Bamsoet Luncurkan Buku "Pemimpin Adaptif di Era Disrupsi" pada Moment HUT ke-62
Jajaran redaksi dan manajemen Indonews.id dan Mobilinanews.com menyampaikan ucapan selamat kepada Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) atas ulang tahunnya yang ke-62, tepat pada Selasa, 10 September 2024.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Jajaran redaksi dan manajemen Indonews.id dan Mobilinanews.com menyampaikan ucapan selamat kepada Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) atas ulang tahunnya yang ke-62, tepat pada Selasa, 10 September 2024.
"Selamat kepada pak Bamsoet untuk usia yang ke-62. Selamat juga atas terbitnya buku biografi politik pak Bamsoet. Semoga selalu sehat dan sukses terus," kata Asri Hadi selaku Pemred Indonews.id via pesan singkat WhatsApp.
Diketahui, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menggelar acara peluncuran buku ulang tahun ke-62. Dalam acara itu dihadiri oleh sejumlah tokoh, seperti Ketua DPR RI Puan Maharani.
Selain Puan, turut hadir Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat, Ketua KY Amzulian Rifai, Ketua Mahkamah Konstitusi 2003-2008 Jimly Asshiddiqie, dan Bakal Calon Gubernur Jakarta Pramono Anung. Dalam sambutannya, Bamsoet menyampaikan menulis, dapat menyambung sejarah.
"Kalau kita menulis, maka kita juga membantu menyambungkan sejarah, menyambungkan dengan era kehidupan dari satu jaman ke jaman berikutnya. Kemudian, kalau Anda ingin menguasai dunia, maka membaca. Jadi, selain menulis, sering-seringlah membaca," kata Bamsoet dalam sambutannya, Selasa (10/9/2024).
Bamsoet merasa bahwa Indonesia kehilangan arah atas pilihan demokrasinya. Menurutnya, demokrasi Indonesia kini malah mengejar suara rakyat dalam bentuk angka belaka.
"Sekarang kita tidak lagi mengejar aspirasi rakyat, mengejar kepentingan rakyat, tapi kita sekarang mengejar suara rakyat dalam bentuk angka-angka," ucapnya.
Dirinya pun menyinggung terkait kemunculan fenomena kotak kosong. Dirinya menyebut memikirkan hal itu sebagai bentuk kritik.
"Apa gunanya kita menyelenggarakan pemilihan langsung? Kalau semua sudah selesai, di tingkat atas, kalau rakyat hanya memilih kotak kosong, atau figurnya? Ini juga pertanyaan kritik bagi saya, bagi kita semua," tuturnya.*