Indonews.id Gelar Diskusi Royalti, Candra Darusman: Dapat Menjadi Tambang Emas Kesejahteraan Rakyat
Indonesia tidak mempunyai waktu lagi untuk melakukan bongkar pasang segalanya. Kita harus memperbaiki bersama sambil memegang teguh azas transparansi, akuntabilitas dan tata kelola profesional.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - INDONEWS.ID, sebuah media online yang saat ini berkembang luas, mengadakan diskusi terkait ”Isu Royalti Terkini dan ke Depan”. Diskusi tersebut akan digelar di Balai Sarwono, Kemang, Jakarta Selatan, 27 Agustus 2025, pukul 14.00-17.00 WIB.
Diskusi menghadirkan sejumlah pakar di bidangnya antara lain Candra Darusman (dari Pusat Studi Ekosistem Musik/Mantan Pengawas LMKN), Yuno Abeta Lahay (Waketum Bidang Organisasi PHRI) dan Markus Rozano Antar Prasetyo atau biasa disapa Kepra (Praktisi Komunikasi, Penyiaran dan Penyelenggaraan Event). Diskusi ini akan dipandu oleh Pemimpin Redaksi (Pemred) INDONEWS.ID, Asri Hadi. Asri Hadi merupakan mantan ASN dan saat ini dipercaya memimpin sebuah media yang bertagline: ”Orang Penting Baca Indonews”.
Dimintai komentarnya terkait diskusi tersebut, Candra Darusman, dari Pusat Studi Ekosistem Musik/Mantan Pengawas LMKN, mengatakan masyarakat kita telah hidup di alam korupsi.
Untuk diketahui, Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) lahir berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta.
”Masyarakat menghirup udara ‘dimana mana dan apa saja dikorupsi’, institusi LMKN dan LMK juga terkena imbas. Meskipun Laporan Keuangan 2024 yang diaudit KAP menyatakannya Wajar Tanpa Pengecualian,” ujarnya.
Dia mengatakan, banyak stakeholder yang sebelumnya diharapkan memperbaiki berbagai keretakan kapal induk LMKN, malah ikut membolongi kapal dari dalam.
Dia mengatakan, sepuluh tahun keberadaan LMKN memberikan banyak pembelajaran berharga. ”Ke depannya tambang emas royalti dapat diangkat untuk kesejahteraan stakeholder; antara lain merekrut SDM profesional dan mencari solusi IT yang tepat guna - lembaga internasional PBB WIPO bercommitment membantu dengan minim biaya kalau tidak boleh dikatakan free of charge, karena memang ini tugas WIPO untuk membantu negara anggota,” katanya.
Dia juga berharap agar ke depan semua pihak dapat kembali menyatukan langkah agar upaya pengumpulan royalti yang sudah berjalan 30 tahun dan 30.000 lebih outlet sudah mengurus lisensi dan membayar royalti dapat perlahan lahan kembali meraih kepercayaan.
Dikatakannya, Indonesia tidak mempunyai waktu lagi untuk melakukan bongkar pasang segalanya. Kita harus memperbaiki bersama sambil memegang teguh azas transparansi, akuntabilitas dan tata kelola profesional.
”Tujuan diskusi sekaligus memberikan pencerahan dan mengurai kembali berbagai benang kusut yang terjadi dalam diskursus dimasyakat yang seringkali lucu tetapi pemahaman yang kurang pas,” ujarnya.
Tanggapan Persoalan Royalti di Media Sosial
Selaku penyelanggara acara sekaligus moderator acara diskusi, Bang Buyung -demikian Asri Hadi biasa disapa - mengatakan bahwa diskusi ini sebagai tanggapan atas persoalan royalti yang sedang ramai dibahas di berbagai platform media saat ini.
Maka dari itu, menurut Asri, penting dilakukan diskusi agar masyarakat mengetahui duduk persoalan royalti ini. "Karena ada polemik di masyarakat tentang banyak tempat diminta bayar royalti, maka indonews.id ambil inisiatif untuk membahas tentang royalti itu," kata Asri, Selasa (19/8).
Sekadar diketahui, saat ini ramai diperbincangkan terkait royalti yang membuat pengelola tempat-tempat umum seperti kafe, perhotelan, acara kondangan, bahkan bis antarkota takut memutar musik.
Hal tersebut misalnya berdampak terhadap salah satu hotel di Tegal. Karena takut diminta membayar royalti, manajemen hotel memutar suara burung yang sudah direkam sebagai pengganti musik.
Dilansir dari Beritasatu.com, pemilik Hotel Riez Palace, Jamaluddin Ali Katiri di Tegal memutuskan untuk berhenti memutar musik.
Ia memilih membeli 16 ekor burung dari pasar, merekam suaranya, lalu memutarkannya melalui pengeras suara di berbagai sudut hotel.
“Hanya suara burung yang kita putar. Kita beli di pasar burung. Mungkin ini rejeki juga buat pedagang burung. Setelah saya tanya, banyak hotel atau café lain yang sudah melakukan hal yang sama,” ungkap Jamaluddin.
Acara ini, tambah Bang Buyung, tidak dipungut biaya alias gratis. Acara ini juga akan dimeriahkan oleh bintang tamu Sandy Canester, seorang pencipta lagu dan musisi. *