Israel Akui Upaya Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Saat Perang
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengungkapkan bahwa pemerintahnya memang memiliki rencana untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam konflik bersenjata antara Israel dan Iran yang berlangsung selama 12 hari, dimulai pada Jumat (13/6/2025).
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengungkapkan bahwa pemerintahnya memang memiliki rencana untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam konflik bersenjata antara Israel dan Iran yang berlangsung selama 12 hari, dimulai pada Jumat (13/6/2025).
Dalam wawancara dengan Channel 13 yang dikutip oleh The Times of Israel pada Kamis (26/6/2025), Katz menegaskan bahwa meskipun rencana tersebut ada, peluang operasional untuk melancarkan pembunuhan terhadap Khamenei tidak pernah muncul. Hal ini disebabkan karena keberadaan Khamenei tidak pernah terdeteksi selama perang berlangsung.
"Jika ia berada di jarak pandang kami, kami akan menghabisinya," ujar Katz. Ia juga menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan upaya intelijen secara intensif untuk melacak keberadaan Khamenei, namun yang bersangkutan diduga telah mengisolasi diri di dalam bunker dan memutus kontak dengan para komandan militer.
“Khamenei memahami hal ini, bersembunyi sangat dalam, memutuskan kontak dengan para komandan, jadi pada akhirnya itu tak realistis,” imbuhnya.
Katz menambahkan bahwa Israel tetap berkomitmen terhadap kebijakan penegakan hukum strategis, termasuk mempertahankan dominasi udara atas Iran serta mencegah kebangkitan kembali program nuklir dan rudal jarak jauh negara tersebut.
Lebih lanjut, Katz menegaskan bahwa Israel tidak membutuhkan persetujuan dari negara lain, termasuk Amerika Serikat, untuk mengambil tindakan terhadap Khamenei.
Pernyataan Katz sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump selama masa perang, yang sempat menyatakan bahwa nyawa Khamenei berada dalam ancaman.
“Kami tahu dengan jelas di mana sosok yang disebut ‘Pemimpin Tertinggi’ bersembunyi. Ia target mudah, namun aman di sana. Kami tak akan menyeretnya (membunuhnya!), setidaknya untuk sekarang,” tulis Trump di media sosialnya. Namun, beberapa hari kemudian, Trump mengklarifikasi bahwa perubahan rezim di Iran bukanlah opsi yang akan diambil AS.
Israel Katz sendiri selama konflik dikenal sebagai tokoh paling vokal yang menyerukan agar Khamenei dieliminasi, bahkan menyebutnya sebagai “Hitler Modern” yang tidak seharusnya terus hidup.
Pernyataan ini menambah ketegangan dalam hubungan geopolitik kawasan, dan menjadi sorotan tajam komunitas internasional terkait etika dan batas intervensi dalam perang antarnegara.