indonews

indonews.id

KEGILAAN NEO GEOPOLITIK TRUMP

Reporter: indonews
Redaktur: indonews

Ini belum akhir zaman, tetapi kegilaan dari seorang Donald Trump Presiden dari negara dengan ekonomi terbesar dunia, militer terkuat di dunia, menjadi pengingat dan pelajaran bahwa demokrasi liberal bisa mengobrak abrik hampir semua tatanan dunia yang dibuat setelah Perang Dunia Kedua. Ada tiga hal yang ingin disoroti dalam tulisan kali ini yaitu Perang Tarif, Penculikan Kepala Negara Venezuela dan Serangan dan perang brutal terhadap Iran.

Kegilaan yang pertama, bak petir disiang bolong, AS tetiba mengenakan tarif seenaknya terhadap barang yang diimpor dari dua negara tetangga terdekatnya yaitu Canada dan Mexico yang sebenarnya terikat dalam perjanjian USMCA yang mengganti NAFTA sejak 1 Juli 2020. 

Kebijakan berupa “Executive Order 14257” itu juga dikenakan kepada semua mitra dagang AS dan ditandatangani oleh Presiden Trump pada 2 April 2025 yang menyebutnya sebagai "Liberation Day”.

Namun sebenarnya peta baru geoekonomi ini lebih mengkonfirmasikan kekacauan geopolitik yang dimulai dengan invasi unilateral AS ke Afghanistan dan Irak yang disusul dengan pergolakan di berbagai negara timur tengah, perang Nagorno Karabakh, Sahel, Rusia-Ukraina sampai dengan Israel menghancur-leburkan Gaza dan Libanon yang masih berlangsung dan terakhir serangan brutal AS-Israel kepada Iran.

Tentu saja sangat banyak dugaan ataupun analisis dampaknya terhadap Indonesia, tetapi kita akan melihat bagaimana sebenarnya struktur ekspor Indonesia dan intensitas teknologi (kedalaman) ekspor Indonesia ke AS.

Secara umum ekspor Indonesia masih sangat dangkal berasal dari SDA dengan nilai tambah rendah, sedangkan yang berasal dari sektor manufaktur dengan nilai tambah sedang-tinggi masih sangat terbatas.

Sedangkan khusus ekspor kita ke AS memang meningkat dari tahun ke tahun sejak 1998 dan menunjukkan neraca surplus dan makin besar mencapai US$ 14 milyar pertahun sejak tahun 2021. 

Adapun jenis komoditas ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2024 dengan nilai lebih dari US$ 400 juta adalah mesin dan perlengkapan listrik sebesar US$ 1,2 milyar, alas kaki US$ 658 juta, pakaian dan asesorisnya US$ 1,1 milyar, minyak sawit US$ 507 juta dan perabotan/alat penerangan US$ 410 juta. Walaupun hampir seluruh ekspor ke AS sudah berupa produk manufaktur atau pengolahan, namun intensitas teknologinya rendah dan tentunya nilai tambahnya juga rendah.

Akhirnya Indonesia setuju menandatangi Agreement on Reciprocal Trade (ART),    dengan AS pada tanggal 20 Februari 2026 yang menurunkan tarif dari 32% menjadi 19%. Tapi pada hari yang sama Mahkamah Agung AS membatalkan seluruh kebijakan tarif yang dibuat Trump, sehingga Trump membuat lagi kebijakan baru dimana tarif menjadi 15%.

Dengan berbekal data-data diatas, jelas pengenaan tarif yang tinggi di AS akan berpengaruh dalam jangka pendek terhadap kinerja ekspor kita dan tentunya pada perkembangan industri kita sendiri. Namun yang lebih penting daripada tarif, adalah meneliti dan mengetahui seberapa penting ekspor kita terhadap ekonomi dan atau pengusaha importir di AS sendiri. 

Kedepannya kita perlu mendorong program pendalaman atau intensitas teknologi dari produk yang kita ekspor. Walaupun sudah dalam bentuk produk manufaktur tetapi jika masih berteknologi rendah yang biasanya bersifat padatkarya, maka akan lebih mudah bagi importir di AS memindahkan lokasi produksinya ke negara lain yang dikenakan tarif lebih rendah.

Jika produknya sudah berteknologi menengah tinggi, biasanya adalah “intermediate goods” yang bernilai tambah lebih tinggi dan tingkat elastisitas relatif rendah sehingga lebih sulit untuk dipindahkan. Tetapi kondisi ini lebih menjadi sasaran bagi AS untuk ditarik kembali atau dipindahkan ke AS sendiri karena dengan nilai tambah yang lebih tinggi, maka bisa dikerjakan dengan biaya SDM yang tiggi di AS.

Tsunami tarif oleh AS memperjelas peta geoekonomi sejak berakhirnya “Perang Dingin” yang ditandai dengan bubarnya Uni Soviet tahun 1991. Pergeseran geoekonomi sudah dirasakan saat terjadinya Krisis Keuangan Asia 97-98, Global Financial Crisis 2008, Great Recession 2007-2009 dan Pandemic COVID 2020-2021. Kegilaan yang kedua, walaupun bisa menduga, dunia tetap saja terkejut ketika Amerika Serikat (AS) benar-benar melakukan agresi militer terhadap kedaulatan negara lain dan pelanggaran hukum internasional dengan melakukan penculikan terhadap Presiden Venezuela dan istrinya di pagi buta tanggal 3 Januari 2026 di Caracas, Venezuela.

Presiden Donald Trump mengklaim Operasi Absolute Resolve adalah puncak dari Operasi Southern Spear ini sebagai "pertunjukan kekuatan militer paling presisi" yang dilakukan untuk membantu dan mengawal agen DEA dan FBI yang melaksanakan perintah pengadilan untuk  menangkap Presiden Maduro yang dituduh dan dipersangkakan menyelundupkan narkoba ke wilayah AS. Venezuela sebenarnya mempunyai alutsista dan kemampuan pertahanan yang cukup modern.

Pesawat tempur Venezuela itu bukan kaleng-kaleng yaitu Sukhoi Su-30MK2 buatan Rusia yang dipersenjatai rudal air-to-surface Kh-31, dan pesawat tempur terlaris F-16 Fighting Falcon (Block 15) yang walau dibeli dari AS pada era 1980-an, tetapi masih dioperasikan dengan bantuan suku cadang dari pasar gelap atau modifikasi Israel (rudal Python). Ada juga berbagai pesawat lain pendukung seperti Hongdu K-8 Karakorum pesawat latih tempur ringan buatan China yang sering digunakan untuk patroli wilayah dan serangan darat ringan.

Untuk pengawasan udara, Venezuela mengoperasikan berbagai lapisan radar mulai dari P-18-2M (NATO: Spoon Rest) buatan Rusia dengan sinyal VHF yang dikenal memiliki kemampuan untuk mendeteksi pesawat siluman (stealth). Kemudian JYL-1 & JY-27 buatan Tiongkok yang digunakan untuk pengawasan wilayah udara jarak jauh dan peringatan dini.

Pertahanan udaranya berupa sistem baterai rudal juga memiliki radar khusus 9S15M2 Bill Board dan 9S32ME Grill Pan (S-300VM) yang cukup canggih serta 9S18M1E Snow Drift (Buk-M2E)  yang lebih mobile. Sedangkan untuk pertahanan titik adalah Pantsir-S1 Radar dual-band  (EHF/UHF) yang bisa bergerak dengan cepat, digunakan untuk mendeteksi ancaman kecil seperti drone atau bom pintar yang mendekati pangkalan udara.

Jadi mengapa semua alutsita tersebut seperti lumpuh tanpa daya menghadapi "Operation Absolute Resolve" yang menurut AS berhasil dilaksanakan hanya dalam waktu 2 jam 20 menit ? Secara garis besar operasi militer ini dilaksanakan dalam 4 bagian atau tahapan sebagai berikut :

1. Pengalihan perhatian di Laut Karibia (Operation Southern Spear)

2. Mematikan Radar Total (Operation Absolute Resolve) dan melakukan serangan siber terhadap infrastruktur energi atau penggunaan bom pulsa elektromagnetik (EMP) skala kecil untuk mematikan sistem radar dan komunikasi militer secara instan. 

3. Serangan Udara Skala Besar (Saturasi) setelah sistem pertahanan udara canggih S-300VM dan 

Buk-M2E menjadi tidak berfungsi. F-35 dan F-18 yang dipandu EA-18 (jamming jarak dekat) melakukan pemboman kurang dari 30 menit, dengan target Bukit El Volcán (pusat komunikasi radar), Pangkalan Udara La Carlota dan kompleks militer Fuerte Tiuna (tempat tinggal Maduro).

Sementara helikopter AH-64, MH-6 dan AH-1Z melaksanakan penembakan menjaga perimeter dan menghancurkan baterei Buk-M2E dan kendaraan lapis baja yang membawa Pantsir-S1.

4. Operasi Kecepatan Tinggi (Delta Force) dilakukan oleh unit elit Delta Force (JSOC) dgn CH-47 dan MH-60 yang terbang sangat rendah untuk menghindari deteksi radar yang mungkin masih aktif di luar kota dan mengantisipasi penggunaan MANPAD Igla-S.

Ekstraksi Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang sangat presisi dari sisi tempat dan lokasi mengakibatkan gugurnya sekitar 30 orang pasukan pengawal pengamanan Presiden Maduro dan disebutkan juga ada beberapa orang pasukan atau agen AS yang terluka dalam pertempuran jarak dekat di kediaman Presiden. Presiden Maduro dan istrinya langsung diterbangkan keluar dari Venezuela dan berakhir di kantor DEA kota New York.

Sesuai dengan pernyataan Jenderal Dan Caine (Kepala Staf Gabungan AS) bahwa seluruh operasi ini melibatkan lebih dari 150 pesawat yang terintegrasi, menciptakan "kejutan total" yang membuat militer Venezuela tidak memiliki waktu untuk bereaksi sama sekali. “Keberhasilan” ini kemudian membawa ke kegilaan yang ketiga.

Kegilaan ketiga adalah serangan membabibuta brutal terhadap negara Iran ditengah perundingan atau negosiasi yang dilakukan Jared Kushner dan Steve Witkoff dengan Menlu Iran melalui perantara Menlu Oman. Perundingan sudah mencapai ronde kedua dan selesai tanggal 27 Februari ketika draft kesepakatan dibawa pulang masing2 delegasi ke AS dan Iran untuk mendapatkan persetujuan final dari kepala negara masing-masing.

Tetiba pada tanggal 28 Februari 2026 di awal bulan ramadan, hari Sabtu pagi sekitar pukul 09.40 waktu setempat terdengar ledakan besar di komplek perumahan (Beit Rahbari) kepala negara dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamanei di Teheran.

Serangan itu menandai dimulainya Operasi Epic Fury (Amerika Serikat) dan Operasi Roaring Lion (Israel) yang diumumkan secara resmi pada hari Sabtu, 28 Februari 2026. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Presiden Donald Trump yang menyatakan dimulainya kampanye militer besar-besaran untuk melumpuhkan infrastruktur nuklir, rudal balistik, dan komando militer Iran di berbagai kota di Iran, termasuk Teheran, Qom, dan Isfahan.

Serangan pertama Roaring Lion oleh jet tempur Israel dengan target kepemimpinan (decapitation strike) berdasarkan intelijen krusial CIA yang melacak pergerakan dan keberadaan Khamenei secara real-time, sementara Epic Fury oleh AS berfokus pada target militer dan infrastruktur strategis.

Jet tempur Israel dilaporkan menjatuhkan sekitar 30 bom presisi (termasuk rudal balistik yang diluncurkan dari udara seperti Sparrow) ke kompleks kediaman tersebut di distrik Pasteur, Teheran. Dalam 24 jam pertama, Israel mengklaim telah menjatuhkan lebih dari 1.200 amunisi dan menyerang sekitar 500 target strategis menggunakan lebih dari 200 jet tempur.

Satuan tugas Scorpion Strike dari CENTCOM menggunakan drone (one-way attack drones) berbiaya rendah untuk pertama kalinya dalam pertempuran. Sebelum dan selama serangan fisik, dilakukan serangan siber skala besar yang melumpuhkan jaringan komunikasi di seluruh Iran.

Berikut adalah rincian alutsista yang dikerahkan pada hari pertama serangan:

• B-2 Spirit (Stealth Bomber): untuk menjatuhkan bom pemusnah bunker 

• B-1B Lancer: sebagai "truk bom" dengan kapasitas angkut hingga 75.000 pon amunisi dalam misi nonstop lebih dari 30 jam dari pangkalan di AS F-22 Raptor: dari pangkalan udara Ovda di Israel selatan untuk menjalankan misi superioritas udara dan mengawal pesawat serang.

• F-35 Lightning II: Israel F-35I Adir, USAF F-35A dan Korps Marinir F-35C dari kapal induk USS Abraham Lincoln untuk misi penghancuran pertahanan udara musuh (SEAD). 

• F-15E Strike Eagle & F-16CJ Fighting Falcon: untuk serangan presisi dan penekanan radar pertahanan udara.

• A-10 Thunderbolt II: untuk dukungan udara dekat dan menyerang target darat.

• EA-18G Growler: peperangan elektronik yang melumpuhkan sistem radar dan komunikasi Dalam 36 jam pertama, lebih dari 3.000 amunisi digunakan oleh pasukan AS dan Israel :

• Tomahawk Land Attack Missile (TLAM): Ditembakkan dari setidaknya 14 kapal perusak dan kapal selam di Teluk Persia dan Laut Arab 

• GBU-57 (MOP): Bom berpemandu presisi seberat 30.000 pon yang dirancang khusus untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah yang sangat dalam.

• JASSM (Joint Air-to-Surface Standoff Missile): Rudal jelajah siluman yang ditembakkan dari jarak jauh di luar jangkauan pertahanan udara Iran.

• JDAM (Joint Direct Attack Munition): Kit pemandu yang mengubah bom "bodoh" menjadi bom pintar berpemandu GPS untuk serangan presisi.

• PrSM (Precision Strike Missile): Ditembakkan dari sistem darat HIMARS di pangkalan regional untuk menargetkan peluncur rudal Iran.

• LUCAS One-Way Attack Drones: Drone bunuh diri berbiaya rendah yang digunakan secara massal untuk menjenuhkan sistem pertahanan udara Iran.

Laporan menyebutkan adanya korban jiwa di kalangan warga sipil, termasuk insiden tragis yang menghantam sekolah dasar di Minab yang menewaskan banyak anak-anak dan juga para orang tuanya yang datang untuk menolong.

Tetapi gugurnya pemimpin tertinggi dan banyak petinggi militer dan sipil Iran pada hari pertama, sama sekali tidak mengurangi kemampuan Iran untuk bereaksi sangat cepat dengan membalas serangan ke Israel dan semua pangkalan AS di wilayah teluk persia.

AS-Israel merasa sudah menguasai udara Iran tanpa perlawanan (air superiority). Hampir semua kota besar dan 5000 lokasi strategis berhasil dibom dan dihancurkan AS-Israel tetapi Iran secara asimetrik meluncurkan ribuan balistik misil jarang dekat maupun sedang dan drones dalam 100 gelombang ke Israel dan seluruh pangkalan militer dan aset AS di UAE, Qatar, Bahrain, Kuwait, Irak dan Arab Saudi. Gencatan Senjata terjadi setelah 40 hari peperangan brutal dan perundingan tanggal 11 April berakhir tanpa hasil. 

Walaupun perundingan pertama di Islamabad tanggal 11 april 2026 belum membuahkan hasil, semoga perundingan kedua yang masih diperantarai oleh Pakistan bisa membuahkan hasil atau memperpanjang gencatan senjata. Tentu seluruh dunia berharap tidak terjadi perang lagi dan perdamaian di kawasan teluk persia bisa langgeng.F. Harry Sampurno, Ph.D

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas