Drone Ukraina Bikin Kocar-Kacir Rusia: S-400 Gagal Hadang, 41 Pesawat Tempur Dihancurkan
Serangan besar-besaran Ukraina terhadap lima pangkalan udara Rusia pada Minggu (1/6/2025) mengguncang Moskwa. Dengan melibatkan 117 drone, Ukraina sukses melumpuhkan 41 pesawat pengebom strategis, termasuk jenis Tu-95, Tu-22M, dan A-50, serta menyebabkan kerugian materiil sekitar 7 miliar dolar AS atau setara Rp114 triliun.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Serangan besar-besaran Ukraina terhadap lima pangkalan udara Rusia pada Minggu (1/6/2025) mengguncang Moskwa. Dengan melibatkan 117 drone, Ukraina sukses melumpuhkan 41 pesawat pengebom strategis, termasuk jenis Tu-95, Tu-22M, dan A-50, serta menyebabkan kerugian materiil sekitar 7 miliar dolar AS atau setara Rp114 triliun.
Serangan yang dinamakan "Operasi Jaring Laba-laba" oleh militer Ukraina itu menargetkan lima pangkalan utama: Belaya, Dyagilevo, Ivanovo Severny, Olenya, dan Ukrainka. Operasi ini menandai serangan terdalam Ukraina ke wilayah Rusia sejauh ini, dengan target terjauh mencapai 4.300 km dari garis depan.
Keberhasilan operasi tersebut menyorot kemampuan sistem pertahanan Rusia, terutama S-300 dan S-400, yang tidak mampu mendeteksi maupun mencegat drone kecil berkecepatan rendah yang diluncurkan dari dalam wilayah Rusia sendiri.
Menurut laporan Reuters dan Business Standard, drone-drone tersebut disamarkan dalam struktur kayu yang dibawa menggunakan truk, memungkinkan mereka diselundupkan hingga dekat dengan pangkalan militer target tanpa terdeteksi radar.
Setelah berada di posisi strategis, drone langsung diluncurkan dan menghantam sasaran secara simultan. Serangan ini membuat sistem pertahanan Rusia kewalahan, terutama karena drone diluncurkan dari jarak dekat dan terbang sangat rendah, sehingga lolos dari jangkauan radar S-400 yang dirancang untuk serangan jarak jauh dan tinggi.
Pensiunan Letjen Vishnu Chaturvedi dari India mengomentari bahwa kegagalan ini bukan karena teknologi pertahanan Rusia lemah, tapi karena kesalahan intelijen dan strategi pertahanan.
“Sistem S-400 tidak dirancang untuk mendeteksi ancaman dari dalam negeri yang terbang rendah dan jarak pendek. Ini bukan kesalahan teknologi, tapi kegagalan taktik dan intelijen,” ujar Chaturvedi kepada India TV.
Ia juga menyebut bahwa operasi ini kemungkinan telah dipersiapkan lebih dari setahun, dengan drone dikirim ke dalam wilayah Rusia secara diam-diam, mungkin lewat Kazakhstan.
S-400 bukan sekali ini saja diterobos. Ukraina sebelumnya berhasil menghancurkan sejumlah sistem S-400 Rusia antara 2023 hingga 2024, termasuk radar-radarnya.
Namun Chaturvedi menegaskan, kelemahan ini bisa juga karena minimnya pengalaman operator, salah penempatan sistem, atau kurangnya sistem pertahanan berlapis.
Dengan meningkatnya efektivitas penggunaan drone dalam konflik ini, serangan Ukraina menjadi bukti nyata bagaimana perang modern tak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan besar, tapi juga kecerdikan dan teknologi taktis.