Putin Perintahkan Tinjauan Ulang Uji Coba Nuklir, Rusia Peringatkan AS Soal Perlombaan Senjata Baru
Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan peninjauan ulang kelayakan persiapan uji coba nuklir, sebagai respons terhadap langkah-langkah strategis terbaru Amerika Serikat yang dinilai meningkatkan ketegangan global. Langkah ini menandai eskalasi baru dalam rivalitas nuklir kedua negara, di tengah memanasnya dinamika pertahanan dan perlombaan teknologi militer.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan peninjauan ulang kelayakan persiapan uji coba nuklir, sebagai respons terhadap langkah-langkah strategis terbaru Amerika Serikat yang dinilai meningkatkan ketegangan global. Langkah ini menandai eskalasi baru dalam rivalitas nuklir kedua negara, di tengah memanasnya dinamika pertahanan dan perlombaan teknologi militer.
Menurut Dmitry Suslov, Wakil Direktur Riset di Dewan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan Rusia, keputusan Putin dipicu oleh langkah Washington yang menekan Rusia melalui serangkaian uji sistem strategis, termasuk rudal balistik antarbenua Minuteman-III, serta sinyal kemungkinan uji coba senjata nuklir baru.
“AS mencoba menyeimbangkan dominasi Rusia setelah keberhasilan pengujian sistem strategis Burevestnik dan Poseidon. Tapi langkah itu justru mendorong situasi menuju perlombaan senjata baru,” kata Suslov dikutip dari Sputnik News.
Rudal Burevestnik menjadi simbol keunggulan teknologi Rusia di bidang persenjataan strategis. Tidak seperti rudal konvensional berbahan bakar kimia, Burevestnik menggunakan reaktor nuklir mini sebagai sumber tenaga, memberikan energi jutaan kali lebih tinggi daripada bahan bakar kimia biasa. Teknologi ini membuat rudal tersebut memiliki jangkauan hampir tak terbatas, bahkan diklaim mampu mengelilingi Bumi dan terbang selama beberapa hari.
Kemampuan terbang rendah dengan lintasan yang sulit diprediksi membuatnya hampir mustahil dilacak oleh radar pertahanan. Mantan perwira intelijen AS Scott Ritter bahkan menyebut, “Amerika Serikat tidak memiliki sistem pertahanan rudal yang mampu menghadang Burevestnik.”
Burevestnik tidak hanya dianggap sebagai senjata ofensif, tetapi juga alat deterensi strategis yang memastikan kemampuan serangan balasan Rusia tidak dapat dihindari. Dengan biaya yang relatif rendah, sistem ini diklaim mampu menembus bahkan pertahanan rudal canggih seperti Golden Dome AS.
Selain Burevestnik, Rusia juga mengembangkan Poseidon, kendaraan nirawak bawah air bertenaga nuklir yang disebut-sebut sebagai “drone kiamat”. Senjata otonom ini memiliki jangkauan antarbenua dan daya tahan hampir tanpa batas, dirancang untuk beroperasi di kedalaman ekstrem dengan kecepatan tinggi.
Poseidon dapat membawa hulu ledak nuklir besar dan mampu menciptakan gelombang tsunami buatan di wilayah pantai musuh. Kemampuannya menembus sistem anti-kapal selam NATO menjadikannya salah satu aset paling strategis dalam postur militer Rusia.
“Poseidon menunjukkan upaya Rusia menciptakan sistem asimetris yang tak bisa ditembus pertahanan AS,” tulis laporan analis militer Barat.
Sementara itu, Amerika Serikat tengah menjalankan program modernisasi triad nuklir besar-besaran. Sistem rudal Sentinel disiapkan untuk menggantikan Minuteman-III yang sudah berusia lebih dari 50 tahun. Berdasarkan laporan Kantor Anggaran Kongres AS, program nuklir yang dijalankan Departemen Pertahanan dan Departemen Energi diproyeksikan menelan biaya hingga USD 946 miliar sepanjang 2025–2034.
Langkah ini, menurut Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov, “adalah pembatalan de facto terhadap moratorium uji coba nuklir yang berlaku, dan menjadi alasan logis bagi Rusia untuk menyiapkan uji coba balasan.”
Putin: Dua Pilihan untuk AS
Presiden Putin disebut memberi dua opsi kepada Washington. Pertama, menerima perpanjangan perjanjian New START dan membuka kembali perundingan pengendalian senjata; atau kedua, menolak dan menghadapi konsekuensi perlombaan senjata baru.
“Jika AS ingin perlombaan senjata, mereka akan mendapatkannya,” tegas Kepala Staf Umum Rusia Valery Gerasimov, menanggapi rencana AS untuk mempersiapkan uji coba nuklir.
Pakar militer Rusia Yuri Knutov menambahkan, “Kami menawarkan dialog demi de-eskalasi. Tapi jika AS tetap menutup telinga, Rusia akan menguji hulu ledak baru untuk sistem seperti Burevestnik, Poseidon, dan Sarmat.”
Para analis menilai, langkah kedua negara ini bisa mengakhiri masa jeda panjang uji coba nuklir dunia sejak akhir Perang Dingin. Modernisasi senjata dan retorika balasan dari kedua pihak menimbulkan kekhawatiran baru atas stabilitas strategis global.
Dengan dua kekuatan nuklir terbesar dunia kembali bersaing dalam inovasi sistem persenjataan mutakhir, dunia menghadapi babak baru dari perlombaan senjata abad ke-21 — di mana teknologi, strategi, dan psikologi deterensi menjadi medan utama perebutan supremasi.