Pandemi Melanda Indonesia, Jumlah Orang Miskin Terus Meningkat
Menurut Menteri Sosial Juliari P Batubara, jumlah orang miskin yang disebabkan karena pandemi yang menyerang Indonesia terus mengalami penambahan.
Reporter: Mancik
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Wabah virus corona yang melanda Indonesia memberikan dampak serius terhadap seluruh kehidupan negara. Salah satunya yakni terkait dengan penambahan jumlah orang miskin.
Menurut Menteri Sosial Juliari P Batubara, jumlah orang miskin yang disebabkan karena pandemi yang menyerang Indonesia terus mengalami penambahan. Pertambahan jumlah keluarga miskin ini didukung dengan berbagai hasil survei tentang hal situasi tersebut.
"Beberapa lembaga survei, ada yang 10 persen, sekian persen. Ada yang ekstrem 12 persen," kata Mensos Juliari P Batubara dalam tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Jumat,(8/05/2020)
Terkait dengan data yang ada, kata Juliari, pemerintah hingga saat ini, belum dapat memberikan tanggapan secara resmi. Pemerintah masih melakukan pendataan secara pasti untuk mencari kebenaran tentang data yang ada.
"Saya sampaikan belum bisa memberikan angka pasti karena masih berjalan, akan meningkat jumlahnya," ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy,cenderung percaya dengan meningkatnya data kemiskinan Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari masalah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia.
"Kalau perkiraan atau proyeksi sudah disebut ada kenaikan 10-12 persen, angka kemiskinan sekarang 9,2 persen yang terakhir itu perkiraan sedangkan kita ini bicara yang nyata," jelasnya.
Sama seperti Mensos, Muhajir juga menjelaskan, pemerintah saat ini, tengah mengumpulkan data yang pasti tentang perkembangan dampak Covid-19 di masyarakat. Dengan demikian, pemerintah dapat mengambil langkah tegas dalam upaya penanganannya.
"Sekarang dalam proses menghimpun data-data langsung dari RT/RW kita akan olah untuk DTKS makanya dalam bantuan sosial yang dilakukan lewat Mensos dan Mendes ada yang dari DTKS dan non-DTKS dihimpun dari RT/RW," tutupnya.*