan satu alat pendeteksi saja.
Perlu diingat, tidak semua materi buatan AI adalah kebohongan. AI juga digunakan untuk menghasilkan karya yang sah dan bermanfaat.
Yang harus diuji adalah kebenaran isi, konteks, tujuan penggunaan, dan keterbukaan mengenai proses pembuatannya.
8. AI: ALAT KECERDASAN ATAU SENJATA PENGARUH?
Jawabannya bergantung pada manusia, tujuan, tata kelola, dan cara penggunaannya.
AI dapat digunakan untuk memperkuat pendidikan, mempercepat penelitian, meningkatkan pelayanan kesehatan, membantu pertanian, dan memperkuat keamanan siber.
Namun, AI juga dapat disalahgunakan untuk penipuan, penyamaran identitas, manipulasi informasi, dan penyebaran konten palsu.
Karena itu, kita tidak boleh terjebak pada dua pandangan ekstrem: menganggap AI sebagai ancaman yang harus ditolak, atau menganggap semua hasil AI pasti benar.
UNESCO melalui Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence menekankan pentingnya transparansi, kemampuan manusia untuk mengawasi, tanggung jawab, serta peningkatan literasi AI.
Prinsip pentingnya adalah:
TEKNOLOGI BOLEH SEMAKIN CERDAS, TETAPI TANGGUNG JAWAB MANUSIA TIDAK BOLEH DIHILANGKAN.
9. APA YANG HARUS DISIAPKAN INDONESIA?
Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi.
Kita perlu membangun kemampuan untuk memahami, mengembangkan, mengawasi, dan memanfaatkan teknologi secara mandiri.
Beberapa kemampuan strategis yang perlu diperkuat adalah:
- Literasi digital dan literasi AI bagi masyarakat.
- Pendidikan algoritma, data, dan keamanan siber.
- Kemampuan analisis informasi dan forensik digital.
- Pengembangan teknologi dan talenta AI dalam negeri.
- Transparansi serta akuntabilitas sistem digital.
- Kerja sama pemerintah, perguruan tinggi, industri, media, dan masyarakat.
- Perlindungan data pribadi serta kebebasan masyarakat memperoleh informasi yang benar.
Negara juga harus memberi teladan melalui komunikasi publik yang terbuka, berbasis fakta, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kedaulatan digital bukan sekadar memiliki perangkat dan jaringan. Kedaulatan digital berarti memiliki kemampuan untuk memahami, mengelola, dan menentukan kepentingan bangsa dalam ruang digital.
10. ALGORITMA DAN AI DALAM KERANGKA PERANG FONDASI
Dalam kerangka Perang Fondasi, kita mengenal tiga pilar utama:
ENERGI — DATA — PERSEPSI.
Ketiganya saling berkaitan.
ENERGI menopang pusat data, jaringan komunikasi, komputasi, dan infrastruktur digital.
DATA menjadi bahan yang diproses untuk menghasilkan informasi, analisis, dan rekomendasi.
PERSEPSI merupakan ruang kesadaran manusia yang dapat dipengaruhi oleh informasi, narasi, dan pengalaman digital.
Algoritma dan AI bukan pilar keempat. Keduanya merupakan teknologi dan instrumen yang bekerja melintasi ketiga pilar tersebut.
Energi memungkinkan sistem beroperasi. Data menyediakan bahan pengolahan. Algoritma dan AI membantu memproses serta menyajikan informasi. Pada akhirnya, manusia menafsirkan informasi dan mengambil keputusan.
Di sinilah letak persoalan strategisnya: siapa yang menguasai infrastruktur, data, teknologi, dan kemampuan berpikir akan memiliki posisi penting dalam menentukan arah perkembangan masyarakat digital.
---
PENUTUP: JANGAN BIARKAN MESIN MENGGANTIKAN AKAL MANUSIA
Kita sedang memasuki masa ketika teknologi mampu memilih informasi yang kita lihat, membantu menghasilkan informasi yang kita baca, bahkan menciptakan suara dan gambar yang seolah-olah nyata.
Namun, keputusan akhir tetap harus berada di tangan manusia.
Kita boleh menggunakan algoritma, tetapi harus memahami cara kerjanya. Kita boleh memanfaatkan AI, tetapi harus memeriksa hasilnya. Kita boleh hidup dalam dunia digital, tetapi jangan kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
Dalam Gerilya Kognitif, kekuatan bukan hanya terletak pada kemampuan menghasilkan dan menyebarkan informasi, melainkan juga pada kemampuan masyarakat untuk menguji kebenaran dan menentukan keputusan secara sadar.
MESIN DAPAT MENGOLAH DATA. AI DAPAT MEMBANTU BERPIKIR. TETAPI MANUSIA TETAP HARUS MENENTUKAN ARAH DAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS KEPUTUSANNYA.
Karena itu, pertahanan kognitif Indonesia harus dibangun bukan dengan menolak teknologi, melainkan dengan menguasai teknologi sekaligus memperkuat kecerdasan manusia.
MENGUASAI TEKNOLOGI, MENJAGA DATA, MEMPERTAHANKAN KEDAULATAN BERPIKIR.
SUMBER RUJUKAN
1. OECD, Facts not Fakes: Tackling Disinformation, Strengthening Information Integrity, 2024.
2. OECD.AI, Transparency Mechanisms for Social Media Recommender Algorithms: From Proposals to Action, 18 Mei 2025. Catatan: ini merupakan artikel/tulisan pada situs OECD.AI, bukan laporan resmi OECD.
3. United Nations Development Programme (UNDP), Human Development Report 2025: A Matter of Choice — People and Possibilities in the Age of AI, 2025.
4. UNESCO, Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence, 2021.
5. United Nations, Global Principles for Information Integrity, Juni 2024.