Kepatuhan Masyarakat Jadi Penentu Berakhirnya Covid-19
Kepatuhan Masyarakat Jadi Penentu Berakhirnya Covid-19
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Opsi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSSB) yang ditempuh pemerintah sebagai langkah untuk memutus mata rantai penyebran virus corona atau covid-19 dinilai tidak berhasil jika kepatuhan masyarakat masih rendah.
Demikian dikatakan Staf Khusus Menteri Kesehatan, Brigjen TNI (pur.) dr. Jajang Edi Priyatno dalam perbincangan dengan INDONEWS.ID di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (12/5).
Jajang menjelaskan, pemerintah Indonesia melalui Presiden Jokowi sudah sejak awal mempertimbangkan berbagai aspek mengapa Indonesia tidak menerapkan lockdown. Selain watak dan perilaku masyarakat Indonesia, presiden juga mempertimbangkan aspek ekonomi, geografi dan lain-lain.
"Presiden telah mempertimbangkan watak orang Indonesia, juga kondisi Indonesia dari berbagai aspek. Banyak hal yang dipertimbangkan oleh seorang presiden. Saya heran semua teriak lockdown, Si A,si B, si C, sampai anak kecil aja minta dilockdown," ungkapnya.
Ditambahkannya, Indonesia tidak bisa mencaplok pola yang ada di negara lain untuk diterapkan di Indonesia. Sebab, menurutnya, setiap negara memiliki polanya masing-masing. Satu pola efektif di satu negara belum tentu efektif di negara lainnya.
"Ga ada satupun negara di dunia yang terbukti mampu melawan covid-19 ini, Tidak ada. Tidak ada yang menemukan pola yang sama. Jadi tidak bisa mengatakan, di sana lockdown, maka kita di sini harus lockdown," tuturnya.
Dia menambahkan bahwa penerapan PSBB oleh pemerintah merupakan opsi terbaik. Sehingga dia berharap masyarakat dapat mematuhinya. Kepatuhan, lanjutnya, menjadi kunci dan satu-satunya prediksi paling akurat terkait kapan berakhirnya virus ini.
"Jadi seluruh agama ada. Misalnya di Islam itu kelompok pengajian di Gowa. Kemarin ada di Lembang, itu sumber juga. Covid-19 itu gak kenal batas. Agama, profesi apapun semua kena. Pejabat aja banyak yang mati kok. Jadi kita harus patuh," pungkasnya.
Kepatuhan Jadi Kunci
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan dr. Mariya Mubarika mengungkapkan kepatuhan masyaarakat menjadi kunci berhasil tidaknya upaya memutus mata rantai corona ini.
Terkait penerapan PSBB, Mariya menjelaskan, pemerintah sudah banyak melakukan kajian. Opsi penerapan PSBB merupakan strategi edukatif pemerintah untuk menghadapi masyarakat yang bersikap masa bodoh terhadap kehadiran virus ini.
"Setiap negara itu memikili cara masing-masing dalam memerangi pandemi virus ini. Tapi untuk negara kita, PSBB merupakan cara yang tepat dalam memerangi virus ini," ujarnya.
Penerapan PSBB menurutnya, adalah upaya untuk mendidik masyarakat yang masa bodoh terhadap penyebaran virus Corona tersebut. Karena, ulah masyarakat seperti itulah yang menyebabkan virus ini makin menyebar kian meluas.
"Kita temukan di lapangan banyak masyarakat yang ignore terhadap keberadaan virus corona ini. Tetap aja bikin pengajian, perkumpulan, tetap aja bikin pesta, acara-acara dan lain-lain. jadi di situ kuncinya," imbuhnya.
Prediksi paling tepat, menurut Mariya, adalah terletak pada kepatuhan masyarakat terhadap imbaun dan peraturan pemerintah seperti menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, cuci tangan dan kaki, tidak berkumpul dan lain sebagainya.
Ditanya mengenai Biozek, alat rapid test Covid-19 bermasalah karena kualitasnya sangat buruk, yang dibeli di Belanda dan belakangan diketahui ternyata meruapakan produk asal China, ia menjelaskan, Menteri Kesehatan selalu mengacu pada standar WHO.
"Standar kita adalah WHO. Kualitas produk asal China memang selalu begitu. Makanya sempat dibully oleh beberapa negara," terangnya.
(Dari Kiri ke Kanan, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan dr. Mariya Mubarika, Staf Khusus Menteri Kesehatan, Brigjen TNI (pur.) dr. Jajang Edi Priyatno, dan Staf Khusus Kementerian Kesehatan Mayjen TNI (pur.) dr Daniel Tjen, didampingi oleh dua wartawan Indonew.id, Very Herdiman dan Rikardo. Foto: Indonews.id)
Perlu Validasi Informasi dan Jangan Panik
Staf Khusus Kementerian Kesehatan Mayjen TNI (pur.) dr Daniel Tjen mengatakan masyarakat perlu memvalidasi dan menguji keakuratan informasi yang masuk guna meminimalisir rasa panik.
Banyak pakar dan ahli mengeluarkan pendapat dan mengaku model dan teorinya adalah yang paling benar dalam memprediksi kapan virus corona berakhir. Padahal sampai sekarang belum ada seorang pun pakar yang mengerti virus ini secara detil.
"Tidak bisa menduga-duga. Semua mengaku bahwa teori dia paling benar, model prediksi paling akurat. Padahal sampai sekarang ga ada seorang pun pakar yang ngerti virus ini kayak apa. Tidak bisa menduga-duga," tukasnya.
Dia lantas mencontohkan virus SARS-CoV-1, mewabah pada 2003 MERS-CoV yang mewabah pada 2013 serta HIV yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Banhkan TBC yang juga menular namun orang terbiasa.
Daniel pun menegaskan masyarakat Indonesia harus segera berdamai dengan virus corona ini. Artinya masyarakat harus mau berubah dan beradaptasi jika tak ingin punah dengan menerapkan pola hidup sehat seperti cuci tangan dan kaki, memakai masker dan sebagainya. Bangsa yang tak mau berubah, tambahnya, akan punah.
"Jadi orang bilang akan selesai, ya gak selesai. Covid itu akan jadi flu biasa. Karena itu sudah benar apa yang disampaikan oleh bapak presiden agar berdamai dengan covid-19. Kita harus mau berubah, kalo kita tak mau punah. Bangsa yang tak mau berubah akan punah kan. Seperti dinosaurus," katanya tegas.
Semakin kita mau berubah dan cepat beradaptasi, maka covid-19 ini akan segera selesai. Lalu kita mulai hidup dengan tatanan baru atau yang disebut dengan "new normal".
Hal ini kita lakukan layaknya virus SARS-CoV-1, MERS-CoV, HIV-AIDS ataupun TBC yang berpotensi menular, namun masyarakat tidak panik. Untuk itu, yang paling penting adalah kita perlu berdamai dengan situasi dan kondisi tersebut.*(Rikardo).