indonews

indonews.id

Dubes AS untuk Israel Desak Serangan B-2 ke Yaman, Israel Ancam Houthi Usai Rudal Dicegat

 Ketegangan kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel, Mike Huckabee, menyuarakan desakan agar pesawat pembom siluman B-2 digunakan untuk menyerang Yaman. Pernyataan tersebut dilontarkan menyusul keberhasilan sistem pertahanan udara Israel mencegat rudal yang ditembakkan dari wilayah Yaman pada Selasa malam (1/7).

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Ketegangan kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel, Mike Huckabee, menyuarakan desakan agar pesawat pembom siluman B-2 digunakan untuk menyerang Yaman. Pernyataan tersebut dilontarkan menyusul keberhasilan sistem pertahanan udara Israel mencegat rudal yang ditembakkan dari wilayah Yaman pada Selasa malam (1/7).

“Kami kira serangan rudal ke Israel sudah selesai, tapi Houthi baru saja menembakkan satu lagi ke arah kami,” tulis Huckabee dalam akun media sosial X. “Untungnya, sistem intersepsi Israel yang luar biasa memungkinkan kami masuk ke tempat perlindungan dan menunggu sampai aman,” sambungnya. Ia menutup pernyataan dengan kalimat kontroversial: “Mungkin pembom B-2 perlu mengunjungi Yaman!”

Militer Israel mengonfirmasi rudal tersebut berhasil dicegat pada Selasa dini hari, dan otoritas setempat sempat menutup wilayah udara sebagai langkah pengamanan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, merespons kejadian itu dengan peringatan keras kepada kelompok Houthi.

“Yaman akan diperlakukan seperti Teheran,” tulis Katz. “Setelah menyerang kepala ular di Teheran, kami juga akan menyerang Houthi di Yaman. Siapa pun yang mengangkat tangan terhadap Israel, tangan itu akan dipotong.”

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Houthi menanggapi ancaman Israel maupun komentar Huckabee.

Tensi di kawasan memang memuncak sejak serangan bom B-2 milik AS menghantam tiga situs nuklir Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan—pekan lalu. Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi besar yang dimulai sejak konflik terbuka antara Israel dan Iran meletus pada 13 Juni.

Kementerian Kesehatan Iran menyebut sedikitnya 935 orang tewas dan lebih dari 5.600 orang terluka dalam serangan tersebut. Iran membalas dengan rentetan rudal dan drone ke wilayah Israel, menewaskan 29 orang dan melukai lebih dari 3.400, menurut data dari Hebrew University of Jerusalem.

Meskipun gencatan senjata resmi diberlakukan oleh AS pada 24 Juni, beberapa jam sebelumnya Israel melancarkan serangan udara ke Bandara Sana’a dan pelabuhan Hodeidah di Yaman, sebagai balasan atas serangan rudal Houthi yang menghantam perimeter Bandara Ben Gurion, Tel Aviv.

Selama dua bulan terakhir, militer AS juga melakukan serangan udara harian ke wilayah Yaman, menghancurkan infrastruktur dan menimbulkan banyak korban jiwa, termasuk di antaranya warga sipil dan anak-anak.

Di tengah eskalasi tersebut, pernyataan terbaru Mike Huckabee bertolak belakang dengan sikap Presiden AS Donald Trump. Pada Mei lalu, Trump menyatakan bahwa AS akan menghentikan serangan terhadap Houthi, menyusul kesepakatan lisan yang diklaim telah dicapai antara Washington dan kelompok bersenjata tersebut.

“Mereka mengatakan kepada kami bahwa mereka tidak ingin bertempur lagi… dan kami akan menghormati itu,” kata Trump dalam konferensi pers bersama PM Kanada Mark Carney. “Kami akan menghentikan pemboman terhadap Houthi, berlaku segera.”

Sejak Oktober 2023, kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke arah Israel serta kapal-kapal di Laut Merah, Teluk Aden, dan Laut Arab. Houthi mengklaim aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.

Dengan makin banyaknya aktor internasional yang terlibat, situasi di kawasan kian kompleks dan berpotensi memicu perang regional yang lebih luas. Tanggapan dari pihak Houthi atas serangan dan ancaman terbaru saat ini masih dinanti.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas