PNM, Menerobos ke "Jantung" Perempuan Prasejahtera
Para ibu itu tidak punya akses langsung ke perbankan. Sedangkan PNM itu langsung terjun ke jantungnya, yaitu para ibu-ibu prasejahtera.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melakukan pembiayaan dan pelatihan terhadap ibu-ibu peserta progam Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) maupun peserta UMKM dalam program Unit Layanan Modal Mikro (UlaMM).
Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi mengatakan, ada tiga model peserta program Mekaar yang menjadi binaan PNM, yang semuanya adalah perempuan prasejahtera.
Pertama, kata Arief, yaitu perempuan yang sedang menjalani usaha. Kelompok ini, yang disebut juga dengan super mikro, yaitu mereka yang sedang melaksanakan usaha. Kedua, yaitu kelompok yang pernah menjalankan usaha namun terhenti karena berbagai sebab, seperti kesulitan mengakses pinjaman. Ketiga, perempuan yang baru akan mulai menjalankan usaha.
“Ini bedanya dengan UlaMM yaitu kelompok UMKM yang sedang menjalankan usahanya,” ujar Arief dalam acara Ngopi BUMN (Ngobrol Pagi Bersama BUMN) dengan tema “Pembiayaan dan Pemberdayaan untuk Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Prasejahtera” di kantor Kementerian BUMN di Jakarta, Jumat (21/11).

Kelompok perempuan dalam program Mekaar ini merupakan ciri khas PNM selama ini dan ke depan. Jumlah mereka saat ini saat ini mencapai 5,8 juta nasabah, dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp. 17,5 triliun dan outstanding mencapai Rp 10,6 triliun atau akumulasi Rp 30, 76 triliun.
Menurut Arief, sejak dua tahun belakangan ini, PNM sangat agresif dan massif melakukan program tersebut karena sangat besar mendapat dukungan pemerintah.
“Lebih dari 5,8 juta ibu prasejahtera yang bisa kami bantu. Ada kebanggaan karena ibu-ibu itu kami bantu. Mereka telah bekerja dengan jujur, kerja keras dan iklas,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Deputi Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan II, M. Khoerur Riziqin, mengatakan, perempuan tersebut menjadi sasaran PNM karena mereka tidak punya akses ke dunia perbankan melalui pinjaman. “Para ibu itu tidak punya akses langsung ke perbankan. Sedangkan PNM itu langsung terjun ke jantungnya, yaitu para ibu-ibu prasejahtera,” ujar Asisten Deputi BU Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan II, M. Khoerur Riziqin.
Dikatakannya, para ibu tersebut selain mendapatkan dana pinjaman juga mendapat coaching atau latihan kewirausahaan dari PNM. “Mereka tiap minggu mendapatkan pelatihan. Dan ini dilakukan secara PNM secara masif,” ujar Riziqin. (Very)