KORAN SALEMBA: Berpikir Kritis dan Berintegritas
KORAN SALEMBA: Berpikir Kritis dan Berintegritas
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Penulis : Ahmed Kurnia
Di sebuah lorong Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta Pusat, sejarah pernah ditulis dengan mesin tik tua, kertas buram, dan keberanian yang nyaris tak terdengar. Dari situlah Suratkabar Kampus UI Salemba lahir - lima puluh tahun lalu - menjadi salah satu simpul penting pers mahasiswa di tengah rezim Orde Baru yang represif dan nyaris tanpa celah kritik.
Salemba bukan sekadar koran kampus. Ia adalah ruang berpikir. Tempat mahasiswa UI pada zamannya belajar merumuskan kata, menajamkan analisis, dan—yang terpenting—menulis dengan tanggung jawab intelektual. Ketika ruang publik dibatasi, Salemba justru menjadi arena untuk menguji nalar, bukan sekadar meluapkan emosi.
Mereka yang pernah menjadi bagian dari Salemba adalah aktivis kampus dalam arti yang paling substansial: kaum intelektual yang piawai menulis, bukan hanya pandai berteriak di podium orasi. Di lembar-lembar Salemba, kritik terhadap negara tidak hadir sebagai slogan kosong, melainkan sebagai analisis politik yang dingin, jernih, dan kerap visioner.
Nama Bunga Kejora Surawijaya adalah salah satu contoh yang kerap disebut. Di Salemba, Bunga mengasah insting investigatifnya. Ia belajar memeriksa fakta, meragukan pernyataan resmi, dan menulis dengan disiplin metodologis. Kelak, pada 1980-an hingga awal 1990-an, ia dikenal sebagai wartawan TEMPO yang disegani karena liputan-liputan investigasinya - kerja jurnalistik yang akarnya dapat ditelusuri ke ruang redaksi sederhana Salemba.
Ada pula Ikrar Nusa Bhakti, yang pada masa mahasiswa dikenal dengan tulisan-tulisannya yang sistematis dan kritis. Salemba menjadi laboratorium intelektual baginya sebelum ia menempuh jalan akademik sebagai peneliti politik dan hubungan internasional, hingga akhirnya dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Tunisia. Dari pers kampus ke diplomasi negara - jalur yang jarang, namun menunjukkan bagaimana disiplin berpikir yang ditempa sejak mahasiswa memberi bekal jangka panjang.
Generasi berikutnya melahirkan Asri Hadi, yang purna tugas sebagai dosen IPDN dan kini memimpin media daring Indonews. Bersama Ahmed Kurnia, mereka berdua pernah mengikuti pendidikan pers yang diselenggarakan oleh Suratkabar Kampus Salemba - sebuah tradisi kaderisasi jurnalistik yang serius dan nyaris tanpa kompromi. Asri dan Ahmed, mahasiswa FISIP UI Jurusan Sosiologi, tumbuh dekat dengan Antony Zeidra Abidin, Pemimpin Redaksi Salemba sekaligus mentornya dalam dunia kewartawanan. Dari relasi senior–junior itulah etos jurnalistik Salemba diwariskan: teliti, berani, dan berpihak pada akal sehat.
Seperti Bunga, Ahmed kemudian meniti karier sebagai wartawan TEMPO. Kini ia menjabat Sekretaris Jenderal Konfederasi Wartawan ASEAN serta pengurus PWI Pusat. Perjalanan karir Bunga, Ikrar, Asri dan Ahmed boleh berbeda, namun mereka berangkat dari titik yang sama: pers kampus sebagai sekolah karakter dan integritas.
Dalam lintasan sejarahnya, Salemba juga menjadi rumah bagi para penulis piawai yang mampu menginspirasi gerakan mahasiswa secara lebih luas. Yusril Ihza Mahendra, misalnya, dikenal sebagai salah satu penulis tajam yang artikelnya di Salemba dibaca lintas kampus. Tulisannya tidak sekadar memantik diskusi, tetapi ikut membentuk kesadaran politik mahasiswa pada masa ketika kritik terhadap negara bisa berujung pada pembungkaman.
Menurut Antony Zeidra Abidin, yang memimpin koran kampus ini sejak berdiri hingga terakhir terbit pada 1976–1980, Salemba sejak awal diniatkan sebagai pers mahasiswa yang serius, bukan buletin pengumuman. Ia beredar luas, bahkan hingga ke luar Jakarta, menjadi rujukan diskusi mahasiswa lintas kampus.
Lima puluh tahun kemudian, jejak itu diperingati.
Pada 14 Januari 2026, bertempat di Aula FKUI Salemba, Universitas Indonesia akan menyelenggarakan Peringatan 50 Tahun Suratkabar Kampus UI Salemba. Rektor UI Prof. Dr. Heri Hermansyah menyambut baik kegiatan ini dan menyatakan dukungan penuh kepada panitia, sebagaimana disampaikan dalam pertemuan resmi dengan panitia pada November dan Desember 2025.
Acara ini rencananya akan dibuka oleh Rektor UI dan menghadirkan Chairul Tanjung serta Yusril Ihza Mahendra sebagai pembicara kunci. Chairul Tanjung, mantan Ketua Dewan Mahasiswa UI terakhir, mengakui terinspirasi oleh tulisan-tulisan dan pledoi mahasiswa yang dimuat di Salemba sejak masa SMA. Di acara ini juga akan ada peluncuran buku “50 Tahun Suratkabar UI Salemba” serta diskusi panel yang menghadirkan para mantan Ketua Dewan Mahasiswa dari berbagai kampus - UI, ITB, UGM - dengan Ikrar Nusa Bakti sebagai moderator.
Bagi Asri Hadi, selaku Koordinator Humas Panitia, peringatan ini bukan sekadar nostalgia. Ia mengajak seluruh alumni Salemba, alumni UI, dan generasi muda kampus untuk hadir dan menjadikan momentum ini sebagai pengingat akan tanggung jawab intelektual mahasiswa. “Salemba mengajarkan bahwa berpikir kritis adalah bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara. Nilai itu tidak boleh berhenti di masa lalu,” ujarnya.
Ada pepatah lama yang kerap dikutip: they never die, they just fade away. Bagi para wartawan Salemba, barangkali kalimat itu perlu sedikit diubah. Mereka tidak pernah mati, dan juga tidak benar-benar pudar. Mereka hanya berpindah bentuk, berubah wujud - menjadi wartawan, peneliti, dosen, diplomat, pemimpin media - namun membawa nilai yang sama: keberanian berpikir dan kejujuran menulis.
Salemba telah berhenti terbit. Tetapi tradisinya tetap hidup. Dalam kata-kata yang ditulis dengan jernih, dalam kritik yang disampaikan dengan tanggung jawab, dan dalam ingatan kolektif tentang pers mahasiswa yang pernah berdiri tegak di tengah zaman yang gelap.
Lima puluh tahun kemudian, Salemba kembali memanggil - bukan untuk hidup kembali sebagai koran, melainkan sebagai kesadaran: untuk terus berpikir kritis dan berintegritas.