indonews

indonews.id

HUT Ke-26 Indemo, Hariman Siregar: Bukan Cari Pemimpin Kuat tapi Memperbaiki Institusi

Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews

Jakarta, INDONEWS.ID - Aktivis bukan ingin merubah negara tapi memperbaiki institusi semakin baik, upaya itupun tak boleh kendor tapi terus diperjuangkan. Hal itu pun diingatkan Hariman Siregar saat Indemo merayakan HUT ke-26 sekaligus peringatan peristiwa Malari 1974, menurutnya situasi saat ini mirip 1998 maka aktivis pun tak boleh terlena tapi bergerak terus. 

Peringatan Hari Jadi Ke-26 Indemo dan peringatan ke-52 peristiwa Malari 15 Januari 1974 di Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta. Hadir puluhan aktivis dari beberapa generasi, eks pejabat negeri, seperti mantan Ketua KPK Taufiequrrachman, eks sekretaris BUMN Said Didu, dan Pemred indonews.id Asri Hadi yang sesama alumni UI dengan Hariman Siregar tokoh Malari. 

Acara dimulai sekitar pukul 12.30 diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, usai lagu kebangsaan dikumandangkan, tokoh pergerakan Hardiman Siregar didapuk memberikan 'tausiah' kebangsaan menyambut hari Ulangtahun Indemo. 

Dikatakan,  saat ini situasi kita mirip dengan kondisi tahun 1998, saat kita dipimpin militer dan saat ini pun seperti itu meski tak begitu terlihat.  Kantor sipil pun kini militer masuk, padahal hal itu sudah dibatasi Undang-Undang. 

Menurutnya, untuk memperbaiki institusi kita tak boleh 'tidur', harus tetap bergerak. Dan kita bukan mencari pemimpin kuat tapi mencari institusi yang kuat agar, keberadaan mereka untuk mensejahterakan masyarakat bukan melayani pemimpinnya. 

Lalu Hariman teringat saat ia mengunjungi salah satu negara di Amerika Latin, saat itu situasi dunia berubah saat Uni Soviet membuka diri dengan slogan Glasnot dan Prestorika. Hampir rata-rata negera komunis mengikuti jejak US, namun ada akitivis Polandia yang bertekad tetap melakukan kontrol pada penguasa meski kondisi negaranya berubah. 

Pernyataan itulah yang menginspirasi dirinya mendirikan Indemo, karena ingin terus memperbaiki institusi di negeri ini untuk kesejahteraan masyarakat. "Kita bukan mencari pemimpin yang kuat, tapi kita ingin institusinya yang kuat", tambahnya menegskan. 

Sementara Rektor Universitas Paramadina melalui pesan tertulisnya yang dibacakan Wakil Rektor mengatakan, tema acara korupsi menghancurkan negara, Demokrasi dan Ekologi sejalan dengan pendidikan di kampusnya, yaitu pencegahan korupsi. 

Mahasiswa Paramadina wajib mengikuti mata kuliah pencegahan korupsi, mata kuliah ini pihaknya bekerjasama dengan KPK. "Kita juga berharap semua kampus juga memberikan mata kulaih tersebut, sehingga begitu masuk dunia kerja sudah paham rambu-rambunya", tambahnya.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas