Uskup Timika Serukan Presiden dan Panglima TNI Hentikan Kekerasan di Papua
Uskup Keuskupan Timika, Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, menyampaikan seruan keras kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto agar segera menghentikan aksi kekerasan dan pembunuhan di tanah Papua. Ia menilai manusia di Papua adalah ciptaan Tuhan, bukan ciptaan pemerintah yang bisa diperlakukan semena-mena.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Uskup Keuskupan Timika, Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, menyampaikan seruan keras kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto agar segera menghentikan aksi kekerasan dan pembunuhan di tanah Papua. Ia menilai manusia di Papua adalah ciptaan Tuhan, bukan ciptaan pemerintah yang bisa diperlakukan semena-mena.
Seruan profetis itu disampaikan Uskup Bernardus dalam homili Misa Tahbisan Imam di Gereja Paroki Santo Petrus SP3, Timika, Papua Tengah, Sabtu (18/10), merespons insiden penembakan dan pembunuhan 15 hingga 16 warga di wilayah Pegunungan Papua dalam dua hari terakhir.
“Kami mohon agar pemerintah menggunakan cara lain untuk menyelesaikan konflik di tanah Papua. Bukan dengan senjata. Anda adalah serigala-serigala yang menggunakan senjata untuk membunuh manusia tetapi Anda akan berhadapan dengan pengadilan terakhir,” ujarnya.
Menurutnya, sebagai pemimpin, pemerintah wajib mengedepankan dialog, keadilan, dan kemanusiaan, bukan kekerasan bersenjata. Ia meminta Presiden Prabowo, Panglima TNI, dan seluruh jajaran pemerintah pusat dan daerah duduk bersama masyarakat, gereja, para uskup, dan pastor di Papua untuk menyelesaikan konflik secara damai.
“Jalan dialog, berbicara dari hati ke hati untuk menyelesaikan konflik di atas tanah Papua, dengan jalan damai, keadilan, dan jalan kemanusiaan,” tegasnya.
Dalam homilinya, Uskup Bernardus juga menyentil tekanan yang dihadapi para imam ketika bersuara soal keadilan dan hak asasi manusia. Ia menyebut para pemimpin duniawi sering memusuhi suara kenabian gereja karena kepentingan kekayaan, status quo, materialisme, dan egoisme.
Ketika menyuarakan kebenaran, kata dia, imam kerap berhadapan dengan aparat bersenjata lengkap, helikopter, hingga pesawat tempur. Meski demikian, ia menegaskan umat beriman memiliki panglima sejati, yaitu Yesus Kristus, bukan kekuatan militer.
Uskup Bernardus juga mengingatkan bahwa konflik bersenjata yang telah berlangsung selama puluhan tahun di Papua tak lepas dari kepentingan investasi dan eksploitasi sumber daya alam. Masyarakat adat menjadi korban, kehilangan tanah, hutan, budaya, bahkan hak hidup.
“Ibu pertiwi, tanah Papua, dicaplok atas nama pembangunan. Dua juta hektar tanah masyarakat adat di Merauke diambil atas nama proyek strategis nasional. Dalam sekejap masyarakat kehilangan ruang hidup,” katanya.
Uskup Bernardus menekankan, umat Katolik dan Kristen wajib berani bersuara melawan ketidakadilan. Ia memperingatkan, jika umat memilih diam, maka mereka menjadi “Yudas-Yudas baru” yang ikut menyalibkan Kristus.
Ia mengajak seluruh umat berdoa dan memperjuangkan penyelesaian damai konflik Papua, sekaligus mendoakan sekitar 80 ribu pengungsi yang terdampak konflik bersenjata, investasi, dan operasi militer.
“Kita adalah manusia bermartabat, manusia yang diciptakan menurut citra Allah, bukan manusia yang direkayasa oleh oligarki dan kekuasaan dunia,” ujarnya.
Dalam refleksi Paskah dan Jumat Agung, Uskup Bernardus mengingatkan bahwa salib Kristus adalah simbol cinta dan keberanian memperjuangkan kebenaran, bukan sekadar ritual keagamaan. Ia menegaskan, umat harus berpartisipasi memikul “salib sesama,” yaitu penderitaan akibat ketidakadilan, perampasan hak, dan krisis kemanusiaan.
Seruan senada juga disampaikan Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan, RP Gabriel Ngga, OFM, dalam Misa Jumat Agung di Timika. Ia mengajak umat mengubah luka dunia dengan sikap iman yang berani membela kebenaran dan mengampuni ketidakadilan.
“Iman tidak boleh pasif. Kita dipanggil melawan kejahatan dan ketidakadilan sambil meneladani Yesus yang tetap setia menyampaikan kebenaran,” ujar Pastor Gabriel.
Seruan keras Uskup Bernardus ini menambah tekanan moral terhadap negara untuk mengevaluasi pendekatan keamanan di Papua dan membuka jalan dialog demi perdamaian dan kemanusiaan.