Hidup dalam Ketakutan di Tengah Gempuran Israel, Warga Teheran: Kami Tak Tahu Harus ke Mana
Suara ketakutan dan kepanikan terdengar jelas dari warga Teheran yang kini hidup dalam bayang-bayang serangan udara Israel. Melalui sambungan WhatsApp yang terputus-putus, seorang warga ibu kota Iran menceritakan langsung kepada saudarinya, seorang jurnalis BBC di London, bagaimana situasi mencekam menyelimuti kota tempat tinggalnya.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Suara ketakutan dan kepanikan terdengar jelas dari warga Teheran yang kini hidup dalam bayang-bayang serangan udara Israel. Melalui sambungan WhatsApp yang terputus-putus, seorang warga ibu kota Iran menceritakan langsung kepada saudarinya, seorang jurnalis BBC di London, bagaimana situasi mencekam menyelimuti kota tempat tinggalnya.
Sejak Kamis malam (12/6), pesawat-pesawat tempur Israel dilaporkan berulang kali menyerang Teheran. Serangan itu dibalas tembakan antipesawat dari militer Iran, namun sebagian besar serangan Israel tetap berhasil menembus langit ibu kota.
“Dari jendela apartemen saya, saya bisa melihat semuanya. Ini sangat menakutkan,” ujar warga tersebut, yang tinggal di lantai atas sebuah gedung tinggi. Ia menolak meninggalkan rumah meski militer Israel telah memerintahkan evakuasi di wilayah tempat tinggalnya. “Sejauh yang saya tahu, tidak ada target militer di sekitar sini,” katanya. Namun ia mengkhawatirkan sebuah unit komersial yang diduga terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran dan bisa saja menjadi target selanjutnya.
Situasi di Teheran memburuk dengan cepat. Walaupun listrik dan air masih tersedia di banyak wilayah, pasokan makanan mulai menipis. Banyak toko tutup, termasuk toko roti — sebagian karena kekurangan bahan baku, sebagian karena pemiliknya telah mengungsi. “Kami tidak punya tujuan untuk pergi. Jadi kami bertahan,” ungkapnya.
Sementara itu, jalan-jalan yang biasanya ramai kini tampak sepi. Kelangkaan bahan bakar juga melanda, dan antrean di stasiun pengisian bahan bakar sempat mengular sebelum mulai surut dalam dua hari terakhir. Jalan keluar dari kota kini lebih lancar karena sebagian besar warga telah meninggalkan Teheran.
Ketegangan juga meningkat di sekitar fasilitas nuklir Iran, yang menjadi sasaran serangan Israel. Warga yang tinggal di dekat lokasi tersebut dihantui ketakutan akan kemungkinan penyebaran kontaminasi radioaktif. Namun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan hingga kini belum ditemukan peningkatan kadar radiasi di luar dua lokasi yang rusak pada Jumat (13/6).
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyerukan agar warga Teheran mengungsi, sebuah pernyataan yang justru menambah kegelisahan warga. Ia juga mendesak Iran untuk menyerah. Namun, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan dengan tegas bahwa Iran tidak akan tunduk.
Di tengah keterbatasan informasi dan lambatnya koneksi internet, masyarakat Iran kini banyak mengandalkan saluran berita berbahasa Persia dari luar negeri, termasuk layanan BBC Persia. Lalu lintas ke situs berita tersebut melonjak tajam dalam semalam, meski akses tetap terganggu.
Meski banyak warga Iran tidak bersimpati kepada rezim yang berkuasa, ketakutan terbesar mereka saat ini adalah kekacauan yang bisa timbul jika pemerintahan jatuh. “Kami takut akan masa depan. Tidak tahu apa yang akan terjadi, dan apa yang harus kami lakukan,” kata warga Teheran itu dengan suara bergetar.
Pertanyaan besar kini menggantung di langit Iran: seberapa lama serangan ini akan berlangsung, dan ke mana arah krisis ini akan bermuara.