indonews

indonews.id

Begini Reaksi Rusia Soal Trump Ancam Bom Iran

Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengancam akan membombardir Iran jika tidak mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya, telah menarik perhatian dunia internasional. China menyayangkan adanya ancaman semacam itu, sementara Rusia memperingatkan bahwa jika Amerika benar-benar melancarkan serangan, dampaknya akan meluas dan mempengaruhi negara-negara lain.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengancam akan membombardir Iran jika tidak mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya, telah menarik perhatian dunia internasional. China menyayangkan adanya ancaman semacam itu, sementara Rusia memperingatkan bahwa jika Amerika benar-benar melancarkan serangan, dampaknya akan meluas dan mempengaruhi negara-negara lain.

Moskow telah mengkritik keras ancaman tersebut, dengan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menyebutnya sebagai langkah yang bisa berujung pada "bencana besar" bagi kawasan Timur Tengah.

Ryabkov menegaskan bahwa Rusia menentang solusi koersif terhadap Iran dan menentang agresi serta serangan militer terhadap negara tersebut. Ia juga menambahkan bahwa ancaman Amerika berpotensi memperburuk kompleksitas situasi di Timur Tengah dan menciptakan risiko baru yang lebih besar di masa depan.

Pada 21 Maret, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa penyelesaian masalah program nuklir Iran harus dilakukan melalui jalur damai, mengingat Iran telah berulang kali menjanjikan tidak akan mengembangkan senjata nuklir.

Kritik terhadap Trump juga datang dari Iran, yang melalui perwakilannya di PBB, Amir Saeed Iravani, mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk ancaman tersebut. Iran bahkan mengancam akan membalas dengan serangan terhadap Diego Garcia, sebagai respons terhadap kemungkinan serangan militer dari AS.

Laporan pers menyebutkan bahwa angkatan bersenjata Iran sedang mempersiapkan pasukan rudal untuk menanggapi setiap ancaman militer yang datang dari Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Ancaman Trump muncul sehari setelah wawancara dengan Fox News, di mana ia menyatakan akan mengebom Iran dan mengenakan tarif sekunder terhadap pembeli minyak Iran jika negara tersebut tidak mencapai kesepakatan dengan Washington mengenai program nuklirnya. Moskow, di sisi lain, menawarkan untuk memediasi negosiasi antara Amerika dan Iran, dengan harapan dapat menyelesaikan ketegangan ini melalui jalur diplomasi.

Para pakar di Rusia menganggap bahwa Moskow berusaha memperkuat posisinya dalam negosiasi dengan Washington, dengan menawarkan jaminan yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Mereka mengingatkan bahwa kesepakatan nuklir yang dicapai pada tahun 2015 bisa menjadi contoh untuk menyelesaikan masalah ini secara damai.

Namun, retorika keras dari Trump telah memicu reaksi di Moskow, dengan beberapa peneliti Rusia mengungkapkan kekhawatiran terhadap kemajuan program nuklir Iran yang semakin signifikan. Hal ini, menurut mereka, mendorong Amerika Serikat untuk mengekang militerisasi program nuklir Iran yang dianggap dapat mengancam kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah.

Ilya Vaskin, seorang peneliti di Pusat Studi Timur Tengah, Kaukasia, dan Asia Tengah, berpendapat bahwa "bahasa ultimatum" yang digunakan Trump adalah taktik negosiasi khas pemerintahan Gedung Putih saat ini, yang bertujuan untuk segera mencapai kesepakatan dengan Iran.

Di sisi lain, Lev Sokolchyk, seorang peneliti senior di Sekolah Tinggi Ekonomi Universitas Riset Nasional, menekankan bahwa meskipun Amerika Serikat berusaha mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, Teheran memandang hal ini sebagai ancaman terhadap eksistensinya. Sokolchyk bahkan menyarankan bahwa program nuklir Iran menghadapi situasi ganda, di mana tekanan dari AS justru mempercepat upaya Iran dalam mengembangkan senjata nuklir sebagai bentuk jaminan keamanan.

Dalam situasi yang penuh ketegangan ini, kemungkinan terjadinya konfrontasi lebih lanjut antara AS dan Iran, baik melalui serangan militer langsung atau pertempuran strategis lainnya, tidak dapat dikesampingkan. Para pakar memperingatkan bahwa keadaan ini bisa berkembang menjadi fase panas yang lebih berbahaya bagi kawasan Timur Tengah.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas