indonews

indonews.id

Kepala Protokol Negara: Kain Tenun Bukan Sekadar Busana, Tapi Representasi Diplomasi Budaya Kita

Andy Rachmianto menerima rombongan yang dipimpin langsung oleh Drs. Asri Hadi, MA selaku Pemimpin Redaksi Indonews.id itu dengan senyum tenang dan gestur diplomatik khas seorang pejabat senior negara. Adapun yang ikut dalam rombongan tersebut antara lain Pemred Majalah Matra, Pemred Editor.ID, dan Pemimpin Umum Bulir.id.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
zoom-in Kepala Protokol Negara: Kain Tenun Bukan Sekadar Busana, Tapi Representasi Diplomasi Budaya Kita
Pemred Asri Hadi memegang buku berjudul `My Journey Book: Indonesia & Jordan Beauties karya Ismi Rohimaningsih, istri Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler (Dirjen Prokons) Kementerian Luar Negeri RI selaku Kepala Protokol Negara (KPN), Drs. Andy Rachmianto, M.Phil. (Foto: Rikarddjegadut/indonews.id 7/8/25)

Jakarta, INDONEWS.ID – Kamis, 7 Agustus 2025 sore, rombongan jurnalis senior mendatangi ruang kerja Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler (Dirjen Prokons) Kementerian Luar Negeri RI selaku Kepala Protokol Negara (KPN), Drs. Andy Rachmianto, M.Phil.

Andy Rachmianto menerima rombongan yang dipimpin langsung oleh Drs. Asri Hadi, MA selaku Pemimpin Redaksi Indonews.id itu dengan senyum tenang dan gestur diplomatik khas seorang pejabat senior negara. Adapun yang ikut dalam rombongan tersebut antara lain Pemred Majalah Matra, Pemred Editor.ID, dan Pemimpin Umum Bulir.id.

Dalam sesi wawancara eksklusif berdurasi kurang lebih dua jam penuh itu, Andy berbicara tidak hanya tentang diplomasi formal dan peran krusialnya sebagai wajah protokol negara, tetapi juga tentang sisi personal yang jarang tersorot: kecintaannya terhadap wastra nusantara, yang ternyata dipengaruhi oleh sang istri, Ismi Rohimaningsih.

Di awal perbincangan, Andy mengungkapkan bahwa kecintaannya pada kain tradisional Indonesia baru tumbuh dalam lima tahun terakhir.

“Saya mulai menyukai wastra itu baru sekitar lima tahun belakangan. Dan itu karena mantan pacar saya, yang sekarang jadi istri saya, Ismi Rohimaningsih. Beliau yang memperkenalkan saya, bahkan sekarang menjadi fashion advisor saya untuk semua urusan wastra,” ungkap Andy sambil tersenyum.

Cinta pada wastra, lanjut pria kelahiran Jakarta ini, bermula ketika dia menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Setiap akhir pekan, ia dan sang istri menyempatkan diri mengunjungi situs-situs bersejarah di Yordania—negara yang dijuluki sebagai The Land of the Prophets—dan Palestina.

“Sopir kami suruh istirahat di Wisma, saya nyetir sendiri bermodalkan google map. Setiap kali bepergian, istri saya selalu memakai busana dari kain khas nusantara. Kami foto, lalu ia beri narasi. Semua itu dikumpulkan dan dijadikan buku berjudul `My Journey Book: Indonesia & Jordan Beauties`. Dari situlah saya mulai menyadari bahwa wastra bisa menjadi media diplomasi budaya yang kuat,” ungkap pria kelahiran  8 April 1965 ini. 

Dari situlah, kesadaran akan kekuatan budaya dalam diplomasi tumbuh perlahan namun pasti. Andy mulai mengenakan tenun, songket, atau batik dalam setiap acara kenegaraan. Tidak sembarangan—setiap motif dan warna dipilih berdasarkan filosofi dan konteks acara, dengan bimbingan penuh dari sang istri.

Tenun Manggarai dan Peran Sang Istri

Puncak dari peran diplomatik wastra ini terjadi saat KTT ASEAN 2024 di Labuan Bajo. Andy mengusulkan agar para kepala negara mengenakan tenun khas Manggarai Barat, NTT, sebagai busana resmi. Usul ini pun disetujui oleh Presiden RI. Namun, ada cerita menarik di balik pilihan warna.

“Saya sudah pilih satu warna kain. Tapi ternyata, warna yang sama juga dipilih Presiden. Untungnya, belum dijahit. Akhirnya saya "mengalah". Tapi tetap saya pakai motif yang sama, hanya dengan desain yang berbeda. Saya buat seperti vest, jadi kelihatan unik,” beberanya dengan rasa bangga. 

Baginya, mengenakan kain tradisional bukan hanya soal estetika. Respons dari para tamu negara pun sangat positif. Bahkan, tak jarang mereka bertanya tentang motif dan filosofi kain yang dikenakan.

“Saya harus siap menjelaskan. Karena itu, saya harus punya literasi tentang motif dan makna kain, dan tentu saja, istri saya selalu jadi rujukan utama dalam hal ini,” tambahnya. 

Dalam memilih wastra untuk setiap acara kenegaraan, Andy mengaku menyerahkan sepenuhnya pada sang istri. “Saya percaya selera dan pengetahuan beliau. Saya hanya bilang acaranya apa dan siapa saja yang hadir, lalu biarkan dia memilihkan motif, warna, dan model. Alhamdulillah sejauh ini, semua berhasil mencuri perhatian.”

Istrinya, Ismi Rohimaningsih, tak hanya dikenal sebagai pencinta wastra, tetapi juga sebagai penggerak sosial. Ia menggagas program Etalase Nasi Gratis (GENG) serta Gerakan 1000 Cinta untuk Papua, yang menjadi bagian dari kontribusinya pada isu kemanusiaan.

Profil Andy Rachmianto

Andy Rachmianto merupakan diplomat karier senior yang telah mengabdi di Kementerian Luar Negeri RI selama lebih dari tiga dekade. Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler (Dirjen Protkons) sekaligus Kepala Protokol Negara (KPN).

Posisi Dirjen Protkons sekaligus KPN ini membuatnya bertanggung jawab penuh atas seluruh penyelenggaraan protokol kenegaraan dan diplomatik, serta pelayanan konsuler Indonesia di luar negeri. 

Baginya, jabatan dengan tanggung jawab strategis ini merupakan wujud nyata sebagai pelayan publik yang memberi dampak langsung pada pelayanan publik. Jabatan ini pun, lanjutnya, sudah disepakati bersama sang istri sebelum memutuskan.

"Jadi istri sudah setuju. Sebab saya melayani langsung dari orang nomor satu di negeri ini hingga warga kelas paling bawah seperti para korban Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri," ungkapnya. 

Pendidikan dan Karier Diplomatik

Pada tahun 1991, Andy meraih gelar Sarjana jurusan Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Andy kemudian mengajar di almamater selama setahun. Saat itu pulalah Andy bertemu dengan Ismi Rohimaningsih yang kemudian menjadi istrinya. 

Andy  melanjutkan pendidikan pasca sarjana dan mendapatkan gelar Master of Philosophy (M.Phil) dari School of International Studies, Universitas Jawaharlal Nehru, New Delhi, India pada tahun 1999.

Sebelum dilantik sebagai Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler/Kepala Protokol Negara (KPN) pada 19 Juni 2020, beliau merupakan Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Kerajaan Yordania Hasyimiah merangkap Negara Palestina (2017-2020).

Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan (KIPS) Senjata Kementerian Luar Negeri sejak Mei 2013. Pada periode 2011 - 2013 beliau bertugas di Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York (PTRI New York) sebagai Minister Counselor bidang Ekonomi, Sosial, dan Kemanusiaan.

Pada tahun 1992, beliau bergabung dengan Kementerian Luar Negeri, menjalani pendidikan Sekolah Dinas Luar Negeri dan kemudian memulai karir pada Kantor Badan Eksekutif untuk Gerakan Non-Blok (1993-1996)

Selanjutnya, beliau menjabat sebagai Sekretaris Ketiga (Politik, Informasi, dan Konsuler) di KBRI New Delhi (1996-2000). Kemudian bertugas Kepala Seksi/Plt. Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Kerja Sama Fungsional/Mitra Wicara, Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, serta sekretaris Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN (2000-2002).

Di dalam negeri, ia menjadi garda terdepan dalam penyelenggaraan acara-acara besar kenegaraan, dari pelantikan presiden hingga pertemuan tingkat tinggi antarnegara.

Keluarga dan Sosok di Balik Layar

Andy menikah dengan Ismi Rohimaningsih, seorang aktivis sosial dan budaya yang juga Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Amman. Ismi adalah satu dari empat penggagas Gerakan Etalase Nasi Gratis (GENG) dan Gerakan 1000 Cinta untuk Papua. Ia juga penulis buku My Journey Book: Indonesia & Jordan Beauties, yang menggambarkan peran wastra dalam diplomasi budaya.

Pasangan ini dikenal kompak dan saling melengkapi. Di banyak forum diplomatik dan kultural, kehadiran mereka selalu menjadi simbol pasangan diplomat yang memadukan profesionalisme, empati sosial, dan kecintaan pada budaya Indonesia.

Diplomasi tidak selalu tentang meja perundingan dan perjanjian internasional. Melalui wastra, Indonesia bisa memperkenalkan jati diri, nilai, dan warisan budayanya secara halus namun kuat. Andy Rachmianto, dengan dukungan penuh dari sang istri, membuktikan bahwa sehelai kain bisa bicara lebih banyak daripada kata-kata.

“Kita tidak hanya mewakili negara lewat sikap dan protokol, tapi juga lewat apa yang kita pakai. Karena itu, saya ingin memastikan bahwa setiap motif yang saya kenakan, punya makna yang layak disampaikan kepada dunia,” tutup Andy Rachmianto.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas