indonews

indonews.id

Bukan Sekadar Joget, Pesan Mendalam Lagu "Seni Senang" dan Hikmah Musyawarah dalam Budaya Manggarai

Ikatan Keluarga Manggarai Raya Jabodetabek (IKAMADA) baru saja melewati rangkaian pergantian kepengurusan baru. Perutusan mereka diawali dengan misa inkulturasi yang dihadiri lebih dari 1000an orang Manggarai Diaspora dari seluruh Wilayah di Jabodetabek.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
zoom-in Bukan Sekadar Joget, Pesan Mendalam Lagu "Seni Senang" dan Hikmah Musyawarah dalam Budaya Manggarai
Dr. Yohannes Don Bosco Doho, S.Phil, MM (Foto: ist)

Oleh

Dr. Don Bosco Doho*)

Jakarta, INDONEWS.ID - Ikatan Keluarga Manggarai Raya Jabodetabek (IKAMADA) baru saja melewati rangkaian pergantian kepengurusan baru. Perutusan mereka diawali dengan misa inkulturasi yang dihadiri lebih dari 1000an orang Manggarai Diaspora dari seluruh Wilayah di Jabodetabek di GOR Bulungan, pada Sabtu 2 Agustus 2025. 

Sungguh sebuah moment mempertemukan sesama saudara dari rahim bumi Nusa Lale: awon Wae Mokel, salen Selat Sape. Misa inkulturasi yang dipimpin oleh Uskup Manokwari Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, seorang putra Manggarai dan didukung oleh 11 pastor berasal dari bumi Congkasae sebagai konselebran berakhir sukses.

Suksesnya mengumpulkan orang Manggarai ini, tidak terlepas dari komunikasi dan koordinasi oleh panitia yang memviralkan sang bintang tamu Surat Edar, alias Elias Wangkut dengan lagu fenomenalnya "Seni Senang". Surat Edar, julukan putra Wase Satar Mese, Manggarai ini, memang sengaja didatangkan dari kota dingin Ruteng untuk meramaikan acara langka Misa Raya dan Pentas Budaya Diaspora Manggarai Raya se-Jabodetabek.

Masih ingat Boney M. dengan lagu terkenalnya By the River of Babylon? Tanpa menyelami sari pati dan kata-kata penting yang dialami oleh bangsa Israel di tanah pembuangan Babilon, begitu orang mendengar musik dan gaya bernyanyi Boney M, sontak orang berjoget ria. Orang yang paham pesan lagu tersebut tentu tidak serta merta bergoyang patah-patah.

Fenomena tersebut, beda tipis dengan lagu Seni Senang yang dilantunkan oleh penyanyi budaya Elias Wangkut yang dikenal dengan nama panggung Surat Edar. Alunan lagu dan musik pengiring Seni Senang membuat orang Manggarai langsung turun gosok lantai. Padahal lagu ini memberi pesan moral yang sangat dalam kalau ditelisik dengan serius dan reflektif. Tapi itulah cara seorang pemusik memberikan pesan kepada semua pendengar. 

Lagu daerah tidak hanya berfungsi sebagai alat ekspresi budaya, tetapi juga sebagai cermin nilai-nilai moral dan etika sebuah masyarakat. Dari dataran tinggi Manggarai di Flores, NTT, lahir sebuah lagu bertajuk Seni Senang yang sederhana namun menyimpan kedalaman makna sosial. Diciptakan dan dinyanyikan oleh seorang musisi lokal yang menggunakan nama panggung Surat Edar, lagu ini membawa pesan kuat tentang pentingnya kebersamaan, musyawarah, dan keindahan hidup dalam harmoni meskipun dalam keberagaman.

Bagi diaspora Manggarai yang kini tersebar di berbagai pelosok nusantara bahkan mancanegara, Seni Senang tidak sekadar nostalgia-- ia adalah pengingat filosofis akan akar etika kampung halaman: bahwa damai tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kehendak bersama untuk duduk sejajar, berbicara setara, dan merasa senasib.

Artikel ini mengupas pesan moral dan etika kehidupan dalam lagu Seni Senang, khususnya dalam tiga ranah utama: kehidupan pribadi dan keluarga, hubungan sosial kemasyarakatan, serta refleksi etis bagi diaspora Manggarai di tanah rantau. "Ngacak keta nawa woko bantang cama ite ca natas"— Damainya hati ketika berembuk bersama sebagai warga satu halaman kampung

Kalimat ini menyuarakan etika deliberatif atau musyawarah mufakat yang menjadi inti tata kehidupan orang Manggarai. “Ngacak” atau damai, tidak lahir dari dominasi pendapat satu pihak, melainkan dari “woko bantang cama” — perundingan yang setara. Dalam masyarakat Manggarai, duduk bersama dalam satu halaman kampung bukan sekadar bentuk fisik, tetapi simbol relasi horisontal. Tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain, semua berkumpul dalam semangat ca natas — satu tanah, satu asal, satu nasib.

Dalam konteks keluarga, nilai ini mengajarkan bahwa rumah tangga tidak bisa dibangun hanya dengan otoritas satu pihak. Seorang ayah, ibu, dan anak-anak perlu berembuk, mendengarkan, dan membentuk kehendak bersama. Dalam dunia yang makin individualistik, lagu ini menyerukan musyawarah batin — duduk untuk saling dengar, bukan sekadar saling bicara.

Meskipun tidak dapat dipungkiri, era digital sudah menggerus semangat dan tradisi ini. Orang Manggarai seperti halnya warga dunia mondial sudah banyak terjebak dan dijajah oleh platform digital. Berada bersama, di natas bate labar tapi lebih banyak menghubungkan diri dengan yang jauh, alih-alih memanusiakan yang dekat.

Di ranah sosial kemasyarakatan, nilai ini menjadi kritik terhadap budaya konflik dan ego kelompok. Ketika kampung atau komunitas berselisih karena perbedaan pandangan, Seni Senang mengingatkan bahwa keberlangsungan hidup bersama hanya mungkin jika ada ruang deliberasi yang inklusif. "Manik keta laing, woko cama laing ndai one nai"— Indahnya hati bila bersama-sama memiliki keinginan yang sama dari dalam

Alunan goet ini menyingkap etika kehendak kolektif. Nilai moral dalam lirik ini menekankan bahwa keindahan hidup muncul ketika setiap individu meredam ego, lalu bergerak dalam satu kehendak yang lahir bukan karena paksaan, tetapi karena kesadaran bersama.

Dalam keluarga, makna ini sangat relevan di tengah krisis komunikasi antara generasi. Banyak keluarga gagal membangun keutuhan karena kehilangan kebersamaan dalam tujuan. Anak ingin ini, orang tua ingin itu. Seni Senang menawarkan gagasan: mari bentuk ndai one nai — kehendak yang berakar dari hati bersama. Bahkan jika berbeda generasi atau pandangan, jika kehendaknya sejajar, harmoni akan muncul.

Secara sosial, pesan ini adalah pondasi pembangunan komunitas. Pembangunan tidak akan pernah berhasil jika masyarakat tidak memiliki kesadaran kolektif. Di sinilah lagu ini menjadi mantra sosial: tanpa rasa senasib, tak akan ada gerak bersama. Kebersamaan itu tidak bisa diinstruksikan dari atas, tapi harus dihidupi dari dalam.

"Lemot keta lelon du lonto telo keot belo beo"— Betapa indah dipandang saat kita duduk berdampingan meski dari kampung berbeda

Di tengah dunia yang makin mengkotak-kotakkan identitas, bait ini menyuarakan etika keberagaman dan inklusivitas. Lagu ini tidak hanya bicara tentang kebersamaan dalam satu kampung, tetapi juga menyentuh cinta lintas kampung, persaudaraan lintas batas, bahkan toleransi antar komunitas.

Dalam keluarga Manggarai modern, pernikahan antar kampung atau antar suku sering memunculkan gesekan kultural. Namun lagu ini mengajarkan bahwa keindahan tidak berasal dari kesamaan, melainkan dari telo keot belo beo — kebersamaan dalam keberbedaan. Duduk berdampingan bukan berarti harus sama, tapi saling menghormati akar masing-masing.

Pesan ini sangat penting dalam hidup diaspora. Di tanah rantau, orang Manggarai sering hidup berdampingan dengan suku dan agama lain. Alih-alih membangun sekat identitas, lagu ini menyerukan inklusivitas. Duduk berdampingan tidak harus menghapus perbedaan; justru dalam keberbedaan itulah keindahan hidup bermasyarakat bisa tercipta.

Nilai-Nilai Etika Lainnya yang Tersirat

Walau hanya dalam beberapa bait, Seni Senang memuat fondasi etika sosial Manggarai yang luas seperti kesetaraan dimana semua pihak memiliki kedudukan yang  setara. Tidak ada hierarki sosial yang membungkam suara. Orang Manggaraai harus memelihara empati karena kehendak bersama bukan hasil kompromi politik, tapi empati antar hati. Di tanah rantau kita menjadi warga kampung berarti kita terikat dalam komitmen saling jaga dan akhirnya etika kebersamaan yang diajarkan lagu ini untuk menganggap berdampingan itu indah. Estetika hidup bukan dalam mewahnya barang, tapi dalam harmoni sosial.

Lagu Seni Senang menempatkan kebersamaan bukan hanya sebagai kebutuhan, tetapi sebagai keindahan itu sendiri. Dalam penggalan lirik “lemot kela lelon du lonto telo keot belo beo” (betapa indah dipandang jika duduk berdampingan meskipun dari kampung berbeda), kita menjumpai etika visual sosial — bahwa masyarakat yang hidup berdampingan dalam harmoni adalah pemandangan yang indah, tidak hanya secara estetis, tapi juga secara moral.

Dalam konteks sosial kemasyarakatan, pesan ini sangat kuat. Orang Manggarai hidup dalam struktur kampung yang dibentuk dari suku-suku, beo, dan anak wina yang memiliki relasi sejarah, ritual, dan struktur sosial tertentu. Di dalamnya, sering terjadi benturan: beda asal, beda adat, beda kepentingan. Lagu ini seperti mengingatkan bahwa jika semua pihak bisa “woko bantang cama ite ca natas” — duduk dan berbicara sebagai sesama warga dalam satu halaman kampung — maka akar dari banyak konflik sosial bisa dicegah atau bahkan disembuhkan.

Etika ini mendorong prinsip musyawarah inklusif — bahwa tidak boleh ada yang dikucilkan dari percakapan komunitas, bahwa suara minoritas atau warga dari “kampung berbeda” tetap memiliki tempat di meja perundingan. Bahkan dalam bentuk komunitas modern seperti RT/RW, organisasi pemuda, karang taruna, atau panitia gereja, prinsip ini tetap relevan: keindahan sosial lahir dari kemauan untuk duduk bersama, bukan berdiri sendiri.

Lebih jauh, lagu ini mengandung kritik terhadap fragmentasi sosial. Dalam kehidupan sekarang, sering kali masyarakat terpecah akibat perbedaan afiliasi politik, preferensi agama, atau sekadar persaingan sosial-ekonomi. Seni Senang mengajak kita kembali kepada akar: manusia tidak diciptakan untuk saling mengalahkan, tetapi untuk “ndai one nai” — memiliki kehendak bersama yang lahir dari hati, bukan dari kepentingan.

Dengan kata lain, etika yang diajarkan Seni Senang adalah etika kolektif berbasis rasa — bukan sekadar tata aturan administratif, tetapi moralitas yang tumbuh dari kesadaran bersama untuk saling menjaga, saling mendengarkan, dan saling mengindahkan kehadiran orang lain sebagai bagian dari keutuhan sosial.

Lagu Seni Senang ini menjadi titik temu spiritual antara tanah asal dan tanah rantau; Pertama, lagu ini mengingatkan diaspora bahwa identitas budaya tidak boleh dilupakan. Seni Senang adalah alarm lembut agar di tanah orang, orang Manggarai tetap membawa semangat ngacak keta — damai melalui musyawarah, bukan konflik.

Kedua, lagu ini bisa menjadi alat pemersatu diaspora. Banyak komunitas diaspora tercerai karena konflik kecil: beda partai, beda asal kampung, beda gereja. Lagu ini adalah seruan etis: lemot kela lelon — begitu enak dipandang manakala duduk bersama, apapun asalmu. Ketiga, di tengah budaya urban yang cenderung individualistik, lagu ini menyerukan kembali etika gotong royong dan rasa senasib. Ini bisa menjadi dasar membangun organisasi diaspora yang inklusif dan kolaboratif.

Etika dalam Rindu dan Perjumpaan

Dalam kehidupan diaspora, terutama bagi orang Manggarai yang tinggal jauh dari tanah kelahiran — di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, dan berbagai belahan Indonesia atau bahkan luar negeri — lagu Seni Senang hadir sebagai jembatan emosional dan moral. Ia menyuarakan rindu bukan hanya kepada kampung halaman, tetapi juga kepada tata nilai dan semangat hidup komunal yang mulai memudar di dunia perantauan.

Bait-bait seperti “manik keta laing” dan “woko bantang cama ite ca natas” mengingatkan diaspora bahwa etika Manggarai bukan hanya untuk ruang adat, tetapi bisa dihidupkan di manapun kita berada. Saat diaspora berkumpul dalam bentuk organisasi paguyuban, perkumpulan mahasiswa, atau forum kekeluargaan, lagu ini bisa menjadi fondasi moral bersama — bahwa hal terindah bukan siapa yang paling menonjol, tetapi ketika semua bisa duduk bersama dan merasa nyaman satu sama lain meski dari “kampung berbeda.”

Bagi diaspora, lagu ini juga menjadi perisai nilai ketika menghadapi godaan individualisme urban. Di kota besar, relasi antar manusia lebih transaksional dan impersonal. Tapi Seni Senang mengajarkan bahwa kehendak yang sejati lahir dari kebersamaan hati, bukan dari kontrak atau formalitas. Maka, ketika sesama diaspora Manggarai menghadapi tantangan di tempat kerja, pendidikan, atau dalam menghadapi diskriminasi, Seni Senang bisa menjadi nyanyian semangat untuk kembali saling dukung, saling peluk, dan saling menguatkan.

Tidak kalah penting, lagu ini juga mengajarkan etika lintas budaya. Diaspora Manggarai hidup berdampingan dengan banyak suku, agama, dan bangsa. Seni Senang mengingatkan mereka untuk tetap membawa nilai toleransi dan keterbukaan. Kalimat “lonto telo keot belo beo” menyiratkan bahwa keindahan tidak akan tercipta jika kita hanya duduk dengan orang yang sama; justru keberagamanlah yang membuat kita belajar tentang cinta, empati, dan kerendahan hati.

Lebih dalam lagi, lagu ini menghidupkan etika nostalgia sebagai tanggung jawab budaya. Rindu kampung halaman bukan hanya soal tempat, tetapi juga soal menjaga nilai. Maka para diaspora yang menyanyikan Seni Senang dalam pertemuan keluarga besar atau acara budaya di tanah rantau sebenarnya sedang mewariskan nilai etika Manggarai kepada generasi berikutnya — bahwa dalam dunia yang cepat berubah, masih ada ruang untuk duduk berdampingan, masih ada waktu untuk membicarakan hidup bersama.

Etika sebagai Warisan Budaya

Lagu Seni Senang oleh Surat Edar bukan hanya ekspresi musikal; ia adalah manifes moral dari filsafat sosial Manggarai. Ia mengajarkan bahwa hidup bersama itu adalah seni, dan seni itu akan menghadirkan kegembiraan (senang) jika dilandasi etika kebersamaan, kesetaraan, dan empati.

Di tengah krisis moral, polarisasi identitas, dan retaknya jalinan sosial, lagu ini bisa menjadi obor etika yang menyinari jalan hidup pribadi, keluarga, dan komunitas diaspora. Ia bukan hanya lagu nostalgia; ia adalah pedoman hidup dalam syair sederhana.

“Seni Senang” merupakan sebuah mahakarya etis yang dibungkus dalam melodi yang sederhana namun mendalam. "Seni Senang" adalah sumber pembelajaran moral yang kuat dalam tiga konteks kehidupan yaitu keluarga, sosial dan masyarakat di perantauan. Dengan demikian, Seni Senang layak disebut sebagai lagu etika lintas ruang dan generasi. Ia bukan hanya untuk orang Manggarai, tapi untuk siapa pun yang percaya bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari menang sendiri, tapi dari duduk bersama dan merasa senang karena kita satu hati.

*) Dr. Don Bosco Doho, Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta dengan Disertasi Mengenai Kearifan Lokal Manggarai di Bidang Kepemimpinan Etis

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas