Pemerintah Pusat Pantau Polemik di Pati, Minta Semua Pihak Tahan Diri
Pemerintah pusat melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pihaknya memantau secara intens dinamika politik yang tengah berlangsung di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyusul desakan warga agar Bupati Sudewo mundur dari jabatannya.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Pemerintah pusat melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pihaknya memantau secara intens dinamika politik yang tengah berlangsung di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyusul desakan warga agar Bupati Sudewo mundur dari jabatannya.
"Saya memonitor terus, berkomunikasi dengan Bapak Gubernur Jawa Tengah. Semoga segera bisa kita cari jalan keluar terbaik. Kita menghormati semua proses, termasuk unjuk rasa masyarakat Pati dan langkah DPRD Pati yang menggunakan haknya," ujar Prasetyo di Jakarta, Rabu (13/8/2025), dikutip dari Antara.
Prasetyo menegaskan pemerintah pusat menjaga koordinasi dengan berbagai pihak di daerah dan menghormati mekanisme politik yang sedang berjalan. Ia meminta semua pihak, baik Bupati Sudewo maupun masyarakat, untuk menahan diri demi mencegah eskalasi situasi.
Terkait kabar adanya korban jiwa dalam aksi protes, Prasetyo menyebut pihaknya belum menerima laporan resmi dan meminta klarifikasi lebih lanjut. "Kami perlu memastikan agar tidak terjadi simpang siur. Informasi yang kami terima sementara ini belum ada laporan korban meninggal dunia," tegasnya.
Sebelumnya, ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu menggelar demonstrasi besar di depan Kantor Bupati dan Pendapa Kabupaten Pati.
Mereka menuntut Bupati Sudewo mundur, menyoroti kebijakan kontroversial seperti kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 250 persen, serta pembangunan videotron dan alun-alun yang dinilai membebani APBD.
Kericuhan terjadi saat Bupati Sudewo mencoba menyampaikan pernyataan dari atas kendaraan taktis Brimob. Massa melempar sandal dan botol air, memicu aparat kepolisian menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Polisi mengamankan 11 orang yang diduga sebagai provokator.