GAMKI Kota Surakarta Apresiasi Sikap Walikota Gibran Terkait Perusakan Makam
Ketua DPC GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia) Kota Surakarta, Pdt. Dina Widyastuti mengapresiasi langkah cepat dan responsif dari Walikota Gibran.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID -- Pengrusakan sejumlah makam umat Kristen di Kota Surakarta ditanggapi serius oleh Walikota Surakarta, Gibran Rakabuming. Dikutip dari berbagai media, Gibran geram ketika mengetahui bahwa perusakan ini dilakukan oleh siswa-siswa SD. Diduga aksi ini karena ajaran menjurus ke sikap intoleran yang diajarkan oleh salah satu rumah belajar tidak jauh dari makam.
Ketua DPC GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia) Kota Surakarta, Pdt. Dina Widyastuti mengapresiasi langkah cepat dan responsif dari Walikota Gibran.
Menurutnya hal ini sudah sangat rawan ketika sudah mendapati para siswa menunjukkan sikap tidak toleran terhadap orang lain akibat didikan dari sebuah rumah belajar. "Nilai kebangsaan kita sudah sangat rawan jika anak-anak sekolah dasar sudah diajarkan untuk tidak toleran," ucapnya seperti dikutip dari siaran pers diterima di Jakarta, Senin (28/6).
Karena itu, katanya, pihaknya sangat menghargai sikap Wali Kota Surakarta yang langsung turun tangan menyelidiki kasus itu.
"Kami sangat menghargai sikap Bapak Walikota yang langsung turun tangan menyelidiki dan menuntaskan masalah ini, kalau bukan pemimpin siapa lagi yang akan melindungi rakyat," ujarnya.
Hal ini, katanya, sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk saling menghargai dan memanusiakan.
Dalam peringkat Kabupaten/Kota paling toleran, pada tahun 2018 Kota Surakarta tidak lagi menjadi salah satu kota paling toleran seperti tahun sebelumnya.
Karena itu, GAMKI Kota Surakarta berharap agar pemerintah memberikan perhatian khusus pada pendidikan anak sekolah.
Pendeta Dina yang juga adalah tenaga pengajar di SD Kristen Setabelan II Surakarta mengharapkan program prioritas pemerintahan kota untuk menata pendidikan dasar agar berkontribusi menciptakan peserta didik yang berjiwa kebangsaan dan bersikap toleran terhadap orang-orang yang berbeda latar belakang.
Pendeta Dina menyayangkan maraknya rumah-rumah belajar yang mengajarkan intoleransi, mungkin karena kurang diawasi oleh pemerintah. "Sedangkan sekolah kami saja yang berupaya menjaga nilai-nilai Pancasila dengan kontekstual, masih belum diperhatikan pemerintah," ucapnya.
Dina mengatakan bahwa sekolah dasar yang dikelola langsung oleh GKJ Wisma Panembah ini mengalami kesulitan pembiayaan operasional, yang juga dialami banyak sekolah lain. Kehadiran pemerintah kota sangat dibutuhkan dalam melihat kondisi ini, agar tidak jomplang antara harapan dan realita.
Ketua DPP GAMKI, Alan Christian Singkali, membenarkan apresiasi Ketua DPC GAMKI Surakarta tersebut. Dia berharap bahwa warga Kota Surakarta dapat saling bahu-membahu membangun kerukunan, apalagi di masa pandemi ini.
“Semuanya sulit sehingga kita tidak boleh terpecah-belah karena persoalan intoleransi ini,” pungkasnya. (Very)