indonews

indonews.id

Moderasi Beragama bagi Penceramah Jadi Strategi Pemerintah Cegah Paham Radikalisme

Kementerian Agama mengakui tengah melakukan perubahan besar-besar dalam pendidikan dan pengajaran agama di Indonesia. Salah satunya adalah moderasi beragama dilakukan di semua kalangan termasuk para penceramah, ustadz dan pihak-pihak yang bisa menyuarakan toleransi.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: very
zoom-in Moderasi Beragama bagi Penceramah Jadi Strategi Pemerintah Cegah Paham Radikalisme
Foto Collgae Menag Fachrul Razi dan Ustad Abdul Somad

Jakarta, INDONEWS.ID - Kementerian Agama mengakui tengah melakukan perubahan besar-besar dalam pendidikan dan pengajaran agama di Indonesia. Salah satunya adalah moderasi beragama dilakukan di semua kalangan termasuk para penceramah, ustadz dan pihak-pihak yang bisa menyuarakan toleransi.

Hal itu dikatakan Direktur Jendral Pendidikan Islam Kemenag Komarudin Amin ketika menjadi pembicara dalam acara diskusi media FMB 9 dengan tema "Mengedepankan Strategi Deradikalisasi"  di Kantor Kemkominfo, Jakarta, Senin (11/11/2019).

"Saya menyebutnya sebagai moderasi beragama di jajaran Kemenag, dengan tujuan utama untuk mengarusutamakan ajaran untuk menghargai sesama umat manusia atau toleransi. Kita tingkatkan kompetensi penceramah," kata Amin."

 

Amin membeberkan beberapa langkah yang dilakukan pemerintah antara lain mengadakan training dan workshop bersertifikat dalam rangka mainstreaming pemahaman agama yang moderat.

"Agama di pendidikan bukan hanya buat orang menjadi soleh, tapi jadi instrumen perekat sosial," jelasnya.

Menurut Kamaruddin, agama diajarkan Indonesia berbeda dengan di negara lain. Di sana, di Inggris misalnya, agama diajarkan bukan untuk menjadikan anak didik soleh dan taat beribadah.

Namun bagaimana bisa menghargai agama yang lain dengan diperkenalkan ritual agama yang lain. Hal ini, tambahnya, melahirkan sikap dan kesadaran saling bisa menghormati dan menghargai.

Berbeda dengan di Inggris, di Timur Tengah punya tujuan lain, yakni agama diajarkan agar orang menjadi soleh. Sementara di Indonesia, dua-duanya diajarkan yakni menjadi soleh dan berfungsi instrumental sebagai perekat sosial dalam bernegara.

"Ini yang sedang diperjuangkan. Memang tidak mudah karena Indonesia negara kepulauan yang terbesar di dunia, belum lagi ada disparitas lokal. Sehingga perlu perjuangan kolektif," jelas Kamaruddin.*Rikardo).

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas