Tagar #STYOut di Medsos Goyang Kursi Shin Tae-yong, PSSI Pertimbangkan Hal Ini
Warganet di tanah air tercinta ini selalu menjadi bagian dari dunia sepak bola yang selalu aktif dalam memuji dan melakukan kritik.
Warganet di tanah air tercinta ini selalu menjadi bagian dari dunia sepak bola yang selalu aktif dalam memuji dan melakukan kritik.
Reporter: donatus nador
Redaktur: donatus nador
Jakarta, NDONEWS.ID- Warganet di tanah air tercinta ini selalu menjadi bagian dari dunia sepak bola yang selalu aktif dalam memuji dan melakukan kritik.
Ketika Timnas Indonesia raih hasil imbang lawan Bahrain, netizen menyoroti kinerja wasit yang dinilai buruk karena seakan membiarkan waktu bertanding berjalan sampai Bahrain mencetak gol penyama.
Kritik keras para netizen berbuntut panjang. Bahrain takut bertanding melawan Timnas Indonesia di Gelora Bung Karno pada Maret 2025 nanti karena takut keselamatan para pemain terancam.
Para netizen juga yang puja-puji Timnas Garuda saat skuad asuhan Shin Tae-yong (STY) itu mengalahkan Saudi Arabia 2-0 di ajang kualifikasi Piala Dunia 2026 zoan Asia di Stadion Utama Glora Bung Karno beberapa waktu lalu.
Puja-puji terhadap Marcelino Ferdinand yang mencetak dwi gol kala itu melambung tinggi. Berita kemenangan Timnas Merah Putih di medsos luar biasa viral.
Reaksi yang sama kini terjadi pasca kekalahan Timnas Garuda melawan Filipina di ajang Piala AFF. Buntut kekalahan 0-1 dari Filipina, STY menjadi sorotan.
Bukan sorotan biasa, YTY diserukan harus dipecat karena gagal membawa Timnas Garuda maju ke babak semifinal Piala AFF. Lewat tagar #STYOut, warganet menyuarakan STY didepak dari kursi kepelatihan.
Desakan ini menguat pasca skuad Garuda hanya finis di peringkat ketiga klasemen Grup B.#STYOut merupakan tuntutan agar Shin Tae-yong didepak.
Namun, tuntun ganti pelatih merupakan solusi yang berdampak positif atau justru akan membawa Indonesia berada pada situasi lebih sulit.
Pertanyaan ini yang harus direnungkan oleh PSSI selalu lembaga yang berwenang dalam hal membuang dan mengambil pelatih baru.
Untuk mengambil pelatih baru, PSSI bisa saja punya segudang stok pelatih terbaik yang ada saat ini.
Sebut misalnya Roberto Mancini, Dunga, Tite, Jurgen Klinsmann, mantan pelatih Timnas Jerman Joachim Low, Giovanni van Bronckhorst, dan Frank de Boer. Mereka yang disebut itu kini sedang nganggur alias tanpa klub.
Namun pertanyaan lebih jauh, apakah pelatih asal Eropa yang lebih banyak menukangi klub raksasa di Benua Biru itu paham dengan sepak bola Asia?
Sebab fakta menunjukkan bahwa pelatih sekelas Roberto Mancini gagal membuat Arab Saudi bersinar hingga akhirnya didepak dan digantikan oleh Herve Renard.
Pelatih Herve Renard pun belum menunjukkan tanda-tanda sukses sebagaimana diharapkan dari patih baru. Terbaru Timnas Arab Saudi dikalahkan Bahrain di ajang Gulf Cup 2024.
Maka jika ingin mencari pelatih yang paham sepak bola ASEAN atau Asia, nama-nama seperti Park Hang-seodan Kiatisuk Senamuang mungkin bisa masuk daftar yang harus diburu tanda tangannya.
Sebab reputasi kedua sosok ini di Piala AFF tak diragukan lagi. Keduanya sosok ini pernah menjadi juara Piala AFF.
Untuk mendapatkan pelatih seperti yang sudah disebutkan itu sejatinya gampang. Namun yang perlu dipertimbangkan, apakah tepat mendatang pelatih di saat sulit?
Dalam kontes ini, PSSI perlu berkaca pada pengalaman Vietnam karena mengganti pelatih tidak otomatis berbuah hasil positif. Vietnam, misalnya, sebelum nyetel dengan Kim Sang-sik, butuh proses cukup lama.
Jadi prose penyesuaian antara pemain dan pelatih memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Pemain dan pelatih perlu menyatu untuk meraih satu tujuan.
Jika dilihat secara, sepintas hubungan sang pelatih dengan para pemain cukup positif selama ini cukup bagus. Ini juga terlihat dari beberapa pencapaian.
Dikhawatirkan, jika pelatih baru datang, bukan tidak mungkin sang nahkoda baru akan merombak komposisi tim kepelatihan yang sudah ada dan selama ini sudah berjalan bagus. Perombakan bakal butuh waktu untuk menemukan koneksi yang karib antara pelatih dan pemain.
Pertimbangan selanjutnya, STY telah memulai perjalanan menuju Piala Dunia 2026. Untuk bisa lolos, Timnas Indonesia harus menjalani empat laga tersisa di Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, yaitu melawan Australia, Bahrain, China, dan Jepang.
Nampaknya, akan sangat beresiko jika PSSI mengikuti desakan netizen agar mengganti STY pada momen yang sangat krusial seperti saat ini.
Soal lain yang perlu dipertimbangkan, kontrak jangka panjang yang diberikan PSSI kepada STY akan berakhir Juni 2027.
Kontrak jangka panjang ini terkait persiapan turnamen penting yang diikuti Timnas Indonesia pada 2027.
Dengan sisa kontrak yang masih sangat panjang, PSSI berada dalam situasi sulit jika memecat pelatih asal Korea Selatan.
Sebab, sangat mungkin STY akan meminta kompensasi dengan nilai tinggi jika PSSI mengakhiri kontrak lebih cepat.
Dengan beberapa pertimbangan itu, setidaknya PSSI bisa mengabaikan suara puja-puji dan kritik netizen termasuk seruan menggantikan STY lewat tagar
#STYOut
.