Pelayaran Sebagai Urat Nadi Kehidupan dan Masa Depan Indonesia
Pelayaran Sebagai Urat Nadi Kehidupan dan Masa Depan Indonesia
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Pelayaran memiliki peran vital dan strategis sebagai urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. Bahkan, pelayaran menjadi penentu kemajuan Indonesia di masa depan.
Demikian disampaikan M. Harjono Kartohadiprodjo, penulis buku "Perangkat Negara Maritim: Menata Pelayaran Demi Ketahanan Nasional" dalam diskusi virtual pada Kamis (28/10/21) malam.
Kartohadiprodjo menjelaskan Indonesia memerlukan keadilan sosial antar daerah dengan pembangunan yang merata. Untuk mencapai cita-cita ini, tambahnya, diperlukan infrastruktur berupa pelayaran yang menghubungan seluruh wilayah di Indonesia.
"Sehingga kesenjangan sosial, kesenjangan antara daerah tidak terjadi. Inilah yang perlu kita tata kembali. Di dalam hal ini, pelayaran di Indonesia, itu adalah hal yang wajib," ujarnya.
Selain itu, Kartohadiprodjo juga menekankan agar pelayaran di Indonesia diatur sepenuhnya oleh pemerintah, bukan oleh kebutuhan atau untuk memenuhi kemauan pasar. Menurutnya, untung dan rugi itu bukan masalah sebab pelayaran adalah infrastruktur sangat strategis yang merupakan urat nadi dari kehidupan bangsa Indonesia.
"Dan pelayaran harus diatur oleh pemerintah, bukan negara diatur oleh pasar. Rugi dan untung itu bukan masalaah. Karena pelayaran Indonesia itu adalah infrastruktur yang sangat-sangat strategis yang merupakan urat nadi dari kehidapan bangsa Indonesia," pungkasnya.
Ia lantas mempertanyakan keberadaan sistem tol laut yang pembangunan digencarkan oleh pemerintah secara masif dengan beragam rute. Untuk itu, ia berharap pemerintah dapat memilih dari sekarang infrastruktur mana yang terbaik digunakan dalam rangka menuju Indonesia emas 2045.
"Kemudian muncul sistem baru yaitu dengan tol laut. Anda melihat rute-rutenya. Saya berharap kita bisa memilih yang terbaik untuk kemajuan Indonesia di masa datang. Kita harus tentukan dari sekarang," tegasnya.
Ia juga menuturkan, buku yang ditulisnya itu menyajikan data dan fakta, juga sejarah bagaimana Belanda membangun dan mengembangkan perusahaan pelayaran di Nusantara kala itu, yang diberi nama Koninklijke Paketvaart Maatschappij disingkat KPM.
"Bagaimana mensejahterakan warga negara kita yang ada di seluruh Tanah Air. Karena ini kepulauan dan 2/3 dari wilayah kita ini adalah air, saya rasa tidak ada jalan lain, kecuali kita menggunakan kapal," bebernya.
Menariknya, KPM yang dikelola Belanda kala itu sukses menjangkau wilayah-wilayah di Nusantara dan berlabuh di setiap wilayah tanpa kendala yang berarti. Tidak ada cerita dimana kapal-kapal tersebut berhenti atau tertunda karena alasan alam.
"Kapal-kapal itu berangkat tepat waktu, tiba tepat waktu . Jadi tidak ada cerita kapal itu harus berhenti karena situasi alam dan sebagainya. Kapal-kapal tersebut didesign secara khusus sesuai dengan kondisi alam dan cuaca di setiap daerah," tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, budayan dan pendiri Rekor MURI Indonesia, Jaya Suprana menyampaikan selamat atas diterbitkannya buku tentang kekuatan maritim Indonesia ini. Menurutnya, kakek moyang Indonesia meruapakan masyarakat maritim.
"Ada lagu yang saya masih ingat waktu saya masih kanak-kanak, yang teksnya itu berbunyi `nenek moyangku orang pelaut. Ini menunjukan bawha bangsa atau masyarakat Nusantara itu memang adalah masyarakat maritim," kata Jaya Suprana di sela-sela pemaparannya melalui potongan video yang ditayangkan panitia acara.
"Nah hal itu sudah saya sadari tetapi baru belakangan, baru pada abad ke 21 ini, saya berjumpa dengan seseorang. Insan ini yang meyakinkan saya bahwa bangsa Indonesia itu bangsa Maritim. Beliau adalah M. Harjono Kartohadiprodjo," terangnya menambahkan.
Menurut Jaya Suprana, penulis buku ini adalah sosok yang sudah makan garam di bidang pelayaran. Apa yang disampaikan penulis, tambahnya, adalah kisah nyata, pengalaman dan keahliannya sebagai seorang pelayar. Sehingga buku ini sungguh layak untuk dipertimbangkan oleh pembuat dan pengambil kebijakan di negeri ini demi kemajuan Indonesia.
"Jadi kalau beliau bicara tentang maritim, itu sudah menjadi maritim itu sendiri. Dia menulisnya bukan dengan pakai teori, pakai ilmu. Bukan! Karena beliau mengalami sebagai seorang pelayar," terang sosok kelahiran Denpasar, Bali ini.
Ia juga menyampaikan, sebagaimana yang dikhawatirkan oleh sang penulis, sangat menyayangkan jika potensi maritim ini tidak dioptimalkan di antaranya pengembangan pelabuhan-pelabuan di Indonesia sebagaimana pemerintah membangun dan mengembangkan bandar udara.
"Maka jelas bahwa potensi kemaritiman, kejayaan, kedigdayaan kemaritiman Nusantara ini harus kita manfaatkan, kita dayagunakan bukan semaksimal tetapi seoptimal mungkin. Bagaiman caranya, saya mau bilang, M. Harjono Kartohadiprodjo punya cara banyak," pungkasnya.
Secara terpisah, pemimpin Redaksi Indonews.id, selaku Dosen Sekolah Komando Angkatan Laut (SESKOAL), Asri Hadi menyampaikan selamat atas diluncurkannya buku ini. Ia berharap Indonesia dapat membangun kemajuannya melalui poros maritim, dimana Indonesia didaulat sebagai poris maritim dunia.
"Selamat kepada M. Harjono Kartohadiprodjo yang telah menerbitkan buku berjudul "Perangkat Negara Maritim: Menata Pelayaran Demi Ketahanan Nasional". Semoga buku ini dapat memberikan gambaran bagi masyarakat Indonesia akan potensi maritim Indonesia," katanya.*(Rikard Djegadut).