Ketika Tiga Gaya Kepemimpinan Menyatu Dalam Diri Prabowo
Ketika Tiga Gaya Kepemimpinan Menyatu Dalam Diri Prabowo
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh : Edwin,SE, M.Mktg, CPM
Kemakmuran sebuah negara bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari pilihanpilihan stratejik yang dilakukan oleh pemimpin negaranya. Kemajuan Singapura, sebuah negara kecil yang tidak memiliki sumber daya alam, supply air tergantung dari Malaysia, adalah hasil dari pilihan-pilihan yang diambil oleh Lee Kuan Yew pada awal-awal pembentukan negara tersebut. Kemajuan industri China dewasa ini adalah hasil dari pilihanpilihan yang dibuat oleh Deng Xiaoping pada tahun 70an.
Negara yang makmur adalah negara yang memiliki competive avantage. Kepemimpinan yang efektif dari pemimpin negara akan mampu membangun competitive advantage bangsanya. Walaupun pemerintah tidak bisa secara langsung membangun industri yang kompetitif, namun kepemimpinan negara yang efektif akan membawa pemerintahannya bertindak sebagai katalisator yang akan menstimulus bisnis-bisnis untuk mendapatkan competitive advantage.
Efektifitas seorang pemimpin sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinannya.Kalangan akademisi meninjau gaya kepemimpinan dari karakteristik kepribadian (traits), prilaku (behaviour) dan cara-cara dalam mengimplementasikan strategi. Sehingga, gaya kepemimpinan seorang pemimpin negara dapat dijadikan proxy kemajuan sebuah negara di masa mendatang.
Nah, menarik untuk menelaah secara akademis, bagaimana gaya kepemimpinan Prabowo sebagai pemimpin Indonesia. Prabowo memiliki tiga gaya kepemimpinan sekaligus yaitu kepemimpinan kharismatik (charismatic leadership), kepemimpinan transformasional (transformational leadership) dan kepemimpinan agile (agile leadership).
Banyak yang berpendapat bahwa pemimpin itu dilahirkan. Salah satu alasan bagi orangorang yang meyakini bahwa pemimpin itu dilahirkan adalah tipe pemimpin kharismatik.
Pemimpin kharismatik punya sesuatu di dalam DNAnya yang ”menyihir” dan mempesona banyak orang. Richard L. Daft balam bukunya The Leadership Experience mengistilahkan pemimpin kharismatik sebagai “a fire that ignites followers’energy and commitment” yang menyebabkan orang-orang bekerja melebihi panggilan tugas, sehingga hasilnya diatas rata- rata. Kalangan periset kepemimpinan menamakan tipe pemimpin ini dengan The Great Man approach.
Kepemimpinan kharismatik adalah gaya kepemimpinan dengan ciri utama kepercayaan
diri yang tinggi, kemampuan komunikasi yang menginspirasi, visi yang jelas dan memikat,
empati yang kuat, serta kemampuan memotivasi dan menggerakkan orang lain secara emosional untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin tipe ini memiliki daya tarik yang kuat, dan membangun loyalitas tim yang tinggi.
Pemimpin kharismatik punya visi dan impian yang besar untuk orang-orang yang dia pimpin. Dia akan berbicara tentang pergulatan dan kesediaan dia mengambil resiko untuk mewujutkan impiannya yang besar. Mereka dengan mudah mendapatkan kepercayaan dari para pengikutnya dan menjadikan sang pemimpin sebagai role model. Faktor inilah yang menyebabkan pemimpin kharismatik kuat dan efektif menggerakkan orang untuk mencapai
tujuan bersama.
Kita bisa lihat dengan kasat mata, ciri-ciri pemimpin kharismatik tersebut diatas, melekat pada diri Prabowo. Kita semua menjadi saksi bagaimana kepiawaian Prabowo berkomunikasi dengan rakyatnya dan para pemimpin negara-negara besar seperti Amerika, Rusia, Cina, Belanda, India, Perancis, Turki dan lain-lain. Setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya menghentak kalbu masyarakàt Indonesia. Bukan karena status presidennya, tapi karena Prabowo sangat menjiwai apa yang dia komunikasikan. Emosinya terbawa ketika dia bercerita tentang kondisi Indonesia yang kaya raya, tapi sebagian rakyat belum menikmatinya. Ini persis seperti apa yang dijelaskan dalam buku-buku Leadership, bahwa pemimpin yang kharismatik akan melibatkan emosi mereka dan berbicara dengan hati.
Sebagai karakter dasar dari pemimpin kharismatik , program-program kerja diturunkan dari perenungan, keresahan Prabowo tentang Indonesia dan impiannya tentang bagaimana seharusnya Indonesia kedepan. Sehingga, visinya begitu kuat dan menyentuh rakyat banyak.
Memang begitulah seharusnya seorang pemimpin, punya kemampuan mengartikulasikan pikiran-pikirannya tentang kebangsaan menjadi visi. Para akademisi manajemen membingkainya dengan konsep Visionary Leadership.
Ketika Prabowo berbicara target pertumbuhan ekonomi 8%, kemandirian pangan, kemandirian energi, APBN yang tidak boleh defisit lagi, makan bergizi gratis (MBG), setoran dividen BUMN Rp.1.600 triliun, sebetulnya Prabowo go beyond dari sekedar pemimpin kharismatik. Prabowo mempraktekkan Transformational Leadership (kepemimpinan transformasional). Hanya dari pikiran seorang pemimpin transformasional yang memiliki idealisme kuat, akan keluar target-target yang tinggi. Dia berani men-challenge dirinya.
Norton dan Kaplan, dua akademisi dan konsultan manajemen terkenal, menulis dalam bukunya The Execution Premium “ Great Leader set ambitious targets for their organizations”.
Prabowo lakukan itu!
Jika banyak orang berpendapat, pemimpin kharismatik itu dilahirkan, pemimpin
transformasional memiliki persyaratan lain. Pemimpin transformasional membutuhkan
wawasan yang luas tentang kehidupan, tentang dinamika global, tentang tehnologi dan
kemampuan berpikir yang sistematis serta daya nalar yang kuat. Pemimpin transformasional
adalah seorang yang pembelajar. Tentunya memenuhi persyarataan intelektual pada
kepemimpinan transformasional membutuhkan proses yang panjang, tidak bisa instan.
Memang, di dalam jurnal-jurnal akademis tentang Transformational Leadership diuraikan bahwa kepemimpinan transformasional, salah satu cirinya adalah sebagai pemimpin kharismatik. Limsila & Ogunlana merinci faktor-faktor pembentuk kepemimpinan transformasional sebagai berikut : idealisme yang membentuk kharisma, pembuka inspirasi dan motivasi, memberikan dorongan pada munculnya inovasi, memberikan perhatian dan
respek pada orang.
Kepemimpinan transformasional suka memotivasi dan memberikan tantangan kepada bawahan dan organisasinya. Mereka akan membentuk semangat kerjasama tim yang kuat sambil menampilkan antusiasme dan optimisme yang tinggi, menggugah bawahan dan organisasi tentang masa depan dengan mengkomunikasikan harapan-harapan dan
memberikan teladan komitmen.
Pemimpin transformasional memberikan stimulasi kepada organisasi untuk berpikir secara inovatif dan kreatif dengan mempertanyakan asumsi, membingkai permasalahan sehingga menjadi jelas, memberikan terobosan-terobosan dalam penyelesaian masalah. Pada saat yang sama pemimpin transformasional sangat menghargai individu dan memahami kebutuhan berprestasi bawahan dengan bertindak sebagai mentor, membangun iklim yang kondusif untuk meningkatkan kemampuan diri mereka.Arahan Prabowo kepada para mentri selalu disampaikan dengan jelas, langsung pada pokok persoalan, disertai penjelasan mengapa program tersebut menjadi penting untuk dilaksanakan. Kalau diperhatikan secara seksama, Prabowo juga cendrung membagi program-program kerjanya menjadi tim-tim yang lebih kecil disertai target-target yang jelas.
Masing-masing tim secara mandiri menentukan cara untuk mencapai target tim. Dalam mengontrol kemajuan program-program yang diberikan kepada tim-tim tadi, Prabowo sering melakukan pertemuan informal. Ini merupakan ciri dari gaya kepemimpinan yang lain yaitu Agile Leadership (kepemimpinan tangkas). Tim-tim kecil tersebut dalam konsep kepemimpinan agile dikenal dengan istilah sprint.
Di dalam literatur disebutkan kepemimpinan agile berawal dari pengembangan pengerjaan software pada industri teknologi informasi. Modul-modul dikerjakan oleh tim yang berbeda dan harus mencapai target penyelesaian dalam waktu yang singkat. Dinamika tim dikelola oleh tim secara mandiri. Pimpinan proyek bertindak sebagai coach untuk memotivasi dan memberikan dukungan kepada tim untuk menemukan ide-ide dan cara-cara,
yang mungkin out of the box untuk mencapai target-target tim yang telah ditentukan. Lebih lanjut, kepemimpinan agile sangat adaptif terhadap perkembangan situasi yang dihadapi dan memiliki kemampuan bergerak yang cepat dalam merespon perubahan dan kondisi yang dihadapi. Simon Hayward dalam bukunya Agile Leader membuat analogi agile sebagai kegesitan tubuh merubah arah secara menyeluruh ketika merespon stimulus.
Kombinasi kepemimpinan transformasional dan agile oleh Prabowo telah terbukti memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas. Swasembada pangan dicapai hanya dalam satu tahun pemerintahan Prabowo. Satuan tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang dibentuk Prabowo berhasil mengembalikan 3,3 juta ha hutan yang selama ini digarap secara ilegal. Masyarakat terdampak bencana segera mendapatkan bantuan dari tim pemerintah baik dalam memenuhi kebutuhan hidup harian maupun perbaikan dan
pembangunan infrastruktur dasar seperti jembatan, perumahan hunian sementara.
Kejaksaan Agung berhasil menyita trilyunan rupiah dari pelanggaran aturan yang dilakukan oleh beberapa korporasi.
Gaya kepemimpinan agile oleh Prabowo seolah-olah menjawab sinyalemen akademisi Kaplan & Norton. Kedua akademisi ini menyatakan bahwa kinerja organisasi yang tergantung pada kekuatan pemimpin individu atau pemimpin kharismatik, tidak cocok untuk jangkapanjang. Dengan menerapkan kepemimpinan agile, Prabowo mendorong kolaborasi lintas fungsi dalam penyelesaian setiap pemasalahan dan tantangan yang muncul.
Boon Siong Neo dan Geraldine Chen dalam bukunya Dynamic Governance menjelaskan proses dalam organisasi yang agile adalah persyaratan terwujutnya dynamic governance .
Organisasi yang agile tidak akan terwujut jika pemimpinnya tidak mempraktekkan Agile
Leadership. Lebih lanjut Boon Siong Neo & Geraldine Chen menjelaskan kunci dari dynamic
governance adalah think ahead, think again dan think across.
Untuk konteks Indonesia, think ahead adalah pemahaman bagaimana masa depan mempengaruhi Indonesia dan menyusun kebijakan untuk membuat masyarakat Indonesia mampu menghadapi potensi ancaman dan mengambil keuntungan dari peluang-peluang baru yang tersedia. Program ketahanan pangan misalnya adalah contoh konkrit dari think ahead. Dinamika geopolitik kawasan Asia belakangan ini, perperangan Thailand dengan Kamboja, India dengan Pakistan yang merupakan daerah sumber impor beras Indonesia selama ini, tentunya menyebabkan potensi gangguan pasokan beras ke Indonesia. Dengan terwujutnya swasembada beras, Indonesia tidak tergantung lagi pada negara-negara
tersebut.
Program Penertiban Kawasan Hutan adalah contoh dari kemampuan think again oleh Prabowo. Prabowo menchallenge aturan yang telah ada selama ini tentang pengelolaan hutan. Ternyata banyak dari hutan-hutan yang telah dikelola tidak memenuhi persyaratan legalitas, sehingga dikembalikan kepada negara dan diberdayakan oleh BUMN Agrinas Palma Nusantara untuk kepentingan rakyat.
Think across adalah pola pikir belajar dari pihak-pihak lain di luar Indonesia yang mungkin bisa ditiru dan dilakukan penyesuaian dangan local content untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia. Ketika Prabowo melakukan kunjungan ke luar negeri memperhatikan postur militer negara lain dan kemudian mengembangkan kekuatan militer Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia, adalah contoh dari think across yang diterapkan oleh Prabowo, dalam memimpin bangsa yang besar ini. Sebagai seorang jenderal pasukan khusus
Prabowo paham betul filosofi bahwa pembangunan kekuatan militer suatu negara adalah tindakan pencegahan untuk menghindari perang. Kekuatan militer yang kredibel dan kuat, akan dapat mencegah potensi musuh untuk menyerang dan mencaplok aset bangsa.panjang. Dengan menerapkan kepemimpinan agile, Prabowo mendorong kolaborasi lintas fungsi dalam penyelesaian setiap pemasalahan dan tantangan yang muncul.
Boon Siong Neo dan Geraldine Chen dalam bukunya Dynamic Governance menjelaskan proses dalam organisasi yang agile adalah persyaratan terwujutnya dynamic governance .
Organisasi yang agile tidak akan terwujut jika pemimpinnya tidak mempraktekkan Agile
Leadership. Lebih lanjut Boon Siong Neo & Geraldine Chen menjelaskan kunci dari dynamic
governance adalah think ahead, think again dan think across.
Untuk konteks Indonesia, think ahead adalah pemahaman bagaimana masa depan mempengaruhi Indonesia dan menyusun kebijakan untuk membuat masyarakat Indonesia mampu menghadapi potensi ancaman dan mengambil keuntungan dari peluang-peluang baru yang tersedia. Program ketahanan pangan misalnya adalah contoh konkrit dari think ahead. Dinamika geopolitik kawasan Asia belakangan ini, perperangan Thailand dengan Kamboja, India dengan Pakistan yang merupakan daerah sumber impor beras Indonesia selama ini, tentunya menyebabkan potensi gangguan pasokan beras ke Indonesia. Dengan terwujutnya swasembada beras, Indonesia tidak tergantung lagi pada negara-negara
tersebut.
Program Penertiban Kawasan Hutan adalah contoh dari kemampuan think again oleh Prabowo. Prabowo menchallenge aturan yang telah ada selama ini tentang pengelolaan hutan. Ternyata banyak dari hutan-hutan yang telah dikelola tidak memenuhi persyaratan legalitas, sehingga dikembalikan kepada negara dan diberdayakan oleh BUMN Agrinas Palma Nusantara untuk kepentingan rakyat.
Think across adalah pola pikir belajar dari pihak-pihak lain di luar Indonesia yang mungkin bisa ditiru dan dilakukan penyesuaian dangan local content untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia. Ketika Prabowo melakukan kunjungan ke luar negeri memperhatikan postur militer negara lain dan kemudian mengembangkan kekuatan militer Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia, adalah contoh dari think across yang diterapkan oleh Prabowo, dalam memimpin bangsa yang besar ini. Sebagai seorang jenderal pasukan khusus
Prabowo paham betul filosofi bahwa pembangunan kekuatan militer suatu negara adalah tindakan pencegahan untuk menghindari perang. Kekuatan militer yang kredibel dan kuat, akan dapat mencegah potensi musuh untuk menyerang dan mencaplok aset bangsa.
Ketika pemerintah membangun kapabilitas thinking ahead, thinking again, thinking across dan memasukannya dalam tatanan kebijakan nasional dalam segala bidang, maka akan mampu memunculkan pemahaman-pemahaman baru, inovasi di dalam pemerintahan yang akan memfasilitasi terciptanya kemampuan dinamis yaitu kemampuan untuk berubah di era dunia yang penuh dengan ketidakpastian. Tidak satupun negara mampu memprediksi apa yang akan terjadi secara menyeluruh di depan.
Kemampuan bereaksi cepat berarti memindahkan, menatata ulang, sumber dayasumber daya nasional untuk membangun competitive advantage Indonesia di persaingan global. Kemampuan ini disebut oleh Teece, Pisano dan Shuen sebagai dynamic capability.
Dengan kemampuan Prabowo mengkombinasikan tiga gaya kepemimpinan dalam memimpin Indonesia, Insya Allah, Indonesia akan melakukan transformasi, siap menghadapi tantangan-tantangan, mampu menangkap peluang dalam rangka mengwujutkan cita-cita kemerdekaan yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
*/ Praktisi manajemen senior, mahasiswa Doktor Bisnis Manajemen, Univ. Negeri Jakarta.
DAFTAR REFERENSI
Daft, Richard L. (2002). The Leadership Experience: 2nd ed, Harcourt College Publishers, USA.
Hayward, S. (2021). Agile Leader : How to create an agile business in the digital era, 2nd ed,
Kogan Page Great Britain.
Hendry. J., Johnson., G, Newton, J. (1993) Strategic Thinking : Leadership and The Management of Change, John wiley & Sons, New YorDafta Referensi
Kaplan, Robert. S an Norton, David P (2008). The Execution Premium : Linking Strategy to
Operations for Competitive Advantage, Harvard Business Press, Boston.
Kouzes & Posner. (2007). The Leadership Challenge, 4th ed, John Willey & Sons, Inc, USA.
Limsila, K., Ogunlana, S.O. (2008). Performance and leadership outcome correlates of leadership styles and subordinate commitment, Engineering, Construction and Architectural Management, Vol. 15 No. 2. Hal 164-184.
Neo Boon Siong dan Chen Geraldine (2012). Dynamic Governance: Embedding Culture,
Capabilities and Change in Singapore, World Scientific, Singapore Porter, M.E, (1990). The Competitive Advantage of Nations, The Free Press, USA Teece, D., Pisano, G., & Shuen,A. (1997). Dynamic Capabilities and strategic management,
Strategic Management Journal, Vol.18, No. 7, hal. 509-533.
Thompson, Jr, A.A, Strickland, III, Gamble, J.E (2005). Crafting and Executing Strategy: The
Quest for Competitive Advantage, Mc.Graw Hill, New York.