indonews

indonews.id

Mengenal Reza Pahlavi yang Serukan Rakyat Iran Rebut Kota, Klaim Revolusi Nasional Hampir Menang

Pemimpin oposisi Iran, Reza Pahlavi, menyerukan warga Iran untuk terus melakukan unjuk rasa dan merebut pusat-pusat kota di seluruh negeri. Seruan tersebut disampaikan Pahlavi melalui sejumlah video yang direkam di Amerika Serikat dan diunggah ke media sosial.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Pemimpin oposisi Iran, Reza Pahlavi, menyerukan warga Iran untuk terus melakukan unjuk rasa dan merebut pusat-pusat kota di seluruh negeri. Seruan tersebut disampaikan Pahlavi melalui sejumlah video yang direkam di Amerika Serikat dan diunggah ke media sosial.

Dalam pernyataannya, Pahlavi menegaskan bahwa gerakan rakyat Iran saat ini telah memasuki fase baru. Menurutnya, aksi tersebut bukan lagi sekadar demonstrasi, melainkan perjuangan untuk meraih kemenangan dalam apa yang ia sebut sebagai “revolusi nasional”.

“Rakyat Iran kini harus mulai bersiap untuk merebut pusat-pusat kota,” ujar Pahlavi dalam salah satu video tersebut.

Pada Senin (12/1), Pahlavi kembali mengunggah video yang berisi seruan kepada aparat keamanan Iran agar bergabung dengan rakyat dalam melawan rezim Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Ia memperingatkan bahwa aparat yang tetap setia pada rezim akan dianggap sebagai “target yang sah”.

Selain itu, Pahlavi juga mendesak seluruh kedutaan besar Iran di luar negeri untuk mengganti bendera Republik Islam Iran dengan bendera Iran sebelum Revolusi 1979. Ia menegaskan bahwa “kemerdekaan Iran sudah dekat” dan mengklaim bantuan internasional akan segera datang.

Reza Pahlavi merupakan Putra Mahkota terakhir Kerajaan Iran sekaligus Kepala Dinasti Pahlavi yang kini hidup di pengasingan di Amerika Serikat. Ia lahir pada 31 Oktober 1960 dan dinobatkan sebagai putra mahkota pada 1967.

Pada 1978, saat berusia 17 tahun, Pahlavi meninggalkan Iran untuk mengikuti pelatihan pilot di Pangkalan Angkatan Udara Reese, Lubbock, Texas. Setahun kemudian, ayahnya, Mohammad Reza Pahlavi, digulingkan dalam Revolusi Iran yang melahirkan pemerintahan teokrasi di bawah ulama Syiah.

Sejak penggulingan tersebut, keluarga Pahlavi hidup di pengasingan. Mohammad Reza Pahlavi meninggal dunia di Mesir akibat kanker, sementara Reza Pahlavi kemudian mengambil peran simbolis sebagai kepala dinasti. Ia menetap di AS, menempuh pendidikan ilmu politik, menikah dengan Yasmine Etemad-Amini, dan dikaruniai tiga orang putri.

Nama Pahlavi kerap menjadi sorotan internasional, terutama setelah kunjungannya ke Israel pada 17 April 2023. Lawatan itu disebut sebagai upaya membangun kembali hubungan historis Iran dan Israel. Ia menghadiri upacara Hari Peringatan Holocaust, mengunjungi Tembok Barat, serta bertemu Presiden Israel Isaac Herzog dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Namun, dukungannya terhadap Israel menuai kritik tajam, terutama setelah Iran dan Israel terlibat perang selama 12 hari pada Juni 2025. Sejumlah tokoh oposisi Iran, termasuk beberapa tahanan politik terkemuka di Teheran, menyebut Pahlavi sebagai “pengkhianat”.

Meski demikian, Pahlavi menegaskan dirinya tidak berniat memulihkan monarki Iran. Ia mendorong penggulingan rezim Ayatollah Ali Khamenei melalui referendum yang memungkinkan rakyat Iran secara bebas menentukan sistem politik yang mereka inginkan.

Saat gelombang demonstrasi besar melanda Iran pada 2022 menyusul kematian Mahsa Amini, Pahlavi secara terbuka mendukung aksi tersebut dan menekankan pentingnya perjuangan tanpa kekerasan. Kala itu, sejumlah demonstran bahkan meneriakkan slogan dukungan agar Pahlavi memimpin Iran.

Dalam gelombang unjuk rasa terbaru, Pahlavi menyatakan kesiapannya untuk kembali ke Iran seiring dengan meningkatnya dukungan publik terhadap dirinya.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas