Oleh
Dr. Don Bosco Doho*)
Jakarta, INDONEWS.ID - Di tengah arus informasi yang kian deras, kita kerap mendengar istilah “pakar” dilemparkan begitu saja. Cukup seseorang muncul di podcast, komentar di media sosial, atau tampil di berita, langsung disebut “ahli” dalam bidang tertentu. Padahal, belum tentu ia memiliki latar belakang, pengalaman, atau kontribusi nyata.
Fenomena mudanya memunculkan julukan pakar atau ahli ini bukan hanya mengaburkan makna kata “pakar”, tetapi juga membahayakan kualitas diskusi publik. Lalu, kita jadi bingung: siapa yang benar-benar ahli, dan siapa yang hanya heboh?
Lalu, kapan seseorang layak disebut pakar? Apa kriterianya? Haruskah punya gelar doktor? Sudah berapa lama bekerja? Sudah berapa karya yang dihasilkan? Mari kita telusuri.
"Pakar" Bukan Gelar, Tapi Proses
Kata pakar atau ahli bukan sekadar julukan kehormatan. Ia merujuk pada seseorang yang memiliki pengetahuan mendalam, pengalaman panjang, dan kontribusi nyata dalam bidang tertentu. Dalam bahasa Inggris, expert tidak diberikan karena popularitas, melainkan karena pengakuan dari komunitas ilmuwan atau praktisi sejawat.
Akan tetapi kini, istilah ini demikian sering dan mudah disalahgunakan. Di media sosial, cukup dengan menyampaikan pendapat yang terdengar meyakinkan, seseorang bisa langsung diangkat menjadi “pakar” oleh kelompok pendukungnya. Padahal, keahlian bukan soal volume suara, tapi soal kedalaman dan kredibilitas.
Apa Saja Kriteria Seorang Pakar?
Untuk menilai apakah seseorang layak disebut pakar, kita perlu melihat beberapa indikator objektif: Pertama, pendidikan formal yang relevan. Seorang pakar biasanya memiliki pendidikan tinggi di bidang yang spesifik. Misalnya, doktor dalam ekonomi untuk menjadi pakar ekonomi, atau spesialis kedokteran untuk menjadi ahli medis.
Namun, gelar saja tidak cukup. Banyak orang bergelar tinggi tetapi tidak pernah meneliti, menulis, atau terlibat dalam perkembangan ilmu. Sebaliknya, ada pula yang tidak bergelar doktor tetapi diakui sebagai pakar karena kontribusi nyata — seperti tokoh adat yang memahami budaya secara turun-temurun.
Kedua, karya intelektual yang terpublikasi. Salah satu tolok ukur paling kuat dari keahlian adalah karya yang diakui oleh komunitas ilmuwan. Ini bisa berupa: artikel ilmiah di jurnal bereputasi (peer-reviewed), buku akademik atau populer yang berbasis riset didukung oleh penelitian lapangan serta kontribusi dalam konferensi ilmiah.
Misalnya, seorang dosen yang telah menulis 20 artikel tentang perubahan iklim di jurnal internasional lebih layak disebut pakar daripada seorang tokoh yang hanya sekali bicara tentang cuaca di podcast. Sampai di titik ini, keahlian tidak diukur dari seberapa sering seseorang bicara, tapi dari seberapa sering ia dikutip.
Ketiga, pengalaman praktis dan jam terbang yang mumpuni. Konsep “10.000 jam” dari buku Outliers karya Malcolm Gladwell menyebut bahwa keahlian butuh waktu dan latihan intensif. Meski angka ini tidak mutlak, intinya jelas: keahlian dibangun melalui konsistensi dan pengalaman nyata.
Ambil contoh dalam dunia medis, seorang dokter spesialis harus menempuh puluhan ribu jam belajar dan praktik sebelum dianggap kompeten. Begitu pula dengan insinyur, psikolog, atau ilmuwan. Hanya saja, jam terbang semata tidaklah cukup jika tidak disertai refleksi dan pembelajaran. Banyak orang bekerja 10 tahun di bidang yang sama, tetapi tidak berkembang karena hanya mengulang rutinitas.
Keempat, adanya pengakuan dari komunitas sejawat. Seorang pakar sejati dihormati oleh rekan-rekannya, bukan hanya oleh pengikutnya di media sosial. Ia diundang menjadi pembicara dalam konferensi, menjadi reviewer jurnal, atau menjadi anggota asosiasi profesional. Inilah yang disebut peer recognition — pengakuan dari sesama ahli. Bukan dari massa, tapi dari komunitas yang memahami standar keilmuan.
Ijinkab saya mengacu ke Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban di bidang onkologi yang begitu diakui oleh komunitas medis nasional dan internasional, aktif menulis riset, dan menjadi narasumber resmi Kemenkes. Lalu, mari kita bandingkan dengan tokoh yang baru sekali bicara soal vaksin di YouTube, lalu langsung dianggap “pakar vaksin” oleh kelompok tertentu.
Kelima, sikap terbuka terhadap kritik. Science sejati selalu terbuka disalah benarkan, diverifikasi dan difalsifikasi. Karena kebenaran tidak pernah mutlak. Maka, seorang pakar sejati tidak takut salah. Ia siap mengoreksi pendapat jika ada data baru. Ia tidak menyerang pribadi yang berbeda pendapat, tapi merespons dengan argumen ilmiah.
Sebaliknya, orang yang bukan pakar sering kali: bersikeras pada pendapat tanpa dasar, mudah mengklaim konspirasi saat ditantang dan gampang menghina lawan bicara. Ini benarlah kata, Bertrand Russell, "Kebodohan yang paling berbahaya adalah kebodohan yang dibungkus dengan kepercayaan diri."
Bahaya Memakai Istilah "Pakar" Secara Sembarangan
Memberi gelar “pakar” kepada orang yang belum memenuhi kriteria bisa berdampak serius antara lain menyesatkan publik. Ketika orang yang tidak kompeten dianggap ahli, publik bisa menerima informasi yang salah. Contoh: orang tanpa latar belakang medis yang menyebarkan teori anti-vaksin, “pakar ekonomi” yang hanya lulusan jurusan tidak relevan, memberi saran kebijakan yang merugikan
Selanjutnya, memakai istilah pakar terancan merendahkan profesional sebenarnya. Dokter, ilmuwan, dan peneliti yang telah bertahun-tahun belajar dan bekerja bisa terpinggirkan oleh suara yang lebih keras, meski tidak berdasar. Lebih dari itu, pembaptisan pakar secara serampangan dapat mengikis kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan. Ketika masyarakat melihat banyak “pakar” yang saling bertentangan, mereka jadi bingung dan akhirnya menolak semua saran ilmiah — inilah yang disebut epistemic distrust.
Bagaimana Masyarakat Bisa Lebih Kritis?
Agar tidak mudah terjebak oleh “palsu pakar”, kita perlu: mengecek latar belakang pendidikan dan afiliasi institusi; meninjau karya yang pernah diproduksi (buku, artikel, penelitian); memperhatikan apakah ia diakui oleh komunitas sejawat; menanyakan apakah ia membuka ruang kritik dan koreksi?. Terakhir mari kita hindari penilaian berdasarkan popularitas atau gaya bicaraUntuk itu, media juga punya tanggung jawab besar. Jangan asal mengundang narasumber hanya karena viral atau punya massa. Harus ada verifikasi kredensial.
Contoh Nyata: Siapa yang Pantas Disebut Pakar?
Dengan segala hormat mari kita telusuri Prof. Emil Salim, yang berlatar belakang Doktor ekonomi dari Universitas California, Berkeley. Karyanya berupa buku tentang ekonomi pembangunan dan lingkungan. Pengalamannya sebagai Menteri, penasihat presiden, dosen dan diakui secara nasional dan internasional nampaknya tidak perlu diragukan lagi kepakaran dan integritasnya.
Sementara, ada selebritas yang bicara vaksin, dengan latar belakang artis, tanpa pendidikan medis, tidak perna memiliki publikasi ilmiah, tetap berani mengklaim “Vaksin berbahaya karena saya alergi”. Ini jelas bukan pakar, meski banyak yang mengikutinya.
Hargai Keahlian, Jangan Biarkan Suara yang Keras Mengalahkan yang Benar
Menjadi ahli bukan soal seberapa sering seseorang tampil di media, seberapa banyak pengikutnya, atau seberapa meyakinkan suaranya. Keahlian adalah hasil dari proses panjang: belajar, berlatih, berkontribusi, dan terus belajar lagi. Karena kriteria utama seorang pakar adalah: pendidikan formal yang relevan; karya intelektual yang terpublikasi; pengalaman praktis yang mendalam; mendapat pengakuan dari komunitas sejawat serta memiliki sikap terbuka dan kritis.
Tidak ada angka pasti seperti “10.000 jam” atau “50 karya”, tapi yang jelas: keahlian tidak bisa dibeli, dipalsukan, atau diraih dalam semalam.
Di era informasi, kita semua punya tanggung jawab — sebagai pembaca, pendengar, atau penulis — untuk lebih kritis, lebih bijak, dan lebih hormat terhadap ilmu pengetahuan. Jangan biarkan suara yang keras mengalahkan suara yang benar. "Ilmu itu bukan untuk dipamerkan, tapi untuk diamalkan. Dan keahlian bukan untuk diklaim, tapi untuk diakui oleh waktu dan komunitas."
Mari kita hargai para ahli sejati. Dan bagi yang ingin menjadi ahli, mulailah dari belajar, bukan dari bicara.
Penulis adalah pemerhati pendidikan dan literasi media. Artikel ini ditulis untuk mengingatkan pentingnya kredibilitas dalam ruang publik.