indonews

indonews.id

Israel Bunuh Komandan Senior Hizbullah di Pinggiran Beirut, Tekanan atas Lebanon Meningkat

Ketegangan di Lebanon kembali memuncak setelah Israel membunuh salah satu komandan paling senior Hizbullah dalam serangan udara di pinggiran selatan Beirut, Ahad (23/11/2025), hanya dua hari setelah Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan kesiapan negara itu untuk menggelar perundingan terkait penghentian agresi lintas batas.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Ketegangan di Lebanon kembali memuncak setelah Israel membunuh salah satu komandan paling senior Hizbullah dalam serangan udara di pinggiran selatan Beirut, Ahad (23/11/2025), hanya dua hari setelah Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan kesiapan negara itu untuk menggelar perundingan terkait penghentian agresi lintas batas.

Hizbullah mengonfirmasi bahwa kepala stafnya, Haytham Ali Tabtabai, termasuk di antara lima orang yang tewas dan 28 lainnya terluka dalam serangan Israel yang menghantam kawasan Haret Hreik, wilayah padat di Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis utama kelompok tersebut.

Dalam pernyataannya, Hizbullah menyebut Tabtabai sebagai “komandan besar” yang gugur dalam “serangan berbahaya Israel di daerah Haret Hreik di pinggiran selatan Beirut”, tanpa merinci jabatan spesifiknya di struktur militer kelompok itu. Tabtabai tercatat sebagai komandan paling senior Hizbullah yang tewas sejak diberlakukannya gencatan senjata pada November 2024, yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang satu tahun antara Israel dan kelompok tersebut.

Serangan mematikan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Lebanon untuk mengambil langkah lebih keras terhadap Hizbullah. Dalam beberapa pekan terakhir, pejabat dan media Israel berulang kali memperingatkan adanya eskalasi baru terhadap Lebanon, dengan klaim bahwa Hizbullah tengah berkonsolidasi dan mempersenjatai kembali pasukannya di selatan negara itu dan kawasan lain.

Tekanan tidak hanya datang dari Tel Aviv, tetapi juga dari Washington. Amerika Serikat dan Israel mendorong pemerintah Lebanon untuk mempercepat upaya pelucutan senjata Hizbullah serta mendorong Beirut untuk bersedia melakukan pembicaraan langsung dengan Israel, sesuatu yang selama ini sangat sensitif di panggung politik Lebanon.

Di lapangan, eskalasi terlihat jelas. Pekerja pertahanan sipil terlihat memeriksa kerusakan parah di sebuah gedung apartemen di Dahiyeh yang hancur akibat serangan udara Israel pada Ahad (23/11/2025). Serangan itu menambah daftar panjang kerusakan sipil di tengah gencatan senjata yang secara formal masih berlaku.

Hanya dua hari sebelum serangan di Haret Hreik, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa negaranya siap memasuki proses negosiasi yang difasilitasi komunitas internasional, demi mengakhiri agresi lintas batas secara permanen.

“Negara Lebanon siap untuk bernegosiasi di bawah PBB, AS, atau sponsor internasional bersama – perjanjian apa pun yang akan menetapkan kerangka kerja untuk mengakhiri agresi lintas batas secara permanen,” kata Aoun, Jumat lalu, dalam kunjungannya ke kota Tyr di bagian selatan Lebanon yang mengalami kerusakan berat akibat perang tahun lalu.

Meski demikian, Aoun tidak secara eksplisit menyebut apakah perundingan akan dilakukan secara langsung antara Beirut dan Tel Aviv atau melalui mekanisme tidak langsung seperti yang selama ini dikedepankan Lebanon. Para analis yang berbicara kepada Aljazirah menilai, justru peningkatan serangan Israel akhir-akhir ini menunjukkan bahwa negara itu tidak sungguh-sungguh tertarik pada jalur diplomatik.

Israel, kata mereka, saat ini merasa berada dalam posisi unggul secara militer sehingga lebih memilih menekan Hizbullah lewat operasi militer ketimbang duduk di meja perundingan.

Sejak gencatan senjata disepakati pada November 2024, serangan Israel ke wilayah Lebanon, khususnya selatan Lebanon dan Lembah Bekaa, justru dilaporkan meningkat dalam beberapa hari terakhir. Sedikitnya 13 orang tewas dalam serangan terhadap kamp pengungsi Palestina terbesar di Lebanon pekan lalu, sebagian besar korban adalah anak-anak.

Serangan itu disebut sebagai insiden dengan jumlah korban jiwa tertinggi dalam satu kali serangan sejak gencatan senjata diberlakukan. Menurut data PBB, lebih dari 300 orang telah tewas di Lebanon akibat serangan Israel sejak saat itu, termasuk sekitar 127 warga sipil.

Israel juga dilaporkan masih menduduki sedikitnya lima titik di Lebanon selatan, meski dalam kesepakatan gencatan senjata disebutkan bahwa pasukan Israel akan menarik diri dari wilayah Lebanon.

Israel Tidak Tertarik Bernegosiasi

Pengamat dan jurnalis Lebanon menilai sikap Israel konsisten memperkuat tekanan militer bersamaan dengan tekanan politik terhadap Beirut.

“Masalahnya adalah Israel tidak tertarik untuk bernegosiasi saat ini. Mereka ingin melenyapkan Hizbullah atau mendorong tentara Lebanon untuk bentrok dengan partai tersebut,” ujar Kassem Kassir, jurnalis Lebanon yang dikenal dekat dengan Hizbullah, kepada Aljazirah.

Menurut Kassir, setiap kali Presiden Aoun atau Perdana Menteri Nawaf Salam menyuarakan perlunya negosiasi, respons Israel justru berupa peningkatan agresi militer.

“Setiap kali Aoun atau [Perdana Menteri Nawaf] Salam berbicara tentang negosiasi, Israel meningkatkan agresinya,” kata dia.

Pembunuhan Haytham Ali Tabtabai bukan hanya pukulan simbolik bagi Hizbullah, tetapi juga memiliki dampak politis yang besar. Serangan ini terjadi hanya sekitar satu minggu sebelum rencana kunjungan Paus Leo XIV ke Lebanon, yang dipandang sebagai momen penting untuk menunjukkan stabilitas dan upaya rekonsiliasi di negara tersebut.

Peristiwa itu juga datang sehari setelah Lebanon merayakan hari kemerdekaannya yang ke-82, menambah nuansa muram di tengah perayaan nasional yang seharusnya penuh harapan.

Di tingkat kebijakan, pemerintah Lebanon berada dalam posisi serba sulit. Pada Agustus lalu, kabinet Lebanon menyetujui rencana yang memberikan mandat kepada Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) untuk melucuti senjata Hizbullah dan menempatkan persenjataan kelompok itu di bawah kendali negara.

Namun, Hizbullah menolak keras rencana tersebut. Mereka berargumen bahwa pelucutan senjata hanya akan menguntungkan Israel dan melemahkan kemampuan Lebanon untuk mempertahankan diri dari agresi eksternal. Di sisi lain, keberadaan senjata Hizbullah di luar kontrol negara sering dijadikan alasan oleh Israel dan sebagian pihak internasional untuk menekan Beirut.

Tentara Lebanon sendiri dikritik oleh sejumlah pejabat Amerika Serikat karena dinilai terlalu lamban dalam menjalankan mandat pelucutan senjata Hizbullah. Para analis juga menilai pemerintah Lebanon gagal membangun konsensus politik di dalam negeri terkait isu sensitif ini, mengingat Hizbullah bukan hanya aktor militer, tetapi juga kekuatan politik besar yang memiliki basis dukungan luas.

Di tengah tarik-menarik kepentingan, pembunuhan Tabtabai diperkirakan akan semakin mengeraskan posisi Hizbullah, sekaligus menambah tekanan terhadap pemerintah Lebanon yang dituntut dunia internasional untuk bertindak, namun dibatasi oleh realitas politik dan keamanan di dalam negeri.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas