indonews

indonews.id

Pesan Terakhir Siswa SD di Pekanbaru Sebelum Tewas Diduga Akibat Bullying: Gelar Tikar, Rumah Akan Ramai

Seorang murid sekolah dasar (SD) berinisial MAR di Kota Pekanbaru, Riau, meninggal dunia diduga akibat menjadi korban bullying di sekolahnya. Siswa kelas 6 di salah satu SD negeri di Kelurahan Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukitraya, itu diduga dibully oleh teman sekelasnya sendiri.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Seorang murid sekolah dasar (SD) berinisial MAR di Kota Pekanbaru, Riau, meninggal dunia diduga akibat menjadi korban bullying di sekolahnya. Siswa kelas 6 di salah satu SD negeri di Kelurahan Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukitraya, itu diduga dibully oleh teman sekelasnya sendiri.

Kuasa hukum keluarga korban dari Tim Advokat Pejuang Keadilan (Tapak) Riau, Suroto, menjelaskan MAR meninggal dunia pada Minggu (23/11/2025) sekitar pukul 02.00 WIB. Sebelum mengembuskan napas terakhir, korban sempat menyampaikan pesan yang kemudian disadari keluarga sebagai pesan terakhirnya.

“Korban menyampaikan pesan kepada ibunya, minta untuk dimandikan dan digelarkan tikar karena nanti rumah akan ramai,” ujar Suroto saat diwawancarai wartawan di Pekanbaru, Minggu (23/11/2025) malam.

Menurut Suroto, korban meninggal dunia saat keluarganya tertidur. “Korban mengembuskan napas terakhirnya pada saat keluarganya tertidur,” ucapnya.

Kejadian yang diduga menjadi pemicu utama kondisi korban terjadi pada Kamis (13/11/2025). Saat itu, MAR bersama teman-temannya mengikuti kegiatan belajar kelompok di dalam kelas. Tiba-tiba, seorang murid berinisial FT diduga menendang kepala korban.

Atas kejadian tersebut, murid lain berinisial ARK melaporkan peristiwa itu kepada wali kelas yang saat itu berada di dalam ruangan. Namun, menurut keterangan kuasa hukum, wali kelas hanya menyampaikan kepada siswa untuk menunggu.

Sepulang sekolah, MAR menceritakan peristiwa itu kepada ibunya sambil menangis. “Korban bercerita sambil menangis. Dia tidak mau sekolah lagi akibat bullying tersebut,” kata Suroto.

Keesokan harinya, kondisi kesehatan MAR memburuk. Ia diduga mengalami gangguan serius pada otak. Korban mengaku kepalanya ditendang oleh murid berinisial FT.

Karena keterbatasan biaya, keluarga sempat membawa MAR ke pengobatan alternatif. Namun, pihak pengobatan alternatif menyarankan agar korban dibawa ke fasilitas kesehatan.

“Ketika itu, korban dibawa ke puskesmas, tetapi saat itu hari Sabtu, puskesmas tutup, akhirnya korban dirawat di rumah,” terang Suroto. Kondisi korban terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.

Suroto juga mengungkapkan bahwa sebelum kejadian tersebut, korban sudah beberapa kali mengalami bullying. Pada Oktober 2025, MAR disebut sering dibully oleh teman sekelasnya berinisial SM. Saat itu korban sering dipukul di bagian dada hingga sempat dirawat selama satu minggu di salah satu rumah sakit di Pekanbaru.

“Terhadap peristiwa tersebut, pihak sekolah telah memanggil orangtua pelaku dan orangtua korban. Orangtua pelaku meminta maaf kepada orang tua korban,” kata Suroto.

Pada awalnya, keluarga korban tidak berniat membawa kasus ini ke ranah hukum. Namun setelah mendapat masukan bahwa kejadian tersebut perlu diungkap agar menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kota Pekanbaru dan pihak sekolah, keluarga akhirnya menunjuk kuasa hukum untuk mengawal proses hukum.

“Awalnya, keluarga korban tidak ingin mengangkat persoalan ini, apalagi sampai menunjuk kuasa hukum. Namun demi mencegah kejadian serupa terulang, mereka bersedia. Bantuan hukum kami berikan tanpa dipungut biaya,” tegas Suroto.

Ia menegaskan, pihaknya mendorong agar kasus ini diusut tuntas secara hukum dan menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap penanganan perundungan di sekolah-sekolah di Pekanbaru maupun di seluruh Riau.

“Kami tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi di sekolah-sekolah di Pekanbaru maupun di Riau,” ujarnya.

Di mata keluarga dan warga sekitar, MAR dikenal sebagai anak yang baik dan rajin beribadah.

“Korban dikenal sebagai anak yang rajin salat berjemaah di masjid dekat rumahnya. Beberapa warga bahkan menyebut korban sebagai ‘anak masjid’. Jadi, kepergian korban tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarganya, tetapi juga bagi warga,” kata Suroto.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan menambah daftar panjang kekhawatiran terhadap praktik bullying di lingkungan sekolah, yang tak jarang berujung pada luka fisik, trauma, bahkan kematian.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas