SALEMBA, Koran Kampus yang Melampaui Zaman
SALEMBA, Koran Kampus yang Melampaui Zaman
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh : Ahmed Kurnia dan Asri Hadi
Tanggal 14 Januari 1976. Di tengah Jakarta yang dikendalikan ketat oleh rezim militer Orde Baru, sekelompok mahasiswa Universitas Indonesia menerbitkan sebuah surat kabar kampus bernama SALEMBA. Nama itu sederhana - diambil dari lokasi kampus UI kala itu - namun kelak menjelma menjadi simbol keberanian intelektual. Lima puluh tahun kemudian, 14 Januari 2026, SALEMBA diperingati bukan sekadar sebagai media mahasiswa, melainkan sebagai penanda zaman, ketika kampus berani menjadi suara publik.
Di era ketika pers nasional berada di bawah bayang-bayang pembredelan, sensor, dan “telepon gelap”, SALEMBA justru bergerak lincah. Ia tidak berteriak, tidak berisik. Tapi tulisannya jernih, argumentatif, dan berani. Di situlah kekuatannya.
SALEMBA bukan koran propaganda. Ia adalah ruang dialog - tempat gagasan tentang demokrasi, hak asasi manusia, keadilan sosial, dan masa depan Indonesia diuji dengan nalar. Fakta penting: SALEMBA sudah menjadi rujukan nasional ketika ia masih berstatus media mahasiswa. Kampus, melalui SALEMBA, tidak lagi sekadar menjadi objek kebijakan, melainkan subjek wacana.
Antony Zeidra Abidin dan Etika Keberanian
Di balik SALEMBA, ada satu figur sentral: Antony Zeidra Abidin. Mahasiswa Sosiologi UI itu memimpin SALEMBA bukan dengan gaya aktivis jalanan, melainkan dengan disiplin intelektual. Ia membangun media kampus dengan standar jurnalistik tinggi - ketat dalam verifikasi, tajam dalam analisis, dan bersih dalam sikap.
Antony memahami betul bahwa di zaman represif, keberanian tidak selalu berarti teriak paling keras. Kadang, keberanian adalah menulis dengan jujur ketika kebohongan dilembagakan. “Kami ini hanya mahasiswa yang percaya bahwa akal sehat harus diberi ruang,” kenang Antony dalam sebuah refleksi bertahun-tahun kemudian. “Kalau kampus saja takut berpikir, lalu siapa yang tersisa?”
Antony tidak pernah mengklaim dirinya sebagai aktivis, apalagi sebagai pahlawan. Namun jejaknya nyata. SALEMBA di masanya menjadi trendsetter: ditiru, dibaca, dan diam-diam diawasi. Pengaruhnya merembes ke ITB, IPB, ITS, UGM, dan kampus-kampus lain. Ia menciptakan ekosistem - bukan sekadar media.
Harga dari keberanian itu mahal. SALEMBA pernah dibredel oleh penguasa militer. Namun justru dari tekanan itulah nilai-nilai SALEMBA mengeras menjadi doktrin etik: integritas dan kredibilitas.
Integritas, dalam tradisi SALEMBA, berarti keberanian untuk konsisten - antara pikiran, tulisan, dan Tindakan - tanpa kompromi pada kekuasaan.
Kredibilitas berarti kepercayaan yang dibangun perlahan, melalui akurasi, kedalaman, dan tanggung jawab moral kepada publik.
Dua nilai ini yang kemudian melahirkan banyak kader lintas profesi. Dari SALEMBA lahir jurnalis, dosen, aktivis LSM, pemikir kebijakan, hingga pengusaha. Mereka berbeda jalur, tetapi satu dalam etika.