Opini

Ketika Negara Kehilangan Rem

Oleh : luska - Senin, 05/01/2026 17:16 WIB


Penulis: MJP Hutagaol

Ada satu gejala yang berulang dalam sejarah bangsa-bangsa:
kemunduran politik jarang dimulai dari niat jahat yang terbuka, melainkan dari hilangnya rem moral dan institusional dalam kekuasaan.

Otoritarianisme hampir tidak pernah datang dengan tank di jalanan.

Ia datang pelan-pelan, sering kali sah secara prosedural:melalui hukum yang dipersempit maknanya, keamanan yang diperluas tanpa akuntabilitas, dan stabilitas yang dibangun dengan pembungkaman.

Sejarah memberi contoh yang mudah dikenali.
Di banyak negara, hukum yang semula dimaksudkan menjaga ketertiban, perlahan berubah menjadi alat untuk membungkam kritik.

Demonstrasi yang awalnya dilindungi, mulai dianggap gangguan.
Suara yang berbeda pelan-pelan diposisikan sebagai ancaman.

Pada tahap ini, negara masih tampak berjalan normal.
Pemilu tetap ada, lembaga tetap bekerja, aparat tetap berjaga.

Namun yang pelan-pelan hilang adalah sesuatu yang lebih dalam: legitimasi batin di mata warga negara. Indonesia pernah mengalaminya.

Pada masa Orde Baru, negara tampak stabil dan tertib, namun stabilitas itu dibayar mahal oleh ketakutan dan pembungkaman.

Ketika rasa takut itu akhirnya runtuh,
kekuasaan ikut runtuh tanpa perlu perang.
Pelajaran serupa terlihat di luar negeri.

Di Jazirah Arab, satu tindakan putus asa seorang pedagang kecil menjadi cermin penderitaan jutaan orang, dan dalam hitungan bulan, rezim-rezim yang tampak kokoh tumbang.

Bukan karena mereka kalah perang, melainkan karena kehilangan pembenaran di hati rakyatnya.

Bahaya terbesar dalam setiap masa transisi bukan nostalgia pada rezim lama, melainkan kebiasaan lama yang hidup kembali dengan wajah baru:
kekuasaan tanpa koreksi, keamanan tanpa batas yang jelas, dan hukum yang lebih berfungsi sebagai alat ketertiban daripada keadilan.

Sejarah dunia konsisten memberi pelajaran:
negara tidak runtuh karena kritik terlalu keras,
tetapi karena kritik dianggap ancaman.

Saat itu terjadi, kekuasaan mungkin masih kuat secara fisik, namun sesungguhnya sedang meluncur tanpa rem.

Pertanyaannya bukan siapa yang berkuasa hari ini,
melainkan apakah kekuasaan itu masih mau dikoreksi, atau sudah terlalu yakin pada dirinya sendiri.

 

Artikel Lainnya