ILUNI UI: Menebar Harapan, Menjawab Keraguan
Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) sudah berlangsung. Sebagaimana setiap pergantian kepemimpinan, selalu muncul dua kubu perasaan: yang penuh harapan dan yang cenderung pesimis. Harapan karena setiap pemimpin membawa peluang baru, pesimis karena pengalaman lama sering terulang. Gagasan besar berakhir tanpa jejak nyata.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh:
Markus RA `kepra` Prasetyo*)
Jakarta, INDONEWS.ID - Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) sudah berlangsung. Sebagaimana setiap pergantian kepemimpinan, selalu muncul dua kubu perasaan: yang penuh harapan dan yang cenderung pesimis. Harapan karena setiap pemimpin membawa peluang baru, pesimis karena pengalaman lama sering terulang. Gagasan besar berakhir tanpa jejak nyata.
Agar ILUNI UI tidak jatuh pada siklus “ramai di awal, sepi kemudian”, ada syarat mendasar yang harus segera dipenuhi yaitu pengelolaan profesional. Organisasi sebesar ini tidak cukup ditopang oleh kerja sukarela pengurus. Dibutuhkan seorang Direktur Eksekutif beserta tim yang bekerja penuh waktu, terukur, dan berorientasi hasil. Tanpa itu, roda organisasi hanya akan bergantung pada energi sesaat.
Kantor ILUNI UI pun harus ditata lebih serius. Bukan sekadar ruang sekretariat tempat rapat mingguan yang lama-kelamaan menjadi bulanan, lalu menghilang tanpa aktivitas. Kantor harus menjadi pusat kegiatan, ruang kreatif, sekaligus wajah representatif ILUNI UI bagi publik, media, dan para pemangku kepentingan.
Selain itu, program-program ILUNI UI tak bisa hanya berputar ke dalam. Alumni UI adalah bagian dari masyarakat. Justru, dampak organisasi akan terasa bila ia hadir dalam ruang publik dengan cara kreatif.
Satu contoh kongkrit. Bayangkan ILUNI UI menyelenggarakan sebuah Festival Layangan Raksasa di Kampus UI. Langit Depok akan dipenuhi layangan karya mahasiswa UI yang pembuatannya didampingi para seniman layangan Nusantara. Peristiwa seni budaya, meriah, penuh makna, dan berpotensi menjadi tradisi tahunan.
Dari titik-titik semacam itu, setengah juta alumni UI yang tersebar di seluruh penjuru akan merasa punya alasan untuk mencari akses, kontak, dan koneksi ke ILUNI UI. “Di mana ada gula, di situ ada semut.” Begitu manisnya pengalaman dan manfaat yang ditawarkan, para alumni akan datang dengan sendirinya, tanpa perlu dipanggil-panggil.
Dengan fondasi kegiatan eksternal yang kokoh, sejalan dengan itu program-program ke dalam seperti dana abadi, beasiswa, peluang kerja, hingga jejaring profesional, juga program pengabdian masyarakat akan mendapat dukungan luas dari seluruh stakeholders. Orang akan percaya, karena mereka sudah merasakan kehadiran nyata ILUNI UI di masyarakat.
Semua itu tentu membutuhkan sumber dana besar. Tetapi selama asal usul dan tata kelolanya transparan, sumber dana yang besar bukanlah masalah. Justru peluang. Transparansi menjadi kata kunci. Tanpa itu, semua gagasan hanya tinggal retorika.
ILUNI UI sudah punya modal utama: jumlah alumni yang masif, potensi jejaring yang kuat, dan tradisi akademik yang mumpuni. Kini tinggal bagaimana pengurus baru memilih jalan, mau mengulangi pola lama, atau menulis babak baru yang `agak laen`.
(kp.24.08.2025)
*) Markus RA `kepra` Prasetyo adalah alumni FEB UI. Pernah menjadi pengurus beberapa organisasi sosial, profesi dan perkumpulan alumni.