Kardinal Kevin Farrell, Sosok Kunci di Balik Transisi Kepemimpinan Vatikan Pasca Wafatnya Paus Fransiskus
Wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April lalu menandai berakhirnya satu era dalam kepemimpinan Gereja Katolik Roma. Kini, sementara Takhta Suci kosong, sosok Kardinal Kevin Farrell tampil sebagai tokoh sentral dalam masa transisi ini.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April lalu menandai berakhirnya satu era dalam kepemimpinan Gereja Katolik Roma. Kini, sementara Takhta Suci kosong, sosok Kardinal Kevin Farrell tampil sebagai tokoh sentral dalam masa transisi ini.
Sebagai camerlengo atau pengurus rumah tangga kepausan, Kardinal Farrell memegang tanggung jawab besar dalam mengelola administrasi dan keuangan Vatikan hingga paus baru terpilih melalui konklaf. Peran ini bukan hanya simbolis, melainkan mencakup pengelolaan logistik dan kestabilan operasional Tahta Suci.
Kardinal Farrell menjadi sorotan sejak ia mengumumkan wafatnya Paus Fransiskus dari kapel Domus Santa Marta, tempat kediaman Paus selama masa kepemimpinannya. Ia masih mengingat jelas bagaimana Paus Fransiskus secara pribadi memintanya menjadi camerlengo dalam perjalanan pulang dari World Youth Day di Panama tahun 2019.
Kisah hubungan mereka penuh makna. Sebelumnya, Kardinal Farrell ditarik dari tugasnya sebagai Uskup Dallas, AS, untuk membantu reformasi Vatikan dengan merombak Kantor Awam.
Setelah tiga tahun bertugas, ia kembali diminta mengemban tanggung jawab sebagai camerlengo — permintaan yang diterimanya dengan satu syarat unik: agar Paus Fransiskus berkhotbah di pemakamannya, suatu harapan bahwa ia akan meninggal lebih dulu.
Farrell sendiri memiliki rekam jejak panjang dalam pelayanan Gereja. Ia mulai masuk ordo Legionaries of Christ pada 1966 dan ditahbiskan sebagai imam pada 1978. Setelah menjabat sebagai uskup di Dallas sejak 2007, perjalanan tak terduga membawanya ke Roma pada 2016, hanya beberapa jam sebelum ia diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus.
Paus memilih Farrell bukan tanpa alasan. Ia dikenal karena kebijakan progresif, terutama dalam menempatkan profesional berkualifikasi untuk menjalankan tugas-tugas penting di keuskupan. Kemampuannya berbahasa Spanyol — warisan dari masa pelayanannya di Meksiko — juga menjembatani komunikasi personal antara keduanya.
Sebagai camerlengo, Farrell telah mengesahkan kematian Paus, menyegel apartemen kepausan, dan menghancurkan Cincin Nelayan — simbol yang menandai berakhirnya jabatan paus. Ia juga mengumpulkan laporan keuangan dari seluruh kantor Vatikan untuk disampaikan kepada kardinal dan paus yang akan datang.
Dengan latar belakang kuat di bidang keuangan dan hukum Gereja, Farrell memimpin sejumlah komite penting di Vatikan, menjadikannya sosok ideal untuk menavigasi kompleksitas keuangan dan administratif selama masa sede vacante.
Bersama Kardinal Giovanni Battista Re, dekan Dewan Kardinal, Farrell kini mempersiapkan konklaf yang akan memilih pengganti Paus Fransiskus — keputusan penting yang akan menentukan arah Gereja Katolik dunia di masa mendatang.*