indonews

indonews.id

ILUNI UI: Membangun Jembatan, Melukis Warna Masa Depan

 ILUNI UI: Membangun Jembatan, Melukis Warna Masa Depan

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Oleh: Achmad Fadillah (Alumni FISIP UI)

Di tengah-tengah riuh rendah kontestasi kepemimpinan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) periode 2025-2028, ada sebuah pertanyaan mendasar yang menggema melampaui sekadar siapa yang akan terpilih. Pertanyaan itu adalah: hendak ke mana bahtera besar ini kita arahkan? Pemilihan yang puncaknya akan berlangsung pada 23-24 Agustus mendatang bukanlah suksesi rutin, melainkan sebuah referendum sunyi tentang jiwa dan tujuan organisasi alumni paling bergengsi dan berpengaruh di
negeri ini .

Universitas Indonesia dan para alumninya adalah bagian tak terpisahkan dari DNA kebangsaan. Sejak era pergerakan, para pendahulu kita telah menjadi motor penggerak sejarah, dari pemikiran yang melahirkan kemerdekaan hingga tangan-tangan teknokrat yang membangun fondasi bangsa.

Warisan ini adalah sebuah kehormatan sekaligus
beban tanggung jawab. Kini,ILUNI UI dihadapkan pada pilihan: menjadi sekadar album kenangan tempat kita bernostalgia, atau mentransformasi diri menjadi kekuatan relevan yang ikut serta mendefinisikan masa depan Indonesia.

Tantangan terbesar ILUNI UI hari ini bukanlah kurangnya talenta. Dengan ratusan ribu alumni yang tersebar di berbagai sektor strategis, potensi kita tak terbatas. Tantangan sesungguhnya bersifat internal: fragmentasi. Kita terkotak-kotak dalam sekat-sekat tak kasat mata. Ada sekat vertikal antara senior dan junior, yang sering kali melahirkan
budaya patronase ketimbang meritokrasi. Ada pula sekat horizontal antar-fakultas, dimana loyalitas pada warna makara terkadang mengalahkan identitas kita sebagai satu keluarga besar UI. Tanpa sebuah perekat yang kuat, kita berisiko menjadi konfederasi longgar yang riuh dalam diskusi, namun senyap dalam aksi kolektif.

Di sinilah urgensi sebuah visi kepemimpinan yang tidak hanya menawarkan program, tetapi juga sebuah narasi persatuan baru. Persatuan yang bukan hanya didasarkan pada sentimen "guyub" atau keakraban semata, melainkan persatuan yang lahir dari sebuah arsitektur organisasi yang adil, terhubung, dan bertujuan.

Sebuah gagasan menarik yang muncul ke permukaan dalam kontestasi kali ini adalah
kerangka "Setara, Sambung, Solutif". Visi ini patut direnungkan karena ia tidak mengawang-awang, melainkan membedah akar masalah fragmentasi dengan presisi.

Ia menawarkan sebuah kontrak sosial baru bagi seluruh alumni. Pertama, pilar "Setara" adalah sebuah ajakan untuk melakukan dekolonisasi mental di dalam rumah kita sendiri. Ini adalah upaya tulus untuk menciptakan ruang aman dimana setiap alumni, tanpa memandang angkatan, gender, atau status sosial, memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi. Bayangkan sebuah ILUNI UI di mana ide-ide cemerlang dari alumni muda tidak terhalang oleh hirarki senioritas, dan setiap suara didengar karena bobot gagasannya, bukan karena jabatannya. Ini bukan sekadar tentang keadilan, ini tentang efisiensi. Dengan meruntuhkan sekat-sekat ini, kita melepaskan energi dan potensi luar biasa yang selama ini mungkin terpendam. Ini adalah fondasi dari persatuan yang otentik, karena rasa memiliki hanya akan tumbuh di ladang yang adil.
Kedua, pilar "Sambung" adalah tentang membangun jembatan di atas jurang pemisah antar-fakultas. Selama ini, kekuatan kita yang tersebar di berbagai disiplin ilmu—sosial, hukum, ekonomi, teknik, kedokteran, dan lainnya—lebih sering berjalan sendiri-sendiri.

Visi "Sambung" secara sadar merekayasa titik-titik temu, menciptakan sebuah "otak kolektif" di mana seorang ahli hukum bisa berkolaborasi dengan insinyur, dan seorang ekonom bisa bersinergi dengan pakar kesehatan masyarakat. Ini bukan lagi sekadar jejaring sosial pasif, melainkan sebuah ekosistem inovasi yang aktif. Di dunia yang
semakin kompleks, solusi-solusi terbaik lahir dari persimpangan disiplin ilmu. Dengan menjadi arsitek konektivitas ini, ILUNI UI dapat menjadi inkubator solusi-solusi orisinal untuk bangsa.

Puncaknya adalah pilar ketiga, "Solutif". Inilah muara dari semua upaya persatuan internal. Untuk apa kita setara dan tersambung jika bukan untuk tujuan yang lebih besar dari diri kita sendiri? Pilar ini adalah penegasan kembali mandat historis kita untuk
mengabdi pada republik. Ia mengusulkan agar ILUNI UI tidak hanya menjadi kumpulan individu hebat, tetapi menjadi sebuah institusi yang secara terstruktur menghasilkan pemikiran dan rekomendasi kebijakan bagi bangsa. Ini adalah transformasi dari kekuatan personal menjadi kekuatan institusional. Dengan demikian, kontribusi alumni UI pada negara tidak lagi bersifat sporadis dan kebetulan, melainkan menjadi sebuah kekuatan yang terlembagakan, berkelanjutan, dan diperhitungkan.

Gagasan ini tentu ambisius. Namun, ia didukung oleh rekam jejak konkret dari para arsiteknya. Duet Pramudya A. Oktavinanda, seorang doktor hukum dari University of Chicago yang membangun salah satu firma hukum terdepan di Indonesia, dengan
Masyita Crystallin, seorang doktor ekonomi dengan pengalaman di Bank Dunia dan IMF, adalah sebuah mikrokosmos dari visi yang mereka usung. Mereka adalah perpaduan antara keahlian merancang struktur yang adil dan strategi untuk menciptakan dampak kolektif. Ini bukan sekadar janji, melainkan sebuah demonstrasi kapabilitas.

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita semua, para alumni. Apakah kita akan terus berjalan di jalur yang sudah ada, atau kita berani mengambil lompatan menuju paradigma baru? Apakah kita cukup puas dengan kehangatan sebuah reuni, atau kita mendambakan sebuah rumah bersama yang memberdayakan, menghubungkan, dan memberikan dampak nyata?

Pemilihan kali ini adalah tentang memilih masa depan. Sebuah masa depan di mana ILUNI UI menjadi rumah yang setara bagi semua, menjadi jembatan yang menyambungkan seluruh potensi, dan menjadi sumber solusi bagi Indonesia. Ini adalah kesempatan kita untuk memastikan bahwa warisan pengabdian para pendahulu tidak
hanya menjadi cerita pengantar tidur, tetapi menjadi api yang terus menyala, mewarnai dan menerangi perjalanan bangsa.

Tags:
© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas